auliarahman.id

  • APA ITU BEDAH JANTUNG?

    June 19th, 2020

    Mendengar frasa bedah jantung bagi sebagian orang terdengar menakutkan. Karena berhubungan dengan organ paling vital pada tubuh. Jantung adalah organ yang dipersepsikan sebagai tanda kehidupan. Jantung berdetak pertanda seseorang masih hidup. Jantung yang berhenti adalah pertanda buruk. Sehingga apapun kondisi yang berhubungan dengan jantung akan dianggap sebagai sesuatu yang teramat sangat penting dan sebisa mungkin jangan diusik, karena resiko adalah antara hidup dan mati.

    Namun, berita buruknya, jantung adalah organ tubuh yang paling beresiko menimbulkan morbiditas (kena sakit) dan mortalitas (kematian) pada seseorang. Penyakit jantung koroner adalah pembunuh nomor satu di dunia saat ini. Pada penyakit ini terdapat sumbatan pada pembuluh darah koroner (pembuluh darah yang menyalurkan oksigen dan nutrisi untuk jantung agar dapat berdetak) sehingga membuat fungsi jantung menjadi menurun, dengan gejala utama yang paling sering yaitu nyeri dada. Selain jumlah kasus yang terus bertambah, rataan usia penderitanya semakin muda dari tahun ke tahun. Penyakit jantung katup (klep jantung) juga semakin banyak diderita. Begitu pula penyakit jantung bawaan, terutama pada anak-anak. Hal ini tentu perlu mendapatkan perhatian yang serius dari kita semua.

    Lalu apa kaitannya dengan Bedah Jantung? Salah satu modalitas atau cara penanganan penyakit jantung adalah dengan bedah jantung. Sering kita mendengar istilah operasi bypass atau operasi ganti katup. Kedua jenis operasi ini adalah operasi jantung.

    Operasi bypass adalah istilah lazim untuk bedah pintas koroner ( Coronary Artery Bypass Graft atau CABG). Operasi ini bertujuan untuk membantu pasien yang menderita penyakit jantung koroner dengan cara membuat bypass /jalur pintas aliran darah melewati sumbatan koroner dengan menggunakan pembuluh darah dari pasien sendiri (graft). Outcome atau hasil dari operasi ini sangat baik. Operasi katup adalah jenis operasi jantung yang bertujuan untuk memperbaiki atau mengganti katup (lazim disebut ‘klep’) jantung yang mengalami kerusakan. Operasi jantung juga dapat dilakukan untuk pasien yang didiagnosis dengan penyakit jantung bawaan sejak lahir. Sehingga kelainan yang ditemukan dapat segera dikoreksi sehingga jantung dapat berfungsi normal atau paling tidak ‘mendekati’ normal.

    Operasi ini dilakukan oleh sebuah tim yang terdiri dari dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiak dan Vakular (Sp. BTKV), dokter Spesialis Anestesi khusus Bedah Jantung, dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah, perawat anestesi dan perawat bedah dan perfusionist yang mengoperasikan mesin pintas jantung paru. Pasca operasi pasien akan ditangani bersama oleh tim diatas bersama dokter konsultan intensivis dan perawat di ruangan ICU dan ruangan biasa,  hingga akhirnya pasien dapat berobat jalan. Bidang spesialis lain tentu juga berperan jika terdapat kondisi terkait yang memerlukan konsultasi. Nutrisi pasien ditangani dokter Spesialis Gizi Klinik dan pemulihan pasien ditangani oleh Spesialis Rehabilitasi medik. Nutrisionis, fisioterapis,petugas administratif dan petuga teknis lain semua berkolaborasi hingga pasien dapat menjalani operasi dengan lancar dan kembali pulih.

    Saat ini bedah jantung telah jauh berkembang. Berbagai Teknik baru telah dikembangkan. Masa rawatan pasien semakin pendek. Penangana nyeri pasca operasi yang optimal. Pemulihan setelah pulang dari rumah sakit sangat terkontrol. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir dan bingung lagi tentang bedah jantung jika suatu ketika membutuhkan layanan ini.

  • Kisah Bubur Ayam

    June 6th, 2020

    Kawan, ini kuceritakan salah satu kisah paling dramatis dan menggugah dalam hidupku. Semoga dapat diambil hikmah dan suri tauladan yang baik darinya. Amin. Agak lebay. Ya, aku juga tau. Harap maklum.

    Ini zaman dulu kawan. Masa SMA. Zaman saya masih belum tau kerasnya kehidupan. Meskipun, sekarang tak keras-keras betul. Ah, sudahlah.

