Literasi Keuangan

Literasi keuangan adalah satu topik yang jadi hangat belakangan ini. Bagi orang yang berkutat dalam bidang finance atau praktisi ekonomi, mungkin tidak asing dengan istilah ini. Hal yang biasa saja. Menjadi hangat ketika bahasan ini muncul dalam profesi kedokteran. Dokter secara natural tidak pernah belajar topik ini. Maksud saya secara natural dalam jenjang pendidikannya. Tidak ada segmen khusus yang membahas ini. Saya coba mengingat-ingat lagi, memang tidak pernah sedikitpun pembahasan tentang ini. Menjadi ironis, karena dalam kehidupan nyata dilapangan, dokter pasti akan berhadapan dengan aspek keuangan. Lumrah jika masyarakat menilai profesi dokter adalah profesi yang berkecukupan. Kita tidak memperdebatkan hal ini. Meskipun saya tahu jika pernyataan ini diasumsikan bahwa semua dokter itu kaya raya, itu tidak benar. Berkecukupan menurut saya ada istilah yang paling wajar digunakan. Lebih netral.

Lalu bagaimana seorang dokter mengelola keuangannya. Setahu saya ya berjalan secara alamiah saja. Sambil menjalani profesinya, mendapatkan penghasilan, lalu mengatur pengeluarannya sedemikian rupa dengan kebiasaan atau insting saja. Prinsip dasar seperti tidak boros, hemat, menabung, berinvestasi, charity dan sebagainya tentu secara instingtif diaplikasikan dalam kehidupan. Ada yang berhasil, ada yang tidak. Ada yang sukses sekali dalam keuangan, ada yang hancur. Sebagian besar masih dalam kondisi berkecukupan tadi. Jadi apakah memang perlu ada pengetahuan khusus bagi seorang dokter tentang keuangan ini? Mungkin yang dimaksudkan disini, apakah perlu semacam keseragaman dalam asupan ilmu mengenai keuangan ini? Apakah seoranga dokter perlu mendapatkan pembekalan mengenai keuangan ini sebelum ia nanti ‘punya uang’?.

Bagi saya pribadi, saya menyesal dahulu tidak pernah belajar tentang keuangan secara khusus. Literasi keuangan saya sangat payah. Sampai saya berpikir, beberapa mata kuliah yang sekarang rasa-rasanya tidak terpakai, mengapa dulu tidak diganti saja dengan mata kuliah tentang pengelolaan keuangan, instrumen investasi, pajak, dan lain sebagainya. Lebih terpakai. Lebih aplikatif. Mungkin baru 2-3 tahun setelah lulus saya mulai sedikit-sedikit tahu. Ooo ternyata ada yang seperti ini. Ooo ada ilmunya yang seperti ini. Hidup dokter tidak selesai hanya dengan melayani pasien lalu mendapatkan imbal jasa, untuk kemudian dipakai untuk hidup. Berulang seperti itu. Harus ada ilmunya.

Literasi keuangan sudah saatnya menjadi sesuatu yang formal diajarkan dalam pendidikan kedokteran. Dengan proporsi yang cukup. Saya tahu sudah ada beberapa fakultas kedokteran yang memulai ide brilian ini. Saya rasa itu langkah yang sangat perlu diapresiasi dan diikuti oleh fakultas kedokteran lain. Jika belum menjadi subjek pendidikan formal, setidaknya mendorong calon dokter dan para dokter untuk menambah proporsi literasi keuangan mereka perlu digiatkan. Senang melihat sudah bermunculan kanal-kanal media sosial dan persona dokter yang mengangkat tentang topik ini. Semoga seterusnya semakin berkembang dan maju.


Leave a comment