
Beberapa pekan lalu saya mengikuti Training of Trainers (ToT) untuk Advance Traumatic Life Support (ATLS). Acara dilaksanakan di Medan, di Bagian Bedah RSUP Adam Malik. Sudah lama saya tidak mengikuti course atau pelatihan. Jadi acara kali saya sangat bersemangat sekali untuk mengikutinya. Bulan November tahun lalu acara ini sempat akan diadakan di Jambi, namun kahirnya dibatalkan oleh panitia karena ada masalah yang terjadi 2 minggu sebelum jadwal. baru kemudian saya mendapatkan informasi lagi tentang pelatihan ini bulan april lalu. Segera mendaftar dan memastikan akomodasi. Namun sayangnya acara ditunda lagi ke bulan Juni. Kira-kira 1 bulan dari jadwal semula. Okelah, walaupun sudah pesan tiket, akhirnya saya refund dan reschedule lagi. Saking semangatnya.
Jumat sore berangkat ke Medan dengan penerbanagn lansung. Saya menginap di Roemah 28. Tempat ini meiliki memori khusus bagi saya. Ini tempat penginapan dulu ketika saya menjalani Ujian Nasional Spesialis BTKV tahun 2019. Ketika itu saya dan beberapa teman BTKV lain menginap disini selama proses ujian. Sekitar 5 hari kami menginap ketika itu. Pengalaman yang unik. Kami berencana jika ada kesempatan akan napak tilas lagi ke tempat ini.
Sabtu pagi pukul 7 acara sudah dimulai. Tepat waktu. Kami lansung diminta mengisi Pre-test. Dan acara lansung dibuka oleh trainer Prof Abdurrokhman Ginting. Beliau Educator ATLS yang sudah 28 tahun menggawangi ATLS di Indonesia. Kegiatan banyak diisi dengan metode mengajar, interaksi dengan peserta didik, cara membuat small grup discussion dan studi kasus. Pembahasan mengenai konten ATLS sendiri tidak terlalu banyak. Aspek itu mestinya sudah dikuasai sendiri oleh calon trainer. Saya sendiri mengikuti pelatihan ATLS sekitar 13 tahun yll. Namun sangat terbantu dengan posisi saya sekrang sebagai tenaga pendidik yang membuat saya harus memperbaharui terus pengetahuan mengenai penanganan trauma. Jadi update mengenai konten ATLS sendiri dapat dipenuhi sendiri. Justru metode mengajar ini yang penting. Karena nantinya dalam waktu 2-3 hari, peserta ATLS diharapkan dapat menyerap materi yang dilatih dan segera dapat mereka aplikasikan dalam praktik medis sehari-hari. Waktu yang cukup singkat untuk membuat seorang dokter memiliki pemahaman dan kemampuan untuk menanganai kasus trauma secara komprehensif. Bagaimana membuat hal tersebut terwujud adalah tujuan dari pelatihan ini. Mempersiapkan para trainer agar dapat memfasilitasi peserta nantinya menyerap seluruh ilmu ATLS.
Sejumlah trainer senior dan juga staf di RS-RS besar di Indonesia juga terlibat. Pengalaman mereka tentunya sudah sangat mumpuni dalam pelatihan seperti ini. Belasan puluhan tahun mereka mengajar ATLS tidak membuat mereka jumawa. Namun malah lebih terbuka dan mudah berdiskusi tentang hal-hal baru. Pengajar yang rendah hati seperti itu, adalah anugerah bagi dunia pendidikan.
Saya senang mendapatkan pengalaman lintas ilmu seperti ini. Sehingga tidak hanya berkutat dengan ilmu BTKV saja. Dengan begini juga mendorong saya untuk lebih dapat mengembangkan diri. Membaca dan memperbaharui ilmu yang dimiliki.
Tahapan selanjutnya setelah mengikuti pelatihan ini adalah magang di beberapa pelatihan ATLS sebagai trainer. Setelah itu baru mendapatkan sertifikat sebagai trainer utuh dan dapat terlibat dalam course ATLS secara lansung. Saya akan usahakan sesegera mungkin memenuhio persyaratan ini.