    Waktu itu, selepas sekolah, kulihat ada gerobak jualan baru mangkal. Setelah mendekat sedikit, kubaca tulisannya. Oo, mereknya ternyata BUBUR AYAM. Sedap nih, pikirku. Lansunglah yang terbayang macam mie ayam. Berkuah, gurih, ada potongan ayam yang besar, sayur dan kerupuk. Serius. Begitu bayanganku dulu tentang sosok bubur ayam. Semacam surga dunia makanan bagi anak SMA kere macamku. Begitu.

    Jadilah, aku janji pada diriku sendiri, besok pagi sebelum berangkat latihan sepakbola, Aku, musti sarapan disini. Oke sip. Pulanglah aku. Siap-siap untuk kelezatan besok pagi.

    Pagi besoknya, setengah jam lebih awal aku berangkat. Lansung mampir di tempat abang jual bubur ayam. Duduk, dan lansung kupesan. ” Bang, bubur ayam satu!”. Sudah tak sabar aku cicipi makanan hebat ini.

    Sebentar saja, bubur ayamnya selesai. Ditarok di meja ku. Kuambil sendok garpu. Dan..

    Tiba-tiba kuterdiam

    …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

    ($&$**)*#$*$_#(#@*)#@) ?*%&(#*&…………………………

    … ternyata, bubur ayam itu adalah N.A.S.I L.U.N.A.K !!!!

    Asli. Terdiam aku.Tak kusangka sedikitpun kalau bubur ayam itu adalah nasilunak, BUBUR NASI. Makanan yang paling tak kusuka. Bahkan ketika sakit pun takkan mau kumakan. Nasib.

    Jaga gengsi terpaksalah kuicip-icip sedikit. Habis juga sepertiga. Tak tahan perutku. Mual dibuatnya. Lansung cabut setelah bayar.”Nih, bang. Makasih bang”. Masih banyak sisanya, kutak peduli. Perutku sudah berulah. Tak mau kompromi dia.

    Kukebut ke sekolah. Didepan sekolah. Hoooeeeeeekk!! Aku MUNTAH. Betul, MUNTAH-MUNTAH !!

    Keluar semua yang dimakan tadi. Lemes betul aku. Tapi kupaksakan latian bola. Karena jaman itu, latian bola segalanya bagiku. Dengan badan lemas, tetap ku latian.

    Ampun.

    Sejak kejadian itu, tak pernah lagi kumakan bubur ayam. Tak pernah sekalipun. Catat itu. Sampai sekarang pun begitu. Bahkan dirumah mertua pun kutolak. Hebat kan. Mana ada orang berani nolak makanan dirumah mertua. Begitulah, saking tak sukanya aku.

    Demikian kawan, kisah romantis, dramatis dan menggugahku dengan bubur ayam. Bukan bermaksud mendiskreditkan bubur ayam. Bukan pula mengajak kawan-kawan tinggalkan bubur ayam. Apalagi mendemo tukang bubur ayam karena solidaritas kepadaku. Bukan. Akunya saja yang bego, gak tau kalau bubur ayam itu begitu 🙂

    Sekian. Terima kasih dan terima kado.

  • When Breath Become Air

    June 6th, 2020

    Pertama kali saya melihat buku ini di Kinokuniya. Harganya 14 dolar US. Mahal.

    Kemudian saya coba googling Amazon, versi Kindle-nya lebih murah. Jadi saya putus kan beli yang Kindle saja.

    Saya sudah membaca hampir seluruh buku Atul Gawande. Complication, Checklist Manifesto, Being Mortal dan Better. Buku ini awalnya saya pikir mirip dengan itu. Apalagi kedua penulisnya sama-sama dokter bedah. Atul Gawande bedah endokrin dan Paul Kalanithi bedah saraf. Pun keduanya peranakan India. Ternyata berbeda sama sekali.

    Buku ini merupakan semacam autobiografi. Ditulis ketika Paul terdiagnosis kanker paru stadium 4. Ketika itu dia masih bestatus chief residen, sekaligus seorang peneliti berprestasi di Stanford. Manuskrip buku ini sebenarnya tidak sepenuhnya selesai. Karena kondisi Paul yang semakin memburuk hingga akhirnya meninggal. Meninggalkan seorang istri, Lucy,– yang menulis epilog dibuku ini- dan putrinya yang masih berusia 8 bulan, Cady.
    Paul menceritakan berbagai hal. Masa kecilnya di Arizona, kenapa dia tertarik masuk dunia kedokteran, sebagai keputusan akhir dalam usahanya memahami secara jelas tentang hakikat kematian. Proses yang dijalani ketika menjadi seorang mahasiswa kedokteran. Deskripsinya tentang kuliah anatomi dan praktik dengan kadaver sangat luar biasa dengan bahasa yang terkadang kosakatanya harus saya highlight dulu untuk mecari artinya. Ceritanya tentang kegiatan sebagai residen juga mengagumkan. Mungkin karena sedang dalam posisi yang sama, saya lebih mudah memahaminya.

