auliarahman.id

  • Ketika Operasi

    September 3rd, 2022

    Bercerita tentang aktifitas operasi mungkin bukan untuk semua orang. Sudut pandangnya banyak. Masing-masing orang memiliki pandangan tersendiri. Dari sisi dokter, ada yang menganggap aktifitas itu sakral. Tidak perlu diceritakan. Atau didokumentasikan. Ada yang juga senang bahkan berfoto ketika operasi. Ada yang pintar menarasikan apa yang dikerjakan dalam kamar operasi. Ada yang senang dengan berbagai trivial aktifitas operasi. Saya kenal salah satu scrub kamar operasi yang bisa saja menemukan momen menyenangkan dan seru dikamar operasi.

    Aktifitas operasi membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Stressor-nya juga besar sekali. Misalnya dalam bidang saya, bedah jantung. Kita berada dalam situasi yang rumit sebenarnya. Berhadapan dengan organ teramat vital bagi hidup orang. Ukurannya teramat kecil. Berpacu dengan waktu pula. Dalam jenis operasi tertentu, jantung dibiarkan bergerak, dan kita harus tetap menjaga presisi sedemikian rupa. Melenceng sedikit saja fatal. Saat operasi, biasanya jantung dibuat diam berhenti dengan obat tertentu. Kemudian dibuat berdenyut kembali ketika prosedur utama sudah tuntas. Peralihan kondisi statis ke dinamis tersebut selain menimbulkan ‘sedikit rasa lega’- karena jantung kembali berdenyut – juga diiringi ketegangan apakah akan ‘denyutan’ tersebut sesuai yang diharapkan. Stress sekali.

    Bagi saya, lumrah saja bercerita tentang aktifitas di kamar operasi. Koridornya jelas dan ada batas yang tidak boleh dilanggar. Data medis dan privasi pasien adalah prioritas. Ini jelas tidak boleh dipermainkan. Ada undang-undang yang mengatur. Ada peraturan ketat yang tidak boleh dilanggar. fatal sekali jika sampai ada yang main-main dengan ini.

    Namun, karena telah ditempa dalam ratusan atau bahkan ribuan kali kondisi yang sama, situasi tersebut dapat terkendali.
    Uniknya, dokter dan seluruh tim yang terlibat dalam operasi memiliki cara masing-masing dalam mengedalikan situasi penuh tekanan tersebut. Ada yang memutar musik, ada yang bersenandung, ada yang mendengar murattal quran, ada yang ngobrol sepanjang operasi, ada yang sesekali melontarkan candaan. Yang diam saja sepanjang operasi juga banyak. O ada juga yang marah-marah, tapi setelah operasi sukses, kalem lagi. Saya yakin, itu bagian dari cara mereka mengedalikan tekanan yang muncul selama operasi berlansung. hal ini penting dilakukan agar dokter dan tim dalam operasi tersebut dapat tetap ‘waras’. Operasi berhasil dan pasien kembali pulih sebagaimana yang diharapkan.

    Bicara tentang musik yang diputar ketika operasi, sebenarnya bukanlah hal baru. Saat ini cukup banyak ditemukan tulisan ilmiah yang meneliti tentang pengaruh musik yang diputar di dalam kamar operasi. Bahkan bagi pasien. Musik tertentu dengan kadar volume tertentu pula, dikatakan dapat berdampak positif bagi dokter dan tim. Bahkan meningkatkan performa. Namun musik juga dapat membuat distraksi jika terlalu berisik. Bagi saya sendiri, tidak terlalu punya preferensi untuk musik, apa saja boleh. Saya juga tidak terlalu suka kamar operasi yang terlalu hening. Begitupun kamar operasi yang terlalu berisik. Cukup dikendalikan seimbang.

    Ah, sekian dulu ya.

