Sudah barang tentu saya menggemari karya Andrea Hirata. Laskar Pelangi adalah sebuah karya jenius. Selanjutnya berderet judul-judul yang membuat ranah perbukuan Indonesia menjadi teramat kaya. Jadi menurut saya Andrea Hirata adalah salah satu yang terbaik. Tentunya banyak orang berbeda pendapat soal ini. Selera berbeda pasti.
Karya terbarunya, Brianna dan Bottomwise belum selesai saya baca. Oya, saya bukan tipe pembaca novel sekali buka lansung hantam sampai selesai. Saya masih nyicil. Selain karena kebanyakan baca bisa membuat saya mengantuk, saya tidak punya waktu selonggar itu hanya untuk baca novel. Jadi ya satu novel bisa selesai beberapa hari atau bahkan seminggu. Brianna dan Bottomwise membuat saya kembali bisa menikmati kosakata dan kalimat khas melayu yang selalu ada dalam setiap novelnya. Siapa yang tidak senang membaca kata-kata seperti keharibaan, boi, tu, macam, usah risau, tengok, ni, mantab, koleha. Saya lama tinggal di bumi melayu, sehingga kata-kata seperti itu enak didengar. Humor yang terasa dari setiap cerita yang disajikan menjadi lebih mudah dicerna. Sentilan terhadap kondisi-kondisi sosial dalam setting waktu cerita tersebut juga seru. Enak dibaca.
Dulu novel Laskar Pelangi berulang kali saya baca. Bab kisah tentang Lintang dengan perhitungannya menunggu buaya melintas itu adalah partisi yang paling saya suka. Judul-judul setelah itu juga sangat berkesan. Sekali lagi, saya sangat menyenangi humor-humor yanh dibawakan dengan kutipan atau kosakata melayu tadi. Terasa seakan berada dalam keseharian. Brianna dan Bottomwise kembali membawakan sensasi tersebut. Lain waktu mungkin saya coba tuliskan sedikit resensinya.