Bercerita tentang aktifitas operasi mungkin bukan untuk semua orang. Sudut pandangnya banyak. Masing-masing orang memiliki pandangan tersendiri. Dari sisi dokter, ada yang menganggap aktifitas itu sakral. Tidak perlu diceritakan. Atau didokumentasikan. Ada yang juga senang bahkan berfoto ketika operasi. Ada yang pintar menarasikan apa yang dikerjakan dalam kamar operasi. Ada yang senang dengan berbagai trivial aktifitas operasi. Saya kenal salah satu scrub kamar operasi yang bisa saja menemukan momen menyenangkan dan seru dikamar operasi.
Aktifitas operasi membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Stressor-nya juga besar sekali. Misalnya dalam bidang saya, bedah jantung. Kita berada dalam situasi yang rumit sebenarnya. Berhadapan dengan organ teramat vital bagi hidup orang. Ukurannya teramat kecil. Berpacu dengan waktu pula. Dalam jenis operasi tertentu, jantung dibiarkan bergerak, dan kita harus tetap menjaga presisi sedemikian rupa. Melenceng sedikit saja fatal. Saat operasi, biasanya jantung dibuat diam berhenti dengan obat tertentu. Kemudian dibuat berdenyut kembali ketika prosedur utama sudah tuntas. Peralihan kondisi statis ke dinamis tersebut selain menimbulkan ‘sedikit rasa lega’- karena jantung kembali berdenyut – juga diiringi ketegangan apakah akan ‘denyutan’ tersebut sesuai yang diharapkan. Stress sekali.
Bagi saya, lumrah saja bercerita tentang aktifitas di kamar operasi. Koridornya jelas dan ada batas yang tidak boleh dilanggar. Data medis dan privasi pasien adalah prioritas. Ini jelas tidak boleh dipermainkan. Ada undang-undang yang mengatur. Ada peraturan ketat yang tidak boleh dilanggar. fatal sekali jika sampai ada yang main-main dengan ini.
Namun, karena telah ditempa dalam ratusan atau bahkan ribuan kali kondisi yang sama, situasi tersebut dapat terkendali.
Uniknya, dokter dan seluruh tim yang terlibat dalam operasi memiliki cara masing-masing dalam mengedalikan situasi penuh tekanan tersebut. Ada yang memutar musik, ada yang bersenandung, ada yang mendengar murattal quran, ada yang ngobrol sepanjang operasi, ada yang sesekali melontarkan candaan. Yang diam saja sepanjang operasi juga banyak. O ada juga yang marah-marah, tapi setelah operasi sukses, kalem lagi. Saya yakin, itu bagian dari cara mereka mengedalikan tekanan yang muncul selama operasi berlansung. hal ini penting dilakukan agar dokter dan tim dalam operasi tersebut dapat tetap ‘waras’. Operasi berhasil dan pasien kembali pulih sebagaimana yang diharapkan.
Bicara tentang musik yang diputar ketika operasi, sebenarnya bukanlah hal baru. Saat ini cukup banyak ditemukan tulisan ilmiah yang meneliti tentang pengaruh musik yang diputar di dalam kamar operasi. Bahkan bagi pasien. Musik tertentu dengan kadar volume tertentu pula, dikatakan dapat berdampak positif bagi dokter dan tim. Bahkan meningkatkan performa. Namun musik juga dapat membuat distraksi jika terlalu berisik. Bagi saya sendiri, tidak terlalu punya preferensi untuk musik, apa saja boleh. Saya juga tidak terlalu suka kamar operasi yang terlalu hening. Begitupun kamar operasi yang terlalu berisik. Cukup dikendalikan seimbang.
Ah, sekian dulu ya.