  • Aneh tapi Menyenangkan

    August 28th, 2022

    Kadang ya setiap saya selesai mengerjakan operasi jantung di tempat saya bertugas – RSUP Dr M Djamil- muncul perasaan aneh namun menyenangkan. Dulu saya tidak pernah terpikir akan mengerjakan operasi ini disini. Melihat saja tidak pernah. Hanya tahu dari slide kuliah dan film. Awalnya bahkan saya berpikir tidak mungkin ada operasi semacam itu di Indonesia. Hanya dikerjakan diluar negeri saja. Karena saya melihat operasi ini terlalu sulit, sangat berteknologi tinggi, memerlukan keterampilan yang luar biasa, dan mahal. Slide kuliah yang dulu sangat sederhana dan sebagian masih ditampilkan menggunakan OHP, tidak memberikan penjelasan yang detail tentang ini. Film yang menceritakan tentang inipun sepertinya terlalu mendramatisir, sehingga makin membuat operasi ini seakan mustahil dikerjakan. Ketika menjalani pendidikan klinik juga saya baru mulai mendengar bahwa operasi semacam itu pernah dikerjakan di RS ini, dengan mendatangan tim dari Jakarta. Namun sudah lama sekali vakum. Penyebabnya saya tidak tahu pasti. Yang saya ingat sebelum gempa besar tahun 2009, RSUP M Djamil punya satu gedung khusus Pelayanan Jantung Terpadu, mungkin saya disana dulu pusat kegiatannnya. Entahlah saya juga tidak tahu pasti. Gedung itu rasanya tidak ada lagi disana ketika saya mulai kembali pendidikan spesialis bedah. Gedung rumah sakit kami memang masih banyak tambal sulam sejak kejadian gempa besar tersebut. Wajar saja jika gedung tersebut seakan raib. Atau mungkin dialihfungsikan.

    Sampai saat ini tim kami memang baru mengerjakan sekitar 30-an kasus bedah jantung. Masih sangat sedikit untuk ukuran sebuah rumah sakit rujukan. Namun bagi saya hal ini sudah cukup untuk menjadi sebuah kebanggaan. Makanya sampai saat ini pun, saya masih merasakan perasaan aneh namun menyenagkan tersebut. Oiya,ada bagian cerita yang perlu dituliskan tentang hal ini. Saya tidak pernah sedikitpun membayangkan untuk menjadi menjadi dokter bedah TKV. Dulu saya ingin jadi dokter ortopedi. Itu lebih realistis sepertinya. Sejalan juga dengan aktifitas saya di bidang kemanusiaan ketika itu. Namun dalam perjalannanya,ya, tidak ditakdirkan kesana. Takdirnya ke Bedah TKV. Dan ternyata memang takdir Allah selalu yang terbaik. Jadinya dulu saya lebih akrab dengan ortopedi. Bacaan, ikut operasi, seminar dan lainnya. Sama sekali tidak ada bedah jantung. Sampai pada akhirnya berkutat di bidang ini. Sekali lagi benar-benar membuat saya takjub sendiri.

    Bagi sebagian besar orang yang terlibat dalam kegiatan di kamar operasi RSUP Dr M Djamil, bedah jantung sendiri masih menjadi sesuatu yang unik. Saya ingin memakai istilah menakjubkan, luar biasa atau memukau. Namun terlalu berlebihan. Unik lebih tepat mungkin. Beberapa pegawai senior mungkin masih pernah terlibat dengan aktifitas bedah jantung era 90-an, dan mereka masih punya memori tentang itu. Saya senang mendengar cerita nostalgia mereka. Namun tetap saja, sebagian besar lain masih baru dengan hal ini. Bagi mereka, melihat prosedur operasi itu mungkin juga menimbulkan perasaan antusias tersendiri. Ingin terlibat mungkin tidak ya. Jenis operasi kami kebanyakan lebih enak dilihat saja, namun jangan sampai terlibat. karena rumit, ribet dan biasanya lama. Haha.

