auliarahman.id

  • Papan Karangan Bunga

    February 11th, 2022

    Papan karangan bunga mungkin salah satu kebiasaan masyarakat kita yang saya tidak suka. Saya tidak begitu paham latar belakang atau sejarah kebiasaan ini yang bahkan hampir menjadi budaya. Namun bagi saya kebiasaan ini cukup mengganggu. Jika ditanya apakah pernah mengirim karangan bunga, jawabannya pernah. Atas nama organisasi atau komunitas. Belum pernah mengirim papan karangan bunga atas nama pribadi. Saya tidak melihat ada esensinya benda yang satu ini. Salah satu guru saya jika kalau tidak salah pernah mencantumkan himbauan tidak mengirim papan karangan bunga ketika pesta pernikahan anaknya. Menurut saya itu langkah yang hebat. Salut.

    Saya melihat papan karangan bunga ini kepentingannya lebih kepada pengirim ya. Secara personal, ketika mengirim papan karangan bunga, ada pemenuhan semacam “kewajiban” atau “sungkan”. Kadang juga tersisip rasa unjuk diri mengingat yang tertulis disana adalah nama lengkap beserta atribut gelar dan institusi. Makin kesini pengirim papan karangan bunga personal atau peergroup juga banyak yang mencantumkan aksi-aksi tulisan kocak yang mungkin dimaksudakn sebagai candaan atau hiburan. Namun tak jarang provokatif. Sering juga berfungsi sebagai pengganti kehadiran. Karena terhalang jarak atau kegiatan lain. Bagi institusi mengirim papan karangan bunga jadi semacam keharusan dengan tujuan penghormatan, menjaga network, etika antar kolega bisnis dan sebagainya.

    Bagi yang punya perhelatan papan karangan bunga ini mungkin menjadi ukuran kemeriahan atau seberapa luas empati yang diterima ketika kemalangan. Saya tidak terlalu paham. Mungkin makin kesini karangan bunga juga didata secara detail oleh yang empunya hajatan. Supaya tahu siapa yang ‘menjawab’ undangan yang bersangkutan dan jadi semacam catatan bahwa si pengirim papan karangan bunga suatu saat harus dibalas ‘jasa’nya. Sisi lain-nya bisa jadi yang tidak mengirim papan karangan bunga jadi berada di kelompok yang berbeda dengan yang mengirimkan karangan bunga. Agak termarginalkan. Mungkin ya.

    Bagi saya, masalah karangan bunga adalah perkara buang uang dan mengganggu ketertiban. Saya tidak melihat esensi apapun dari papan karangan bunga. Harganya juga lumayan. Makin besar unik dan meriah, harga makin tinggi. Karangan bunga yang diletakkan di fasilitas umum sering mengganggu pejalan kaki. Kadang berhari-hari. Menunggu diambil oleh yang punya. Kadang sampai hancur tidak diambil. Hanya sisa kayu. Karangan bunga di trotoar membuat pejalan kaki mesti bergeser ke jalan raya. Da itu berbahaya sekali. Harusnya yang punya hajatan paham akan hal ini dan tidak berdalih “ halah, cuma sebentar kok”.

    Tidak akan hilang makna acara atau momentum jika tidak ada papan karangan bunga ini. Kehadiran jauh lebih menggambarkan penghargaan terhadap tuan rumah. Jikapun tidak, ucapan lisan ataupun digital dapat mewakili. Sudah cukup. Tidak usah khawatir kita dianggap tidak menghargai jika tidak mengirim papan karangan bunga. Tenang saja.

    Mungkin opini ini tidak akan populer dikalangan pengusahan karang bunga. Tentu saja. Namun saya yakin pelaku bisnis ini juga pasti sangat kreatif, dan dapat beralih menemukan ide baru jika saja nantinya karangan bunga tidak lagi populer.

  • Lari

    February 9th, 2022

    Mulai rutin berlari sejak tahun 2016. Sampai sekarang. Saya tidak ingat persis bagaimana awalnya. Yang jelas waktu itu ketika stase bedah jantung pediatrik di Harapan Kita. Stase berat. Rasanya perlu mencari semacam cara untuk melepas stress. Sepakbola yang biasanya jadi pelarian, tidak bisa dikerjakan setiap saat. Jadilah lari menjadi alternatifnya. Sejak saat itu lari menjadi aktifitas rutin.

    Namun saya ingat sewaktu dulu kuliah, sebenarnya lari sudah jadi salah satu pilihan olahraga. Jogging kita sebutnya. Lari pagi ke TapLau atau disekitar kompleks PJKA. Satu, dua atau beberapa putaran. Kuliah biasanya mulai jam delapan pagi. Mulai lari sekitar pukul enam setelah shalat subuh atau paling telat setengah 7. Pulang pasti bawa sarapan. Biasanya lontong taplau. Tidak rutin. Dan menganggap itu sebagai aktifitas selingan saja.