    Namun inti dari buku ini adalah bagaimana Paul menghadapi kondisinya yang ‘dianugerahi’ kanker tersebut. Seorang calon dokter bedah saraf dan professor di Stanford,-selain juga ditawari oleh banyak pusat bedah sarah dan neuroscience Lab di US- tetiba dihadapkan pada kondisi yang mencabut semua harapan tesebut. Menjalani hari-hari terakhirnya dengan elegan dan bernilai. Meskipun pada akhirnya kematian juga yang menang. Bagaimana dia dan istrinya bersama melewati kondisi tersebut. Bagaimana dukungan keluarga dan koleganya dalam memberi dukungan. Semua diceritakan dengan bahasa yang menakjubkan

    Buku yang sangat indah. Saya merasa impas. Karena membaca buku ini awalnya adalah pelarian saya dari beban penyelesaian tugas akhir tesis yang memusingkan. Tapi saya menganggap ini sepadan. Dan, oh iya, saya jarang menangis. Hanya pada kondisi tertentu. Tapi kali ini, itu terjadi ketika membaca akhir dari tulisan Paul Kalanithi ini. Pesannya sangat kuat. Mohon maaf.

  • The Emperor of All Maladies : A Biography of Cancer

    June 6th, 2020

    The Emperor of All Maladies : A Biography of Cancer.– Sidharta Mukherjee

    Pertama kali melihat buku ini di kosan adik saya Muhamad Arif . Covernya bagus. Warna coklat muda, ada kepitingnya. Gak tau udah dibaca apa belum. Diniatin beli Kindle-an nya aja. Karena yakin ini buku gak mungkin selesai sekali baca dan gak mungkin dibawa-bawa terus. Berat.

    Akhirnya beli. Dan ternyata memang berat. Bahasannya tapi.

    Kanker dalam buku ini bener-bener dikulik detail. Bukan dengan jabaran rumit, namun dengan penuturan yang menarik. Dari awal sampai ujung. Betul-betul kayak lagi baca biografi. Sesuai dengan tagline “Biography of Cancer”.

    Kanker adalah penyakit kuno. Buku ini mencatat pada era 2600 SM, Imhotep di catatan papirusnya sudah mendeskripsikan tentang ” benjolan besar, keras, padat, dan merata dibawah kulit pada payudara”. Ini dianggap sebagai deskripsi tertulis pertama tentang kanker. Dari 48 laporan kasus pada papirus tersebut, hanya kasus ini yang tanpa terapi. Dia hanya menuliskan “Tidak ada obat”. Jadi, kanker pada manusia adalah penyakit sekuno itu.

    Topik buku ini memang berat. Namun penulisnya menyajikan dengan bahasa sederhana. Saya jadi paham perjalanan hebat memerangi kanker. Tidak hanya kontekstual medis dan bedah saja. Namun ternyata lebih luas dari itu.

    Banyak juga fakta-fakta unik yang saya juga baru tau dari buku ini. Galen dimasa Yunani kuno telah menuliskan tentang “black bile’ yang mereferensi pada penyakit yang pada masa sekarang merujuk pada kanker darah. Sir William Halsted, yang dianggap sebagai Bapak Ilmu Bedah Modern, dimasa-masa awal operasi kanker payudara benar-benar dianggap ‘dewa’ meskipun operasinya betul-betul radikal berdasarkan sudut pandang masa sekarang. Bagaimana perjalanan Sydney Farber, si Bapak Kemoterapi, memulai terapi pada leukemia dengan antifolat pertama PAA tahun 1947 dengan sebuah trial yang dramatik. Bagaimana perjalanan konsep karsinogenik yang dulu dianggap tidak mungkin. Rokok juga dulunya tidak dianggap berbahaya. Bahkan rokok dibagikan secara gratis di pertemuan dokter tahunan AMA -semacam IDI-nya Amerika- tahun 50-an saking biasanya. Panjang antrian booth-nya. Bagaimana perjuangan melawan kanker dari berbagai cabang ilmu kedokteran. Paru, urologi, kulit, getah bening, otak, payudara, endokrin, darah dan lainnya. Kisah perang dengan kanker juga disajikan dari berbagai aspek kehidupan. Sosial, budaya, ekonom, politik dan geografis. Luas sekali.