    Dalam momen lain, saya kadang senyum sendiri melihat adik-adik koas yang ikut melihat kegiatan operasi jantung. Kesempatan yang saya tidak pernah mendapatkannya dulu. Membimbing residen dalam sebuah operasi yang saya yakin mereka juga tidak pernah melihat secara lansung juga menimbulkan rasa yang unik. Memimpin orkestra operasi di tempat dulu kita menjadi bersekolah memang menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa.

    Demikian

  • Go ETH

    May 21st, 2022

    Saya punya dua jersey ikonik Manchester United. Satu jersey yang dipakai ketika final Liga Champion 1999 dan satu jersey final Liga Champion 2008. Keduanya juara. Tentunya saya senang sekali dengan kedua jersey tersebut. Apalagi saat sekarang. Dimana Manchester United – MU – jadi klub semenjana. Tidak lolos Liga Champion musim depan jadi salah satu pencapaian buruk musim ini. Terlempar diluar 4 besar Liga Inggris itu terasa memalukan. Peringkat 6. Bayangkan. Manchester United peringkat 6 diakhir musim. Timnya betul-betul rusak.

    Namun diisisi lain saya merasa bisa menerima kondisi. Pencapaian yang seperti ini bisa membuat MU menjadi lebih membumi. Menyadari bahwa saat ini MU bukan lagi tim elit. Rasanya itu kondisi ‘ideal’ baik untuk kembali menata klub ini menjadi lebih punya arah. Erik ten Hag yang didapuk menjadi manager musim depan harusnya dapat menjadi sosok yang tepat untuk membuat landasan yang kokoh untuk beberapa tahun kedepan. Sepakbola jaman sekarang memang menuntut hasil yang cepat. Sulit untuk menerima kondisi seperti yang dialami Sir Alex Ferguson diawal masa kepelatihannya dulu. Manager harus diberikan waktu yang lebih untuk membuktikan diri. Membuat pondasi yang kokoh bagi klub yang sedang labil seperti MU agar kembali kuat dan menjadi kembali elit. Saya rasa minimal butuh 2-3 musim. Jika berhasil memperoleh gelar di musim pertama, saya rasa itu hanya bonus.
    Gambaran bahwa MU akan menjadi klub labil muncul persis ketika manajemen memecat David Moyes saat belum genap 1 musim memimpin MU. Berturut turut Van Gaal, Mourinho dan Solksjaer dipecat membuat jelas bahwa MU tidak punya kapasitas lagi menjadi tim yang kokoh pondasinya. Jujur sebagai fans sepakbola, kita selalu senang melihat pelatih yang dilepas klub dengan selebrasi. Setidaknya standing applause di akhir musim. Guardiola dan Klopp mungkin beberapa contoh pelatih yang setiap pindah klub selalu mendapatkan penghargaan yang seharusnya didapatkan seorang yang berjasa terhadap klub. Guardiola pindah dari Barcelona dan Bayern Muenchen. KLop pindah dari Mainz dan Dortmund. Semoga saja Erik ten Hag mendapatkan kebanggaan itu dari MU. Siapa yang tidak ingin mendapatkan kesempatan farewell speech seperti SAF di akhir musim 2012/2013.


    Go ETH

  • Mudik Balik

    May 6th, 2022

    Ah, sepertinya saya perlu sedikit memaksa diri untuk membuat ketikan ini. Terlalu lama jarak antara postingan terakhir sampai sekarang. Lebih dari 2 bulan saya seingat saya. Freewriting saja.

    Tadi malam kami sekeluarga baru sampai dari Pekanbaru. Dua hari disana. Berangkat dari Padang di hari pertama lebaran. Singgah sebentar di kampung istri di Pakan Kamih. Lanjut perjalanan ke Pekanbaru lebih kurang 6 jam. Nah, perjalanan balik tadi malam melewati jalur alternatif via Taluk Kuantan. Sebelumnya sudah dikabari oleh pihak travelnya bahwa jalur biasa Pekanbaru-Padang macet parah. Mobil yang berangkat malam sebelumnya masih belum sampai di Pekanbaru. Masih separuh jalan. Kami sepakat lewat jalur alternatif. meskipun menambah sedikit ongkos.

