Rehat media sosial masih berlanjut. Sejauh ini berjalan baik. Tanpa Facebook, Instagram, Twitter dan Pinterest di handphone dan laptop. Seperti apa rasanya?
Awalnya memang terasa seperti ada yang hilang begitu. Ada yang kosong. Biasanya saya selalu tahu tentang berbagai informasi seputar sepakbola. Misal saga transfer Lionel Messi. Rumor kemana Messi akan berlabuh di musim ini, klub yang menginginkannya, informasi terbaru dari Si Master transfer Fabrizio Romano yang selalu bikin kaget dan banyak lainnya. Atau berbagai informasi dari akun-akun medis yang saya ikuti terkait Covid-19. Namun sekarang seperti jauh dari informasi tersebut. Seperti ada yang hilang. Biasanya saya akan lanjut berpikir : ‘Apakah ketiadaan informasi tersebut berimbas serius terhadap kehidupan saya?’. Selalu jawabannya adalah, “Tidak”. Tidak ada implikasi yang negatif dan serius atas ketiadaan hal tadi. Tidak ada buruknya bagi saya untuk tidak tahu bagaimana nasib Lione Messi musim ini. Saya juga masih mengikuti perkembangan tentang Covid dari keseharian saya di rumah sakit.
Sensasi lainnya adalah ketika misalnya menemukan momen-momen tertentu -yang terkadang biasa-biasa saja klo dipikir- lalu muncul keinginan untuk unggah di medsos, semisal IG Story atau status facebook. Kuliner tertentu, tingkah polah anak yang unik, capaian operasi atau baru saja operasi susah dan berhasil, melihat sesuatu yang aneh di jalanan, menemukan barang-barang lama atau apa sajalah. Hal-hal seperti ini biasanya menimbulkan keinginan untuk kemudian membuka handphone dan membuka aplikasi medsos, lalu kemudian mengunggahnya. Tapi sekarang hal tersebut mesti ditahan. Rasanya memang seperti ada yang mengganjal dan aneh, namun lama kelamaan, terasa biasa saja. Beberapa momen saya alihkan dengan mengambil foto saja, tanpa mengunggahnya. Hanya tersimpan di drive atau terunggah ke cloud. Hanya itu.
Jika rentang waktu yang sebelumnya habis dipakai untuk menggunakan media sosial, apakah sekarang durasi tersebut sudah diisi oleh hal lain yang lebih bermanfaat? Nah ini. Jujur saya jawab, belum.
Kenapa?
Saya rasa jawabannya karena ketergantungan saya terhadap handphone sendiri juga masih menjadi masalah. Setiap hari tidak bisa lepas dari gawai ini. Saya masih rutin skral-skrol chat whatsapp atau menonton video di Youtube (ironisnya itu juga adalah video tentang social media detox). Refreshing screen gmail juga masih sering, meskipun tidak ada email baru yang masuk. Atau bahkan hanya sekedar membolak-balik handphone.
Durasi waktu yang telah disisakan oleh absensi penggunaan media sosial, mestinya harus saya gunakan untuk sesuatu yang lebih positif dan terasa manfaatnya. Awalnya saya berpikir bahwa jika medsos ini bisa ditinggalkan, otomatis durasi saya membaca buku atau menulis menjadi lebih banyak. Namun sepertinya hal itu belum bisa diwujudkan. Saya harus lebih agresif, teratur dan konsisten untuk hal ini. Tenang, semuanya masih bisa diwujudkan. Masih banyak waktu. Saya masih optimis ini berada pada jalur yang benar.
Hari ke- 20.