    Buku ini benar-benar menarik. Bagi teman-teman yang berkecimpung dalam dunia medis, bahkan yang setiap hari spesifik berhadapan dengan kasus kanker sekalipun akan menemukan nuansa baru atau paling tidak menemukan perspektif yang berbeda dalam melihat kanker.

    Pengen nulis banyak. Tapi udahlah ya. Baca aja.

    Oya, ini buku Peraih Pulitzer 2011 kategori Nonfiksi. Jadi, yaa, TOPlah.

  • Matinya Kepakaran

    June 6th, 2020

    Resensi buku Matinya Kepakaran (The Death of Expertise). Penulisnya adalah Tom Nichols, seorang profesor di US Naval Colleege War dan Harvard Extension School Tom Nichols.

    Saya pernah melihat bahasan buku ini di sebuah laman rekan di facebook. Kemudian saya beli versi Kindle-nya. Belum sempat dibaca. Ketika melihat versi cetaknya, baru buku ini tuntas.

    Jika ada tingkatan ekspresi setelah baca buku, saya ada dikelompok ” i felt so relieved after reading this book“. Buku yang luar biasa.

    Sangat menarik. Kalimatnya banyak yang menohok. Saya sebelumnya belum pernah membaca tulisan Tom Nichols. Jadi tidak terlalu mengenal gaya penulisannya, yang ternyata keras dan tajam sekali. Sesekali diselipkan joke cerdas.

    Dijabarkan di buku ini bahwa sekarang terlalu banyak dari kita yang bertingkah seolah-olah menjadi pakar atas segala sesuatu. Apakah penyebabnya internet? Buku ini menjawab, bisa saja. Namun tidak bisa menyalahkan sepenuhnya internet. Banyak faktor dan kondisi lain yang terlibat. Banyak orang merasa ahlihanya dengan melihat atau membaca beberapa artikel antah-berantah . Kemudian mulai berargumentasi tak tentu arah. Bahkan terkadang menyalahkan seorang pakar yang telah bertahun-tahun mendalami bidang tesebut.

    Dalam buku ini juga dijelaskan tentang pengaruh kebiasaan penggunaan mesin pencari seperti Google dan Yahoo! yang juga menjadi tantangan besar dalam masalah kepakaran. Setiap orang seakan merasa cukup ilmu untuk mematahkan argumentasi dari seorang pakar hanya bermodalkan satu dua klik info dari mesin pencari. Dan terlalu banyak informasi yang beredar. Bahkan tidak tau lagi mana informasi yang benar dan salah

    Satu hal lagi yang menarik adalah buku ini juga membahas dengan Teori Konspirasi. Teori konspirasi adalah sebuah kegiatan ‘intelektual’ yang menantang. Dibutuhkan orang yang cukup pintar untuk membuat sebuah teori kospirasi yang baik. Setiap jawaban dan sanggahan terhadap sebuah teori konspirasi hanya akan menghasilkan teori yang semakin rumit. Ketiadaan bukti yang diajukan sebagai konfrontasi terhadap sebuah teori konspirasi akan diarahkan menjadi penekanan bahwa teori konspirasi itu semakin meyakinkan. Aneh memang.

    Satu alasan banyak orang menyukai teori konspirasi adalah karena hal tersebut memuaskan hasrat heroik kita. Dengan mengiyakan teori-teori tersebut, seakan kita yang kecil ini sedang melawan sebuah hegemoni raksasa. Teori konspirasi ini sangat menarik bagi orang-orang yang kesulitan memahami dunia yang rumit dan tidak memiliki kesabaran untuk sebuah penjelasan yang tidak dramatis. Teori konspirasi juga menarik bagi orang-orang yang lebih memilih percaya pada omong kosong dari pada menerima fakta bahwa ada hal-hal yang berada diluar pengetahuannya. Berdebat panjang dengan penganut teori konspirasi bukan hanya tidak bermanfaat, melainkan juga kadang berbahaya. Hanya akan membuat lelah. Bahkan bagi seorang pakar sekalipun.