    Selepas lulus juga sesekali berlari. Saya dulu bekerja di daerah Duri. Dekat dengan komplek Chevron. Camp biasa kita menyebutnya. Areanya sangat mendukung untuk jalan santai atau berlari. Circa 2010-2012 sering lari pagi atau lari sore disana. Kemudian aktifitas ini benar-benar hilang setelah jadi PPDS.

    Barulah sekitar tahun 2016 itu mulai kembali rutin. Mulai menganggap lari adalah olahraga yang perlu rutin. Mulai memikirkan sepatu lari, celana lari, aplikasi pendukung dan semacamnya. Mulai berpikir ada atau tidak komunitas yanfg mendukung aktifitas ini. Sesekali saya sempat berpikir untuk benar-benar serius menekuni lari. Maksudnya sampai ikut lomba-lomba lari. Marathon, Half-Marathon, 10K, 5K dan semacamnya. Namun sampai sekrang saya tidak pernah ikut lomba smacam itu. Luring ataupun daring tidak pernah sekalipun. Sampai sekarang hanya menikmati berlari sebagai olahraga saja. Sebagai aktifitas fisik biasa. Komunitas bagaimana? Akhirnya setelah pulang ke Padang, bergabung dengan Rundoc. Komunitas l ari alumni FK Unand. Setidaknya ada ruang untuk berbagi pengalaman lari. Sekedar haha hihi dengan sesama alumni. Dalam konteks bahasan lari. Dulu sewaktu masih di Jakarta pernah ikut beberapa kali dengan komunitas. Tapi ternyata sulit untuk mengikuti jadwalnya. Maklum masih PPDS. Akhirnya tidak lanjut. Benar-benar jadi solo runner.

    Saat ini saya mungkin dalam fase ketagihan lari. Hampir tiap hari berlari sekarang. Biasnya 3-7 km di hari kerja. Di akhirn pekan biasanya 10 km keatas. Total mingguan biasanya 25-30an km. Kadang lebih.

    Pertanyaannya mungkin apa tujuannya berlari. Sampai saat ini saya hanya menikmati proses berlari. Rasa lega setelah selesai berlari. Badan terasa lebih segar. Pikiran lebih terbuka. Ada rasa bersemangat ubntuk melakukan berbagai aktifitas di hari itu. Katanya ini akibat efek endorfin. Semacam hormon ‘bahagia’. Ah saya kurang paham. Mungkin ada saatnya bikin tulisan ilmiah untuk bahas itu. Namun yang jelas, dengan berlari, saya lebih nyaman.

    Sampai kapan? Tidak tahu. Yang penting saya berlari hari ini. Besok adalah cerita yang berbeda.

  • ..yang penting paham.

    February 1st, 2022

    Anda asing dengan istilah BTKV tentu. Tenang. Sebagian besar orang Indonesia juga begitu. Sedikit sekali yang familiar. Yang kenal juga belum tentu bisa menyebutkan kepanjangannya dengan benar. Oya, bahkan orang dalam BTKV sendiri mungkin juga ada yang tidak tahu bagaimana kepanjangan resminya. Haha.

    Resminya, BTKV adalah kependekan dari Bedah Toraks, Kardiak dan Vaskular. Ada banyak varian penulisan dan penyebutan yang mungkin bagi segelintir orang cukup mengganggu. Namun sebenarnya yang dimaksudkan sama. Ini bidang spesialisasi bedah yang ruang lingkup kerjanya paling luas. Untuk menjelaskan tentang bidang ilmu ini. Biasanya saya perlu melihat latar belakang lawan bicara. Perlu menakar sejauh mana dia akan bisa menerima penjelasan istilah yang saya gunakan. Contohnya begini. Saya akan menyebutkan secara detail sebagai Bedah Toraks, Kardiak dan Vaskular kepada komunitas medis dan paramedis dalam suasana formal. Saya menggunakan istilah BTKV di tempat yang memang sudah biasa mendengarnya. Sama seperti saya akan menggunakan istilah Bedah Jantung, Bedah Toraks atau Bedah Vaskular secara terpisah pada komunitas atau audiens yang dirasa lebih bisa menerima masing-masing istilah tersebut. Saya lebih memilih memperkenalkan diri sebagai dokter bedah paru-paru kepada pasien awam yang akan menjalani prosedur operasi padan tumor paru, daripada saya memperkenalkan diri sebagai dokter bedah jantung. Yang tentunya lebih tepat saya gunakan pada pasien yang akan menjalani operasi bypass koroner atau penyakit jantung bawaan. Kadang juga istilah Bedah Dada kepada pasien dengan cedera pada area dada. Luka tusuk misalnya. Bagi pasien awam dengan kebutuhan terhadap akses cuci darah atau varises lebih lazim sebutan dokter bedah vaskuler atau dokter vaskuler saja. Jadi sangat bergantung kepada bagaimana saya mengenali dengan siapa saya berbicara saya saat itu. Apakah selalu berhasil? Orang tersebut paham? Tidak juga. Terkadang butuh penjelasan beberapa kalimat agar lebih sahih. Biasanya terkait irisan dengan sejumlah bidang spesialisasi lain. Tidak mengapa. Saya juga senang kok menjelaskan. Sejawat spesialisasi lain tentunya juga senang sudah dibantu memberikan edukasi mengenai bidang spesialisasi mereka.

