Sejarah operasi jantung dimulai pada awal abad ke-20, ketika para dokter mulai menyadari bahwa ada kemungkinan untuk memperbaiki kelainan jantung dengan melakukan operasi.
Pada tahun 1896, seorang ahli bedah Prancis bernama Alexis Carrel menemukan teknik menjahit pembuluh darah yang memungkinkan transplantasi organ. Kemudian pada tahun 1925, ahli bedah Jerman bernama Werner Forssmann melakukan eksperimen pada dirinya sendiri dengan memasukkan kateter ke dalam jantungnya sendiri untuk memperbaiki kelainan jantung yang ia alami.
Pada tahun 1944, dokter asal Amerika Serikat bernama Alfred Blalock bersama-sama dengan ahli bedah jantung bernama Vivien Thomas dan ahli fisiologi bernama Helen Taussig, berhasil melakukan operasi jantung pertama untuk mengatasi penyakit sianosis atau kebiruan pada bayi. Operasi tersebut dilakukan dengan membuat lubang kecil pada dinding jantung bayi dan menghubungkannya dengan pembuluh darah yang normal.
Setelah itu, teknologi dan teknik operasi jantung terus berkembang. Pada tahun 1952, seorang ahli bedah jantung bernama John Gibbon berhasil melakukan operasi jantung pertama dengan menggunakan mesin jantung buatan yang diciptakannya sendiri. Kemudian, pada tahun 1967, ahli bedah Afrika Selatan bernama Christiaan Barnard berhasil melakukan transplantasi jantung pertama pada manusia.
Dalam beberapa dekade terakhir, teknologi dan teknik operasi jantung terus berkembang dan semakin canggih. Operasi jantung saat ini dilakukan dengan menggunakan teknologi yang sangat maju, termasuk teknologi robotik dan endoskopik. Dengan adanya teknologi ini, dokter dan ahli bedah dapat melakukan operasi jantung dengan lebih akurat dan efektif, sehingga memungkinkan penyembuhan yang lebih baik bagi pasien yang menderita kelainan jantung.