    Ada kutipan menarik pada bab-bab akhir buku ini. “Bahkan ketika semua pakar sepakat (tentang suatu hal), mereka masih mungkin salah”, sebuah kutipan dari Bertrand Russel. Banyak sekali contoh kasus dimana pakar salah. Kasus runtuhnya Uni Soviet, penyatuan Jerman Barat dan Jerman Timur, perkara Thalidomide, masalah telur yang pernah disebut makanan berbahaya dan sebagainya. Mengapa bisa salah? Bukannya pakar adalah ahli dalam hal yang dipakarinya? Buku ini menjelaskan bahwa pakar tidak mungkin tidak bisa salah. Bahkan sangat mungkin. Pakar sebenarnya juga tidak dalam posisi untuk memprediksi segala hal. Pakar bekerja dengan sains. Dan tugas sains adalah menjelaskan, bukan memprediksi. Namun yang paling penting kesalahan yang dibuat itu tidak serta merta menghilangkan kepakarannya. Dan tidak serta merta pula kita -masyarakat awam – tetiba menganggap sejajar atau bahkan lebih pintar dari pakar, karena hanya karena satu dua kesalahan tersebut.

    Terkait kebijakan publik yang tidak populer atau gagal juga dijelaskan oleh penulis. Pakar tidak lansung menjadi eksekutor atas pandangan atau sarannya terhadap sebuah kebijakan. Pengambil keputusanlah yang mengeksekusi. Sebut saja namanya pemerintah atau eksekutif atau apalah. Namun terkadang kenyataan lapangan berbeda, atau pengambil keputusan tidak menjalankan seperti apa yang disarankan oleh para pakar. Pada akhirnya kepercayaan masyarakat terhadap pakarlah yang dikorbankan. Tentu sangat disayangkan.

    Matinya kepakaran adalah ancaman berat bagi kehidupan. Kita tidak bisa hidup tanpa para pakar. Kita juga mungkin saja adalah pakar dalam bidang kita. Namun ketika bertindak sebagai awam, kita tidak bisa membiarkan ancaman terhadap kepakaran berlansung didepan mata. Kita harus lebih rendah hati, variatif, mengurasi sinisme dan lebih selektif. Pakar tentunya lebih mampu memperbaiki satu dua kesalahan yang dibuat. Mungkin saja dengan menjadi lebih rendah hati untuk berkata tidak, jika tidak tau atau tidak serta merta tergiur memberikan argumen diluar kepakaran kita.

    ah, bagus sekali buku ini. Baca sendiri ya.

  • Apakah harus S3?

    June 29th, 2025

    Belakangan saya dipusingkan tentang perkara apakah saya harus masuk S3 semester ini atau tidak. Perlu diketahui, gambaran S3 yang ada saat ini sangat berbeda dengan S3 yang saya bayangkan ketika dulu sebelum kuliah. Saya membayangkan orang yang sedang kuliah S3 tersebut, betul-betul superior. Pokoknya seharian meneliti. Ketika itu saya tidak memperhitungkan faktor-faktor lain. Dalam artian, orang yang sedang menjalani S3 tersebut, pasti sedang fokus untuk menjalani pendidikannya. Tidak memikirkan hal lain dalam hidupnya. Kesehariannya pasti bagaimana agar segera menjadi seorang lulusan S3 dan memperoleh gelar Doktor. Lalu selanjutnya menjadi seorang Profesor.

    Dan sekarang, saya melihatnya dalam sudut padang yang sangat berbeda.

    Entah mengapa, nilai S3 ini seakan tereduksi dimata saya. Gelar yang diperoleh seakan tidak sepadan dengan kapasitas keilmuan yang diperoleh. Impact yang dihasilkan dari gelar tadi tidak signifikan terhadap realitas kehidupan. Mungkin saya salah mengukurnya. Jika mau sportif, tentu saya juga harus menilai seberapa banyak profesor di negeri ini, namun nyatanya juga begitu-begitu saja. Lulusan S3 ini ada lokal ada yang internasional. Yang lokal sebutannya Doktor, yang internasional Ph.D. Lebih bonafid tentunya yang Ph.D. Banyak yang protes mungkin, namun ya terima saja. Bahwa yang Ph.D akan lebih ‘S3’ dibanding yang doktor. Mohon maaf yaaa. No Offense.

    Selain itu orang yang menjalani S3 ternyata tidak segitunya juga fokus disana saja. Mereka menjalani kehidupan lain yang sama dengan kebanyakan orang. Tetap bekerja. Berpenghasilan. Mengurus keluarga. Bermasyarakat. Semuanya. Dokter spesialis tetap praktek dan operasi. Dosen tetap mengajar. Yang punya aktifitas profesional lain tetap berjalan seperti biasa..