    Ya begitulah BTKV. Saya tidak perlu setiap saat menggunakan kalimat Spesialis Bedah Torak Kardiak dan Vaskular secara utuh. Cukup dengan pilihan sebutan yang rasanya bisa dipahami oleh audiens.

    Sekian tulisan gabut kali ini.

     

  • Fellowship

    January 30th, 2022

    Baik. Ini adalah kali pertama menulis tahun ini. Tunggu sebentar. Sepertinya lebih lama. Sejak pertengahan tahun kemarin. Lalu apa yang membuat akhirnya kembali menulis? Waktu luang. Ya. Ada lebih banyak waktu luang sepertinya saat ini. Akhir pekan tentunya.

    Oya, saat ini saya sedang menjalani pendidikan tambahan. Ya, katakanlah begitu. Sebut saja begitu. Sebutan kerennya fellowship. Istilah pertama tentang fellowship yang pernah saya tahu adalah dari film Lord of The Ring : Fellowship of the Ring. Oh ternyata ada kaitannya. Sebagian besar berkutat pada penyakit koroner dan katup. Fellowship yang saya jalani sekarang adalah bedah jantung dewasa. Kasus yang ditangani adalah pasien yang tidak bisa lagi dipasang ‘ring’ sehingga perlu menjalani pembedahan. Selain itu juga ada ‘ring’ yang dipasang di klep jantung. Tidak jauh dari ‘ring’ juga ternyata. Walaupun ya tidak sedangkal itu juga sih. Dad Jokes. haha

    Setelah menjalani pendidikan spesialis selama 5 tahun, lalu tambah lagi 1 tahun? Ya. Memang banyak yang bertanya ini itu. ah sebodolah. Saya cuma mau maju. Terus mengarah kedepan. Walaupun modal tangan dan isi kepala biasa-biasa saja, jalan terus. Bodo amat.

    Apa yang dikerjakan? Tentunya operasi. Belajar lagi perioperatif. Tata kelola pre dan pasca operasi.Lalu juga ada aspek informal yang perlu juga dipelajari di sela kegiatan itu. Macam manajemen tim, logistik dan sentra bedah jantung. Banyak sih yang lain.

    Menyenangkan? Sejauh ini iya. Semoga terus begitu. Jikapun tidak, ya tetap saja dijalani. Toh saya yang pilih sendiri untuk sekolah. Saya mau maju. Titik.

  • eLPeJe

    August 3rd, 2021

    Jadi, saya baru menyelesaikan satu tahapan lagi dalam status CPNS. Jumat pekan ini. Latihan Dasar CPNS Kementrian Kesehatan. Latsar CPNS Kemkes. Biasanya cukup disebut Latsar saja. Lebih sering, saya menyebutnya Prajab. Jika yang bertanya orang-orang tua, saya sebutnya LPJ. Sesuaikan saja.   

    Apa yang menarik? Banyak.

    Ini Latsar CPNS daring penuh pertama sepanjang sejarah. Seluruh sesi dilaksanakan jarak jauh. Duduk didepan gawai. Total 4 bulan. materi ajar seluruhnya diunduh dan dipelajarui sendiri. Kemudian diperdalam melalui kuliah oleh mentor dan dipadatkan lagi oleh fasilitator melalui berbagai kegiatan. Tugasnya juga banyak. Baru kali ini saya bikin vlog untuk bikin tugas. Selain itu juga kegiatan roleplay juga tidak sedikit. Seluruh dikerjakan daring. Unik. Pemateri dan fasilitator juga unik. Tampak sekali mereka sangat menguasai perannya.

