Horror Jumat Sore

Jumat sore adalah horror jalanan Jakarta. Saya punya pengalaman buruk ketika awal-awal PPDS. Mau periksa mata untuk keperluan bikin loupe operasi ke daerah kuningan kalo tidak salah. Pakai sepeda motor. Berangkat sekitar jam 3 jalanan masih lancar. Selesai periksa jalan sebentar. Saya mulai jalan balik ke kosan samping Harkit sekitar pukul setengah 6 kalau tidak salah. Waktu itu saya masih belum terlalu hafal jalanan Jakarta. Saya pulang lewat jalur Gatot Subroto-S Parman. Disitu saya pertama kali merasakan macet horror jumat sore. Pengap. Keringat. Jalan beringsut-ringsut. Saya berhenti sebentar di SPBU Shell untuk sholat magrib. Saya ingat baru sampai di kosan sekitar pukul 9 malam. Paraaaah. Sepanjang jalan saya menggerutu. Google Maps memang menunjukkan tanda kuning merah ketika itu. Namun saya tidak pernah menyangka separah itu. Bunyi klakson yang tak putus-putus makin membuat sakit kepala. Tetot tetot tetooott tiin tiiin ni nu ni nu ni nuu. Bunyi klakson adalah bunyi yang paling saya tidak suka nomor dua. Bunyi pertama adalah bunyi nada hape jaga Pediatrik. Itu memang lebih horror lagi. Sampai kosan segera mandi dan sholat isya. Lanjut tidur. Meratapi salah satu pengalaman paling pahit di masa PPDS ketika itu.

Sejak saat saya hampir tidak pernah mau jalan lagi jumat sore, jika tidak ada tugas atau keperluan yang batul-betuk mendesak. Jikapun ada, solusinya berangkat lebih awal, atau lebih malam sekalian. Saya betul-betul kapok ketika itu.

Macet Jakarta tentunya bukan cerita baru. Saya sampai sekarang masih kagum dengan warga Jakarta yang mampu berhadapan dengan keadaan ini setiap hari. Berada di jalanan bisa jadi adalah sepertiga atau seperempat dari durasi hari mereka. Itu mengagumkan. Angkat topi untuk itu.

Saya lebih memilih untuk jalan kaki atau naik bus transjakarta jika ada keperluan. Waktu sudah kos di Salemba, biasanya saya naik bus transjakarta ( ah, saya lebih suka menggunakan istilah busway daripada bus transjakarta ini. Meskipun kurang tepat. tapi ya tidak apa) jurusan TU Gas-Grogol. Naik dari halte pasar Pasar Genjing jalan Pramuka lalu lansung berhenti di halte Harapan Kita. Praktis. Tanpa transit. Pulangnya juga begitu, Naik jalur yang sama. Naik halte Harkit lalu turun di depan RS Carolus. Jalan sedikit sampai di kosan. Jika tidak terlalu malam, mungkin saya beruntung masih bisa beli nasi bebek favorit di jembatan bluntas. Good old days.

Setahun ini saya kembali ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan. Macet horror jumat sore tentunya masih ada. Namun saya tidak pernah lagi merasakan itu. Sebisa mungkin saya hindari. Bukan aktifitas yang menyenangkan tentunya.

Ya kira-kira beginilah

Leave a comment