    Lalu pertanyaannya, tetap mau lanjut S3 kah Aulia?

    Entahlah.

  • Menjelang Empat Puluh

    June 27th, 2025

    Sebuah quote singkat yang baru kemarin terdengar dari sebuah potongan podcast lucu-lucuan hari ini semakin jadi kepikiran. Kok bener juga ya. Kalimatnya begini : ‘Saat udah masuk usia 40-an, kompetisi kita bukan dengan orang lain atau sekitar kita, tapi dengan diri kita sendiri.’ Kemudian diikuti oleh beberapa pernyataan yang menguatkan kalimat ini dan beberapa candaan yang seakan ini sebenarnya cuma statement dadakan buat ngiis obrolan. Namun, kok nyangkut ya.

    Berkompetisi dengan orang lain dan lingkungan sekitar tidak akan ada habisnya. Semu jika berpikir akan ada momen kemenangan abadi saat berkompetisi dengan orang lain. Siklus kompetisinya akan terus berputar dan bergulir. Jika masih dewasa muda, mungkin saja masih akan relevan. Namun jika ada faktor usia disana yang menjadi ukuran, kompetisi yang paling realistis adalah dengan diri sendiri.

    Biasanya jika ada pemikiran baru yang muncul dalam kepala, saya akan mncoba mencari referensi bacaan yang mendukung. Buku, artikel dan lain sebagainya. Namun kali ini belum. Saya coba tumpahkan dahulu di Blog ini.Takut lupa.

    Dalam konteks usia saat ini yang sebentar lagi akan kepala empat, beban akan semakin banyak. Penting untuk membuat prioritas apa yang perlu ditopang oleh badan dan kepala. Berkompetisi dengan orang lain, sepertinya tidak perlu menjadi salah satu beban tersebut. Cukup dengan diri sendiri

    Berkompetisi dengan diri sendiri saya rasa berkaitan dengan seberapa berkembang kita dari waktu ke waktu. Kompetisi dengan saya yang sebelumnya. Pencapaian hari ini sudah seberapa jauh dibandingkan dengan kemarin. Isi kepala saya siang ini apa sudah lebih penuh dibandingkan dengan tadi pagi. Penghasilan saya bulan. ini apakah lebih banyak dibandingkan bulan lalu. Infaq sedekah saya jumat ini apakah sudah lebih ikhlas dibanding jumat pekan lalu. Saya pikir konsep kompetisi dengan diri sendiri itu yang seperti ini.

    Konsep yang bagus. Meskipun terlihat egosentris. Namun, di usia 40-an, memang harus mulai lebih banyak memikirkan diri sendiri. Hidup tidak lama, harus memanfaatkan waktu dengan optimal.

  • Alfath Aulia

    April 21st, 2024

    Anak ketiga. Laki satu-satunya. Akhirnya Abi ada teman. Namanya Alfath Aulia. Lahir 16 Oktober 2019. Persalinan normal di RS Bunda Padang. Alfath ini bisa dibilang sudah anak Spesialis. Karena kami berdua -saya dan istri- keduanya sudah menyelesaikan pendidikan. Berbeda dengan Aisha yang anak pertama, kami berdua masih berstatus residen/PPDS. Untuk Athifa sedikit berbeda. Saya masih menjalani pendidikan di Jakarta, istri sudah selesai. Jadi Athifa separoh-separoh. Entah ada hubungan atau tidak. Karakter mereka berbeda ketiganya. Aisha lebih tangguh dan cukup ekstrovert, Athifa lebih organize, dan si bungsu bontot ini lebih manja. Ditambah pula ketika bayi, baru masuk masa pandemi. Jadilah Alfath disebut anak COVID. Sulit untuk membuatnya bersosialisasi secara normal. Karena ketika periode COVID, kita sangat me-restriksi interaksinya dengan orang lain. Baru belakangan Alfath lebih cair ketika berinteraksi dengan orang lain.

    Alfath punya posisi unik. Dia cucu laki-laki satu-satunya dari garis keturunan keluarga saya. Untuk sementara ya. Bisa jadi beberapa tahun ke depan di akan punya sepupu laki-laki. Kalo adik alfath sih sepertinya tidak akan ada ya. Sudah cukup. Haha. Posisi ini membuatnya punya privilege sendiri dimata kakek neneknya. Wajar sih ya, cucu laki-laki dari anak pertama. Bagi saya itu hal yang biasa. Dan lazim saja.

