The Emperor of All Maladies : A Biography of Cancer

The Emperor of All Maladies : A Biography of Cancer.– Sidharta Mukherjee

Pertama kali melihat buku ini di kosan adik saya Muhamad Arif . Covernya bagus. Warna coklat muda, ada kepitingnya. Gak tau udah dibaca apa belum. Diniatin beli Kindle-an nya aja. Karena yakin ini buku gak mungkin selesai sekali baca dan gak mungkin dibawa-bawa terus. Berat.

Akhirnya beli. Dan ternyata memang berat. Bahasannya tapi.

Kanker dalam buku ini bener-bener dikulik detail. Bukan dengan jabaran rumit, namun dengan penuturan yang menarik. Dari awal sampai ujung. Betul-betul kayak lagi baca biografi. Sesuai dengan tagline “Biography of Cancer”.

Kanker adalah penyakit kuno. Buku ini mencatat pada era 2600 SM, Imhotep di catatan papirusnya sudah mendeskripsikan tentang ” benjolan besar, keras, padat, dan merata dibawah kulit pada payudara”. Ini dianggap sebagai deskripsi tertulis pertama tentang kanker. Dari 48 laporan kasus pada papirus tersebut, hanya kasus ini yang tanpa terapi. Dia hanya menuliskan “Tidak ada obat”. Jadi, kanker pada manusia adalah penyakit sekuno itu.

Topik buku ini memang berat. Namun penulisnya menyajikan dengan bahasa sederhana. Saya jadi paham perjalanan hebat memerangi kanker. Tidak hanya kontekstual medis dan bedah saja. Namun ternyata lebih luas dari itu.

Banyak juga fakta-fakta unik yang saya juga baru tau dari buku ini. Galen dimasa Yunani kuno telah menuliskan tentang “black bile’ yang mereferensi pada penyakit yang pada masa sekarang merujuk pada kanker darah. Sir William Halsted, yang dianggap sebagai Bapak Ilmu Bedah Modern, dimasa-masa awal operasi kanker payudara benar-benar dianggap ‘dewa’ meskipun operasinya betul-betul radikal berdasarkan sudut pandang masa sekarang. Bagaimana perjalanan Sydney Farber, si Bapak Kemoterapi, memulai terapi pada leukemia dengan antifolat pertama PAA tahun 1947 dengan sebuah trial yang dramatik. Bagaimana perjalanan konsep karsinogenik yang dulu dianggap tidak mungkin. Rokok juga dulunya tidak dianggap berbahaya. Bahkan rokok dibagikan secara gratis di pertemuan dokter tahunan AMA -semacam IDI-nya Amerika- tahun 50-an saking biasanya. Panjang antrian booth-nya. Bagaimana perjuangan melawan kanker dari berbagai cabang ilmu kedokteran. Paru, urologi, kulit, getah bening, otak, payudara, endokrin, darah dan lainnya. Kisah perang dengan kanker juga disajikan dari berbagai aspek kehidupan. Sosial, budaya, ekonom, politik dan geografis. Luas sekali.


Buku ini benar-benar menarik. Bagi teman-teman yang berkecimpung dalam dunia medis, bahkan yang setiap hari spesifik berhadapan dengan kasus kanker sekalipun akan menemukan nuansa baru atau paling tidak menemukan perspektif yang berbeda dalam melihat kanker.

Pengen nulis banyak. Tapi udahlah ya. Baca aja.

Oya, ini buku Peraih Pulitzer 2011 kategori Nonfiksi. Jadi, yaa, TOPlah.


Leave a comment