Akhirnya saya mulai baca novel karya Tere Liye. Mungkin terlambat untuk mulai, karena karyanya sudah sangat banyak. Gramedia seperti menyediakan satu area display khusus hanya untuk buku-buku Tere Liye. Display dinding, tumpukan, deket kasir. Pojokan Gramedia itu sudah seperti gudangnya Tere Liye.
Pertama kali mengenal nama Tere Liye ini mungkin dari judul Hafalan Shalat Delisha. Saya ingat buku itu pernah diangkat ke layar lebar, tapi saya belum pernah nonton. Tidak pernah baca juga. Seperti kebanyakan orang juga, saya pikir awalnya Tere Liye itu perempuan. Belakangan ini saja saya baru tau dia laki-laki. Opini-opininya dulu di sosial media juga cukup sering saya baca. Meskipun jarang yang tuntas.
Lalu pernah juga seorang sejawat yang bicara tentang pengalamannya baca sejumlah novel Tere Liye, dan menyarankan saya membaca. Saya tolak waktu itu. Sejujurnya karena takut ketagihan. Saya tahu kalo penulis dengan oplah sebanyak itu dan seproduktif itu, pasti kualitas bukunya tidak main-main. saya tahu diri, jika sudah klik dengan satu penulis, bisa bikin saya boros.
Akhirnya luluh juga. Karena mulai sering lagi ke Gramedia, jadi sering terpapar dengan display buku-buku Tere Liye. Saya coba beli satu. Mulai dari mana? Saya coba google dan Quora, “Negeri Para Bedebah” berada diurutan teratas. Segera saya ambil judul itu.
Negeri Para Bedebah saya selesaikan dalam 2 hari kalo tidak salah. Novel yang keren. Bagus sekali. Saya bukan pembaca novel dengan genre sejenis sebenarnya. Tapi saya bisa mengimajinasikan ceritanya melalui referensi-referensi film yang pernah saya tonton. Saya rasa jadi lebih hidup karakternya jiak diimajinasikan dengan cara itu. Betul-betul menarik.
Saya bersiap untuk judul berikutnya. Tentang Kamu. Baru beberapa halaman. Namun, saya yakin ini juga akan keren sekali.
Selamat Tere Liye, anda mendapatkan penggemar baru.