    Perjalanan dimulai dari rumah. Singgah sebentar di Starbuck mengisi ransum kopi. Lanjut ke Simpang Panam lalu masuk Kubang Raya sampai ke pertigaan Kaharudin Nasution belok kanan. Terus sampai Teratak Buluh. Nyebrang sungai Kampar. Lewati Perhentian Raja sampai ke Sungai Pagar. Lewati Penghidupan terus sampai ke Lipat Kain via jalan raya Gunung Sahilan. Sepanjang jalan isinya kebun sawit tak putus-putus. Sampai di pertigaan SImpang Koran lurus terus. Singingi Hilir masih lanjut sampai Peta terus ke Muara Lembu. Lalu kami berhenti makan di Logas. Rumah makannya enak. Ayam gorengnya baru di angkat. Anak-anak makan di mobil. Kebetulan ada beberapa potong ayam goreng KFC yang kami siapkan untuk jaga-jaga semisal tidak ada warung makan yang buka. Perjalanan lanjut melewati Jake sampai ke Taluk Kuantannya. Biasanya sih kami sebut Kuansing-Kuansing saja.

    Selanjutnya masuk ke Lubuk Jambi. Ada kampung Gunung Toar namanya. Kemudian lewat jembatan besar besar yang menyeberang sungai Indragiri. Setelah masuk jalur hutan sampai ke perbatasan Riau-Sumatra Barat. Mulai ketemu mobil motor plat BA. Daerahnya namanya Kamang. Mirip dengan yang di Agam. Ini sudah masuk daerah Sijunjung. Sampailah kami di Kiliran Jao. Masuk jalan lintas Sumatra ke arah Solok. Pemandangan sepanjang jalan disini mulai indah. Lewati Sungai Lansek- Tanjung Gadang. Sampai di depan RSUD Sijunjung. Biasanya jika lewat rumah sakit, saya dan istri mencoba mengingat-ingat siapa rekan-rekan sejawat yang bertugas disana. Setidaknya yang bagian Anak dan Bedah, atau teman-temang angkatan kami 2003. Kemudian melewati Palangki- Muaro Bodi dan Padang Sibusuk. Seingat saya masuk ke Muaro Kalaban dan Silungkang. Daerah tekstil. Asal kain songket yang terkenal itu. Setelah itu masuk Solok. Hari mulai gelap. Melewati Sungai Lasi. Selanjut agak sedikit macet di perempatan. Saya lupa nama simpang itu. Pokoknya kami belok kiri setelah itu. Dari sini kami lebih familiar. Masuk Solok, lalu ketemu nagari Cupak dan sampai ke Arosuka. Lewat Lubuk Selasih sampai ke Sitinjau Lauik. Disini juga sedikit macet, terutama dari arah berlawanan. Realtig padat-lancar sih sebenarnya. Sampai ditikungan legendaris yang hits di Youtube itu. Berkendara lewat sini memang mesti ekstra hati-hati.

    Akhirnya sampai di Padang kira-kira pukul 11 malam. Sesuai perkiraan. Perjalanan juga menyenangkan. Anak-anak juga enjoy. Tidak ada yang mabuk darat. Oiya kabarnya hari ini jauh lebih macet dibanding kemarin. Jalur alternatif ini juga makin macet kabarnya. Mungkin sesuai dengan meme yang saya buat ini.

    Selamat mudik-balik.

