Ini mungkin sebuah resensi singkat. Tapi dapat juga hanya sebuah narasi pendek.
Ini tentang buku ‘Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam’ karangan Graham E. Fuller. Terjemahan dari buku aslinya A World Without Islam yang dirilis tahun 2010. Di indonesia buku ini diterbitkan Mizan. Cukup tebal, 403 halaman termasuk kata pengantar dan index.
Untuk sebuah buku pemikiran, buku ini unik. Membahas tentang semacam hipotesis bagaimana jika Islam tidak pernah ada. Apakah kondisi dunia akan sama seperti sekarang? Penulisnya mencoba membahas celah itu. Sekilas terlihat sebagai buku yang tendensius. Namun jika dibaca, logikanya masuk dan rasional. Tendensius? Ternyata tidak. Cukup berimbang saya rasa.
Jadi apa yang dibicarakan oleh buku ini? Dari awal buku ini membahas semacam review sejarah benturan Timur dan Barat sejak masa-masa awal. Bentuk konflik Timur dan Barat sudah jauh sebelum islam hadir. Siapa Barat? Yang saya tangkap Barat itu adalah Roma Latin dan Timur itu Konstantinopel. Lainnya menyebutkan Barat itu Katolik Roma dan Timur itu Kristen Ortodoks. Kedua entitas ini selalu berbenturan. Lima ratus tahun kemudian Islam muncul dan masuk menjadi kompetitor. Lalu kemudian berbagai peristiwa sejarah silih berganti dan menempatkan islam pada posisi yang selalu unik. Bagaimana sebenarnya Perang Salib terjadi dan apakah akan tetap ada “perang salib” jika Islam tidak ada? Kemudian hubungan Islam dengan Rusia, Cina dan India. Buku ini menempatkan bahwa konflik yang terjadi dengan 3 negara adidaya itu lebih bersifat entnik. Maksudnya jikapun islam tidak ada, konflik tersebut tetap akan terjadi.
Buku yang rumit sih. Memandang sebagian besar topiknya dari sisi yang benar-benar general. Tapi bagi saya ini semacam refreshing dari buku-buku textbook.
Begitu.
