Belakangan saya dipusingkan tentang perkara apakah saya harus masuk S3 semester ini atau tidak. Perlu diketahui, gambaran S3 yang ada saat ini sangat berbeda dengan S3 yang saya bayangkan ketika dulu sebelum kuliah. Saya membayangkan orang yang sedang kuliah S3 tersebut, betul-betul superior. Pokoknya seharian meneliti. Ketika itu saya tidak memperhitungkan faktor-faktor lain. Dalam artian, orang yang sedang menjalani S3 tersebut, pasti sedang fokus untuk menjalani pendidikannya. Tidak memikirkan hal lain dalam hidupnya. Kesehariannya pasti bagaimana agar segera menjadi seorang lulusan S3 dan memperoleh gelar Doktor. Lalu selanjutnya menjadi seorang Profesor.
Dan sekarang, saya melihatnya dalam sudut padang yang sangat berbeda.
Entah mengapa, nilai S3 ini seakan tereduksi dimata saya. Gelar yang diperoleh seakan tidak sepadan dengan kapasitas keilmuan yang diperoleh. Impact yang dihasilkan dari gelar tadi tidak signifikan terhadap realitas kehidupan. Mungkin saya salah mengukurnya. Jika mau sportif, tentu saya juga harus menilai seberapa banyak profesor di negeri ini, namun nyatanya juga begitu-begitu saja. Lulusan S3 ini ada lokal ada yang internasional. Yang lokal sebutannya Doktor, yang internasional Ph.D. Lebih bonafid tentunya yang Ph.D. Banyak yang protes mungkin, namun ya terima saja. Bahwa yang Ph.D akan lebih ‘S3’ dibanding yang doktor. Mohon maaf yaaa. No Offense.
Selain itu orang yang menjalani S3 ternyata tidak segitunya juga fokus disana saja. Mereka menjalani kehidupan lain yang sama dengan kebanyakan orang. Tetap bekerja. Berpenghasilan. Mengurus keluarga. Bermasyarakat. Semuanya. Dokter spesialis tetap praktek dan operasi. Dosen tetap mengajar. Yang punya aktifitas profesional lain tetap berjalan seperti biasa..
Lalu pertanyaannya, tetap mau lanjut S3 kah Aulia?
Entahlah.