    Kelompok saya terdiri dari 8 orang termasuk saya. Empat orang dari tempat saya bekerja, dan 4 orang lagi dari Palembang.  Empat dokter spesialis, 2 dokter gigi spesialis dan 2 apoteker. Tahap awal kami masih agak canggung. Saya sendiri rasanya sudah sangat lama tidak ikut pelatihan semacam ini. Namun pelan-pelan cair. Ternyata semuanya koplak. Tugas-tugas tetap selesai. Meskipun kadang deadliners. Menyenangkan.

    Kelompok saya ada Pak Ridho, Ortoped hitz Palembang. Sering dibilang dia ini kembaran saya. Karena jidatnya mirip. Lalu ada Ajo Andry, Internist hitz Padang. Kalo ini partner saya dari kuliah dulu. Panggilan super-nya Dum. Bendum. Berikutnya Pak Fadil, calon Dirjen. Uroloh hitz Palembang. Peserta terbaik nomor 3. Ketua kelompok kami. Lalu ada Ibu Andien. Nama aslinya Sekar. Mirip sekali dengan Andien yang artis jazz itu. Ibu sekretaris kelompok kami. Selanjutnya Ibu Azkia dan Ibu Devina. Duo Amak dan Anak apoteker. Rapi sekali kerjaannya. Laporan akhirnya tebal tak terperi. Terakhir Ibu Yuli. Artis utama tugas roleplay kami. Paling sabar meghadapi anak-anak sakit gigi. Demikian kelompok unik ini.

    Coach kami namanya Ibu Devi. Baik sekali orangnya. Kami dikirimi template power point untuk laporan akhir kegiatan aktualisasi. Bagus disainnya. Saya pakai pasti. Saya heran, ibu-nya bisa sabar bimbing kelompok kami yang banyak gaya. Kami doakan Ibu devi sehat sentosa sepanjang masa.

    Mentor kami Pak BESTari. Sesuai nama, terbaik tentunya. Diskusi mengenai topik yang kami angkatkan dalam aktualisasi diadakan dirooftop rumah sakit. Udara terbuka. Prokes yang utama. Tugas-tugas kami sesuai target terlaksana degan baik. Dalam presentasi, beliau dukung habis-habisan. Terbaiklah pokoknya pak. Sehat sentosa sepanjang masa juga Pak.

    Saya jadi ingat dulu ketika ibuk saya LPJ Departemen Agama sekitar awal 90-an. Ibuk saya guru bahasa Arab di Madrasah Aliyah Negeri (MAN), setingkat SMA. Beliau harus tinggal di Padang dalam rentang waktu yang cukup lama. Ketika itu kami masih menetap di Bukittinggi. Saya masih merekam ingatan bagaimana susahnya Ibuk ketika LPJ. Tinggal di kamar kosan 1 kamar. Dinding sekat kayu. Adik saya yang nomor 3 ketika itu masih balita, jadi terpaksa ikut ke Padang. Saya dan adik yang nomor 2 tetap sekolah di Bukittinggi. Sesekali di akhir pekan dibawa nenek mengunjungi ibuk ke Padang. Ketika itu kami menikmati saja. Toh sambil jalan-jalan ke Padang. Melihat pantai naik bus ANS. Namun sekarang ketika melihat foto-fotonya, memang suram sekali waktu itu. Berat memang LPJ ibuk ketika itu. Setidaknya sekarang kegiatan semacam ini jauh lebih baik. 

    Manusia ya kadang tidak pernah puas. Pernah saya berpikir, kerjaan duduk didepan laptop atau komputer dalam waktu berjam-jam itu adalah pekerjaan yang menyenangkan. Duduk, ngetik, baca-baca. Namun setelah selesai kegiatan tahap terakhir Latsar ini,  yang mengharuskan saya duduk didepan gawai dari pagi sampai sore, saya bersyukur bahwa pekerjaan saya yang yang sekarang jauh lebih tepat untuk saya. Saya lebih memilih operasi berjam-jam daripada duduk memandangi layar laptop berjam-jam. Betul-betul tidak betah saya statis seperti itu.

    Seterusnya, kegiatan ini tentunya jadi bekal yang baik untuk menjalani aktifitas kedepan. Tidak tahu apakah aktifitas pelatihan daring ini memiliki efektifitas yang sama dengan cara klasik. Entahlah. Hasilnya baru akan ketahuan nanti. Semoga saja sesuai harapan.

←Previous Page
1 … 3 4 5 6 7 … 11
Next Page→

Create a website or blog at WordPress.com

 

Loading Comments...
 

    • Subscribe Subscribed
      • auliarahman.id
      • Join 31 other subscribers
      • Already have a WordPress.com account? Log in now.
      • auliarahman.id
      • Subscribe Subscribed
      • Sign up
      • Log in
      • Report this content
      • View site in Reader
      • Manage subscriptions
      • Collapse this bar