Papan karangan bunga mungkin salah satu kebiasaan masyarakat kita yang saya tidak suka. Saya tidak begitu paham latar belakang atau sejarah kebiasaan ini yang bahkan hampir menjadi budaya. Namun bagi saya kebiasaan ini cukup mengganggu. Jika ditanya apakah pernah mengirim karangan bunga, jawabannya pernah. Atas nama organisasi atau komunitas. Belum pernah mengirim papan karangan bunga atas nama pribadi. Saya tidak melihat ada esensinya benda yang satu ini. Salah satu guru saya jika kalau tidak salah pernah mencantumkan himbauan tidak mengirim papan karangan bunga ketika pesta pernikahan anaknya. Menurut saya itu langkah yang hebat. Salut.
Saya melihat papan karangan bunga ini kepentingannya lebih kepada pengirim ya. Secara personal, ketika mengirim papan karangan bunga, ada pemenuhan semacam “kewajiban” atau “sungkan”. Kadang juga tersisip rasa unjuk diri mengingat yang tertulis disana adalah nama lengkap beserta atribut gelar dan institusi. Makin kesini pengirim papan karangan bunga personal atau peergroup juga banyak yang mencantumkan aksi-aksi tulisan kocak yang mungkin dimaksudakn sebagai candaan atau hiburan. Namun tak jarang provokatif. Sering juga berfungsi sebagai pengganti kehadiran. Karena terhalang jarak atau kegiatan lain. Bagi institusi mengirim papan karangan bunga jadi semacam keharusan dengan tujuan penghormatan, menjaga network, etika antar kolega bisnis dan sebagainya.
Bagi yang punya perhelatan papan karangan bunga ini mungkin menjadi ukuran kemeriahan atau seberapa luas empati yang diterima ketika kemalangan. Saya tidak terlalu paham. Mungkin makin kesini karangan bunga juga didata secara detail oleh yang empunya hajatan. Supaya tahu siapa yang ‘menjawab’ undangan yang bersangkutan dan jadi semacam catatan bahwa si pengirim papan karangan bunga suatu saat harus dibalas ‘jasa’nya. Sisi lain-nya bisa jadi yang tidak mengirim papan karangan bunga jadi berada di kelompok yang berbeda dengan yang mengirimkan karangan bunga. Agak termarginalkan. Mungkin ya.
Bagi saya, masalah karangan bunga adalah perkara buang uang dan mengganggu ketertiban. Saya tidak melihat esensi apapun dari papan karangan bunga. Harganya juga lumayan. Makin besar unik dan meriah, harga makin tinggi. Karangan bunga yang diletakkan di fasilitas umum sering mengganggu pejalan kaki. Kadang berhari-hari. Menunggu diambil oleh yang punya. Kadang sampai hancur tidak diambil. Hanya sisa kayu. Karangan bunga di trotoar membuat pejalan kaki mesti bergeser ke jalan raya. Da itu berbahaya sekali. Harusnya yang punya hajatan paham akan hal ini dan tidak berdalih “ halah, cuma sebentar kok”.
Tidak akan hilang makna acara atau momentum jika tidak ada papan karangan bunga ini. Kehadiran jauh lebih menggambarkan penghargaan terhadap tuan rumah. Jikapun tidak, ucapan lisan ataupun digital dapat mewakili. Sudah cukup. Tidak usah khawatir kita dianggap tidak menghargai jika tidak mengirim papan karangan bunga. Tenang saja.
Mungkin opini ini tidak akan populer dikalangan pengusahan karang bunga. Tentu saja. Namun saya yakin pelaku bisnis ini juga pasti sangat kreatif, dan dapat beralih menemukan ide baru jika saja nantinya karangan bunga tidak lagi populer.


