Setelah 3 Bulan

Apa yang terjadi setelah 3 bulan tidak menyentuh sosial media? Jawabannya adalah saya merasa nyaman.

Saya rasa tahapan ini bukan lagi detoksifikasi. Racun-racunnya sudah habis. Tahap sekarang seharusnya adalah membuat kebiasaan ini menjadi permanen. Namun pertanyaannya, apakah harus seperti itu? Apakah tidak ada peluang sedikitpun bagi sosial media untuk kembali menjadi bagian dalam aktifitas harian saya?

Saya melihat manfaat yang cukup nyata selama 3 bulan belakangan ini. Tidak ada lagi paparan tentang berbagai macam pencapaian orang lain yang hanya membuat iri, tidak ada lagi berita-berita sepakbola yang membuat saya tidak bisa menikmati highlight pertandingan dengan rasa penasaran yang sama ketika menonton live, tidak ada lagi informasi-informasi sampah yang hanya menyita perhatian namun tidak memberikan manfaat, tidak ada lagi pembanding yang hanya membuat saya secara bawah sadar harus membuat komparasi dengan hal tersebut dan terkadang membuat depresif, tidak ada lagi penawaran-penawaran produk yang ternyata diam-diam menggerogoti keuangan saya.

Itu hal yang dinihilkan dengan tidak menyentuh sosial media. Lalu apa hal baik yang muncul? Pikiran saya memang lebih lega. Saya jadi merasa memiliki ruang lebih untuk lebih berfokus pada diri sendiri. Komparasi yang berlebihan akibat sosial media membuat banyak ruang pikiran terisi penuh. Beberapa kali istri saya memperlihatkan postingan ‘pencapaian’ atau ‘aktifitas’ sejumlah influencer, namun saya jawab : ‘i dont care’ sambil tertawa (mungkin saya terlalu ektrim ya). Tapi rasanya memang lega sih. Tidak ada perasaan inferiotitas atau percikan keinginan ingin seperti itu, ingin punya itu.

Apakah sehebat itu? Jujur saya katakan, belum. Karena saya masih memiliki masalah dengan optimalisasi waktu. Saya masih memiliki masalah dengan smartphone, dengan sejumlah aplikasi game dan messenger. Saya juga belum memiliki sebuah pengalihan yang signifikan atas waktu yang ‘kosong’ karena tidak menggunakan sosial media lagi. Buku-buku yang saya baca belum dengan kuantitas yang lebih baik. Tulisan juga begitu.

Masih banyak yang perlu diperbaiki. Namun keputusan meninggalkan sosial media, sampai saat ini masih saya anggap sebagai keputusan yang brilian. Saya belum menemukan alasan yang cukup kuat untuk kembali bersosial media.

Begitulah


Leave a comment