Lady’s Hand

Apakah dokter bedah yang hebat itu adalah dokter bedah yang tangannya cepat, atau yang bisa menyelesaikan operasi dalam waktu singkat? Oke. Mari ngopi sejenak.

Kecepatan menyelesaikan operasi memang memberikan banyak keuntungan. Bagi pasien paparan bius dan damage operasi beresiko lebih sedikit. Bagi tenaga medis tentu menjadi sebuah kepuasan dapat membantu pasien lebih cepat menjalani proses operasinya. Kecepatan operasi memang berkorelasi linear dengan kecepatan tangan seorang ahli bedah. Namun, darimana kecepatan seorang ahli bedah itu berasal? Yang jelas, semakin ahli seorang dokter bedah melalukan sebuah prosedur, tentunya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan prosedur tersebut lebih efisien. Semakin besar volume kasus yang ditanganinya, maka pengalamannya menjadi lebih banyak dan membuat efisiensinya semakin meningkat. Namun ada satu kunci ‘kecepatan’ dokter bedah yaitu ‘kerjakan setiap gerakan atau manuver itu satu kali’

Saya selalu ingat yang diajarkan oleh guru saya ketika masih menjalani pendidikan bedah dasar ‘tidak perlu cepat-cepat, yang penting kamu kerjakan semuanya dalam satu gerakan, jangan berulang, selalu melangkah ke gerakan selanjutnya’. Ketika masih banyak mundur atau kembali ke gerakan sebelumnya, atau mengoreksi gerakan yang sudah dikerjakan, kita akan menghabiskan waktu. Akumulasi dari pengulangan gerakan atau flow manuver tangan yang tidak halus itu adalah berlipatnya jumlah waktu total operasi. Akibatnya tanpa disadari operasi menjadi lebih lama. Tentunya gerakan yang efisien itu tidak begitu saja bisa dimiliki oleh seorang dokter bedah. Dibutuhkan pengetahuan yang utuh mengenai prosedur yang akan dikerjakan, struktur anatomi pada organ yang menjadi objek operasi serta berbagai kondisi yang menyertai proses operasi tersebut. Misalnya kondisi metabolik pasien, korelasi dengan pembiusan atau misalnya kemampuan asisten yang membantu operasi.

Pengulangan gerakan yang dilakukan oleh seorang dokter bedah terhadap gerakan sebelumnya yang belum sempurna, memberikan tambahan waktu sepersekian detik terhadap total durasi operasi. Cukup jumlahkan saja. Durasi operasi akan terlihat lebih lama secara kuantitatif, meskipun mungkin ‘terasa’ sama saja. Koreksi gerakan juga seperti itu. Jarum yang jatuh, posisi pegangan jarum yang kurang pas, arah tusukan yang tidak perpendikular, simpul yang tidak kuat dan berbagai kondisi yang membuat dokter bedah mengoreksi gerakannya yang pada akhirnya akan berkontribusi terhadap kecepatan operasi.

Gerakan tangan yang efisien juga menjadi acuan dari berbagai pengembang teknologi bedah. Robotic Surgery saat ini merupakan salah satu bidang yang sangat berkembang dalam bidang pembedahan. Da Vinci, Zeus atau RobIn Heart contohnya. Teknologi pembedahan yang dimiliki ketiga robot tersebut sangat mengacu pada referensi gerakan tangan dokter bedah terlatih. Dan terus diperbaharui dalam kurun waktu tertentu.

Balik ke awal, jadi dokter bedah yang tangannya cepat adalah dokter bedah yang hebat?Hmmmmm…sabar, nanti saja dijawab. Biar makin banyak bahan tulisan selanjutnya.

Buat saya, tentu akan balik menilai diri. Apakah sudah sebagus itu? apakah sudah memiliki ‘kecepatan’ yang diinginkan dalam operasi?Belum. Sangat belum. Masih perlu banyak belajar. Ada saatnya nanti dapat menilai diri, bahwa saya sudah sampai pada fase seperti yang guru-guru saya dulu ajarkan.

-AU-


Leave a comment