    Alfath masih dalam proses menjalani toilet training. Sudah hampir final saya rasa. Namun dalam beberapa kesempatan, Alfath masih bisa ngompol diluar kamar mandi. Dia sudah tahu akan pipis, namun masih sering ditahan-tahan. Dengan segala tingkah. Keras kepala sekali. Namun belakangan, sudah mulai patuh. Saya juga terpaksa sedikit keras. Alfath ini jika tidak tegas, dia akan totalitas mempertahankan keinginannya. Pokoknya apa yang dia mau, harus terlaksana. Pernah satu waktu dia ingin mainan, menangis sejadi-jadinya di Mall. Lalu saya bawa paksa ke luar dan suruh berdiri di luar mall, sampai tangisnya reda. Saya berdirikan dan dia masih menangis. Saya diamkan terus. Sampai akhirnya dia diam sendiri dan kembali masuk kedalam.

    Saya belum tahu alfath ini mau diarahkan kemana. Juli depan dia sudah mulai masuk sekolah TK. Mungkin disana dia akan punya banyak teman baru. Semoga saja.

  • Training of Trainers ATLS

    July 9th, 2023

    Beberapa pekan lalu saya mengikuti Training of Trainers (ToT) untuk Advance Traumatic Life Support (ATLS). Acara dilaksanakan di Medan, di Bagian Bedah RSUP Adam Malik. Sudah lama saya tidak mengikuti course atau pelatihan. Jadi acara kali saya sangat bersemangat sekali untuk mengikutinya. Bulan November tahun lalu acara ini sempat akan diadakan di Jambi, namun kahirnya dibatalkan oleh panitia karena ada masalah yang terjadi 2 minggu sebelum jadwal. baru kemudian saya mendapatkan informasi lagi tentang pelatihan ini bulan april lalu. Segera mendaftar dan memastikan akomodasi. Namun sayangnya acara ditunda lagi ke bulan Juni. Kira-kira 1 bulan dari jadwal semula. Okelah, walaupun sudah pesan tiket, akhirnya saya refund dan reschedule lagi. Saking semangatnya.

    Jumat sore berangkat ke Medan dengan penerbanagn lansung. Saya menginap di Roemah 28. Tempat ini meiliki memori khusus bagi saya. Ini tempat penginapan dulu ketika saya menjalani Ujian Nasional Spesialis BTKV tahun 2019. Ketika itu saya dan beberapa teman BTKV lain menginap disini selama proses ujian. Sekitar 5 hari kami menginap ketika itu. Pengalaman yang unik. Kami berencana jika ada kesempatan akan napak tilas lagi ke tempat ini.

    Sabtu pagi pukul 7 acara sudah dimulai. Tepat waktu. Kami lansung diminta mengisi Pre-test. Dan acara lansung dibuka oleh trainer Prof Abdurrokhman Ginting. Beliau Educator ATLS yang sudah 28 tahun menggawangi ATLS di Indonesia. Kegiatan banyak diisi dengan metode mengajar, interaksi dengan peserta didik, cara membuat small grup discussion dan studi kasus. Pembahasan mengenai konten ATLS sendiri tidak terlalu banyak. Aspek itu mestinya sudah dikuasai sendiri oleh calon trainer. Saya sendiri mengikuti pelatihan ATLS sekitar 13 tahun yll. Namun sangat terbantu dengan posisi saya sekrang sebagai tenaga pendidik yang membuat saya harus memperbaharui terus pengetahuan mengenai penanganan trauma. Jadi update mengenai konten ATLS sendiri dapat dipenuhi sendiri. Justru metode mengajar ini yang penting. Karena nantinya dalam waktu 2-3 hari, peserta ATLS diharapkan dapat menyerap materi yang dilatih dan segera dapat mereka aplikasikan dalam praktik medis sehari-hari. Waktu yang cukup singkat untuk membuat seorang dokter memiliki pemahaman dan kemampuan untuk menanganai kasus trauma secara komprehensif. Bagaimana membuat hal tersebut terwujud adalah tujuan dari pelatihan ini. Mempersiapkan para trainer agar dapat memfasilitasi peserta nantinya menyerap seluruh ilmu ATLS.

    Sejumlah trainer senior dan juga staf di RS-RS besar di Indonesia juga terlibat. Pengalaman mereka tentunya sudah sangat mumpuni dalam pelatihan seperti ini. Belasan puluhan tahun mereka mengajar ATLS tidak membuat mereka jumawa. Namun malah lebih terbuka dan mudah berdiskusi tentang hal-hal baru. Pengajar yang rendah hati seperti itu, adalah anugerah bagi dunia pendidikan.