  • Literasi Keuangan

    February 14th, 2022

    Literasi keuangan adalah satu topik yang jadi hangat belakangan ini. Bagi orang yang berkutat dalam bidang finance atau praktisi ekonomi, mungkin tidak asing dengan istilah ini. Hal yang biasa saja. Menjadi hangat ketika bahasan ini muncul dalam profesi kedokteran. Dokter secara natural tidak pernah belajar topik ini. Maksud saya secara natural dalam jenjang pendidikannya. Tidak ada segmen khusus yang membahas ini. Saya coba mengingat-ingat lagi, memang tidak pernah sedikitpun pembahasan tentang ini. Menjadi ironis, karena dalam kehidupan nyata dilapangan, dokter pasti akan berhadapan dengan aspek keuangan. Lumrah jika masyarakat menilai profesi dokter adalah profesi yang berkecukupan. Kita tidak memperdebatkan hal ini. Meskipun saya tahu jika pernyataan ini diasumsikan bahwa semua dokter itu kaya raya, itu tidak benar. Berkecukupan menurut saya ada istilah yang paling wajar digunakan. Lebih netral.

    Lalu bagaimana seorang dokter mengelola keuangannya. Setahu saya ya berjalan secara alamiah saja. Sambil menjalani profesinya, mendapatkan penghasilan, lalu mengatur pengeluarannya sedemikian rupa dengan kebiasaan atau insting saja. Prinsip dasar seperti tidak boros, hemat, menabung, berinvestasi, charity dan sebagainya tentu secara instingtif diaplikasikan dalam kehidupan. Ada yang berhasil, ada yang tidak. Ada yang sukses sekali dalam keuangan, ada yang hancur. Sebagian besar masih dalam kondisi berkecukupan tadi. Jadi apakah memang perlu ada pengetahuan khusus bagi seorang dokter tentang keuangan ini? Mungkin yang dimaksudkan disini, apakah perlu semacam keseragaman dalam asupan ilmu mengenai keuangan ini? Apakah seoranga dokter perlu mendapatkan pembekalan mengenai keuangan ini sebelum ia nanti ‘punya uang’?.

    Bagi saya pribadi, saya menyesal dahulu tidak pernah belajar tentang keuangan secara khusus. Literasi keuangan saya sangat payah. Sampai saya berpikir, beberapa mata kuliah yang sekarang rasa-rasanya tidak terpakai, mengapa dulu tidak diganti saja dengan mata kuliah tentang pengelolaan keuangan, instrumen investasi, pajak, dan lain sebagainya. Lebih terpakai. Lebih aplikatif. Mungkin baru 2-3 tahun setelah lulus saya mulai sedikit-sedikit tahu. Ooo ternyata ada yang seperti ini. Ooo ada ilmunya yang seperti ini. Hidup dokter tidak selesai hanya dengan melayani pasien lalu mendapatkan imbal jasa, untuk kemudian dipakai untuk hidup. Berulang seperti itu. Harus ada ilmunya.

    Literasi keuangan sudah saatnya menjadi sesuatu yang formal diajarkan dalam pendidikan kedokteran. Dengan proporsi yang cukup. Saya tahu sudah ada beberapa fakultas kedokteran yang memulai ide brilian ini. Saya rasa itu langkah yang sangat perlu diapresiasi dan diikuti oleh fakultas kedokteran lain. Jika belum menjadi subjek pendidikan formal, setidaknya mendorong calon dokter dan para dokter untuk menambah proporsi literasi keuangan mereka perlu digiatkan. Senang melihat sudah bermunculan kanal-kanal media sosial dan persona dokter yang mengangkat tentang topik ini. Semoga seterusnya semakin berkembang dan maju.

←Previous Page
1 2 3 4 5 6 … 11
Next Page→

Create a website or blog at WordPress.com

 

Loading Comments...
 

    • Subscribe Subscribed
      • auliarahman.id
      • Join 31 other subscribers
      • Already have a WordPress.com account? Log in now.
      • auliarahman.id
      • Subscribe Subscribed
      • Sign up
      • Log in
      • Report this content
      • View site in Reader
      • Manage subscriptions
      • Collapse this bar