    Saya senang mendapatkan pengalaman lintas ilmu seperti ini. Sehingga tidak hanya berkutat dengan ilmu BTKV saja. Dengan begini juga mendorong saya untuk lebih dapat mengembangkan diri. Membaca dan memperbaharui ilmu yang dimiliki.

    Tahapan selanjutnya setelah mengikuti pelatihan ini adalah magang di beberapa pelatihan ATLS sebagai trainer. Setelah itu baru mendapatkan sertifikat sebagai trainer utuh dan dapat terlibat dalam course ATLS secara lansung. Saya akan usahakan sesegera mungkin memenuhio persyaratan ini.

  • Athifa Aulia

    June 11th, 2023

    Si Cantik. Nomor dua. Atau kami lebih senang memanggilnya A2. Sebutan A ini berlaku juga untuk SI Uni dan Si Bontot. Jadi Aisha dipanggil A1 dan Alfath dipanggil A3. Ini karena nama mereka di awali huruf A. Aisha Aulia, Athifa Aulia dan Alfath Aulia. Sebutan A menjadi lebih simpel dan mudah dilafalkan.

    Athifa lebih senang dipanggil Ifa. Selain itu, karena sudah punya adik, Ifa juga senang ketika dipanggil Kak Ifa. Tapi sayangnya Alfath tidak mau memanggil dengan sebutan Kak Ifa. Dia lebih sering memanggil dengan Ifa saja. Alfath memang jahil.

    Dulu ketika Ifa lahir, abi masih menjalani sekolah. Masih menjalani pendidikan di Jakarta. Ifa lahir tanggal 21 Januari dan sekarang usianya sudah 5 tahun. Ketika masih bayi Ifa pernah kejang, lalu dibawa berobat sampai ke Jakarta. Alhamdulillah tidak ada masalah setelah itu. Malah sekarang Ifa badannya sehat dan aktif. Ifa senang sekali makan, sehingga badannya besar dan kuat. Ifa tidak takut makanan pedas. Mau cabe merah atau cabe hijau, semua disikat Ifa. Ifa bisa menghabiskan nasi satu piring dan 3 potong ayam kalo sedang lapar. Kami semua dirumah senang ketika melihat Ifa makan. Pernah suatu kali, Ifa sangat mengantuk ketika makan. Namun Ifa tetap menghabiskan makanannya meskipun sudah hampir ketiduran. Ifa tidak suka mubazir makanan.

    Saat ini Ifa bersekolah di Adzkia. Sudah selesai TK A dan tahun ajaran depan sudah mulai di TK B. Ifa senang bersekolah di Adzkia karena teman-temannya banyak. Sekolah ifa sama dengan sekolah Uni dulu. Ifa punya beberapa teman baik di sekolah. Ada Hanna, ada Kristal, ada Loui. Kadang ifa membawa hadiah dari teman-teman di sekolah. Sesekali Ifa juga membawakan mereka hadiah. Selain itu Ifa juga senang berbagi bekal makanan yang dibawa ke sekolah. Nenek selalu melebihkan bekal sekolah Ifa, karena nenek tahu ifa senang berbagi dengan teman-teman.

    Ifa senang sekali bermain bersama Alfath. Karena kebetulan dirumah juga ada adik sepupu yang bernama Yusuf, mereka selalu bermain bertiga. Banyak sekali permainan mereka dirumah. Rumah pasti berantakan jika mereka bertiga sedang bermain. Bermain susun balok, membuat kereta api, bermain peran, menggambar. Kadang-kadang ifa juga diajari Abi mengetik dan bermain permainan di komputer.

    Bangun pagi masih menjadi masalah buat Ifa. Ifa sering berjanji akan ikut bangun ketika subuh. Namun ternyata sampai terbit matahari masih belum bangun. Namun, ketika bulan puasa dulu, Ifa selalu ikut sahur. Sekarang sesekali Ifa sudah bangun lebih awal. Jadi bisa berangkat tepat waktu ke sekolah.

    Nanti kita sambung lagi yaa..

1 2 3 … 11
Next Page→

Create a website or blog at WordPress.com

 

Loading Comments...
 

    • Subscribe Subscribed
      • auliarahman.id
      • Join 31 other subscribers
      • Already have a WordPress.com account? Log in now.
      • auliarahman.id
      • Subscribe Subscribed
      • Sign up
      • Log in
      • Report this content
      • View site in Reader
      • Manage subscriptions
      • Collapse this bar