Kematian adalah sebuah proses. Bukan akhir. Saya memegang teguh konsep itu. Ketika berbicaratentang kematian, kita berbicara tentang sesuatu yang pasti dan mutlak. Sehingga seharusnya, setiap orang harus paham tentang konsepnya. Wajib paham. Namun apakah kita semua sudah paham?Belum. Apakah saya sudah sepenuhnya paham?Mungkin juga belum. Mengapa berani memegang teguh konsep yang bahkan saya sendiri belum memahaminya?Karena saya tidak ingin terlambat ketika bersikukuh harus paham konsep dulu, baru kemudian memegangnya. Karena mutlaknya kematian adalah salah satu keniscayaan yang paling hakiki.
Paragraf diatas terlalu berat. Saya sadari itu. Terlalu dark. Mengapa tetiba saya menulis paragraf seperti itu? Ada sejumlah pengalaman dalam beberapa hari terakhir yang membuat kematian menjadi sesuatu yang teramat rumit. Terjadi bukan pada diri saya. Atau orang-orang terdekat. Yang biasanya ini yang membawa sisi melankolis muncul. Kematian ini terjadi disekitar aktifitas pekerjaan saya. Pasien saya, pasien sejawat saya.
Ketika seorang dokter menyebutkan istilah 'pasien saya', ada kaidah tanggung jawab besar, tugas mulia, kepercayaan, rasa sayang, dedikasi dan pengorbanan disana. Sekali status 'pasien saya' ini melekat, selamanya ia akan seperti itu. Tidak ada satupun pemutus hubungan ini, dari sisi filosofis. Sekali menjadi 'pasien saya', selamanya akan sepert itu. Tidak juga sembuh, atau kematian. Dua kondisi yang biasanya memisahkan hubungan dokter dan pasien. Selamanya akan tetap eksis hubungan dokter dan pasien.
Kematianlah yang lazim kami hadapi dalam hari-hari terakhir kebelakang. Seakan menjadi sesuatu yang runtun. Bagi jiwa-jiwa yang kembali bertemu dengan Sang Pencipta-nya, itu adalah sebuah proses baru yang akan dihadapinya. Bagi kami yang masih berada di dunia dan menyaksikan kematian tersebut, juga sebuah proses. Bagi kami itu adalah sebuah pengingat bahwa hidup kami hanyalah bagian dari proses persiapan menuju proses selanjutnya, Lalu ujungnya apa? Sampai dimana proses tersebut? Saya tidak sampai membahas itu disini. Lebih berat lagi bahasannya.
Kematian yang semasif itu, membuat saya berpikir. Apakah saya sudah mengambil sesuatu dari semua itu? hikmah misalnya? Seringnya, ketika menyaksikan atau malah sedang berjibaku dengan pasien sakaratul maut, saya merasa di detik beikutnya saya berjanji pada diri pribadi akan menjadi lebih baik, lebih gigih, lebih disiplin, lebih alim.lebih apapun. Namun seringnya, tak berapa lama, seperti tak pernah terjadi apa-apa. Hilang semua. Tumpul.
Saya takutnya ya begitu. Hati jadi tumpul. Macam tak ada sesuatu. Biasa saja jadinya. Padahal runtun-beruntun datang kehadapan saya kematian itu. Konsep ideal yang saya pahami adalah setiap kematian itu hendaknya jadi pembelajaran. Menjadi sesuatu yang membuat kita mempersiapkan kematian kita lebih baik. Bagi kita yang ditinggal hidup, mestinya satu saja kematian yang dihadapi, menjadi booster untuk menjadi lebih baik. Tapi, ternyata tidak selalu se-ideal itu.
Masalah mungkin saja tak berhenti disitu. Jika ini hanya menjadi perkara satu orang, perkara saya, maka tak mengapa. Namun bagaimana jika ini ternyata menjadi masalah banyak orang. Semua orang menjadi tumpul dengan angka-angka kematian tadi. Kematian karena pandemi saja sampai hari ini sampai 76 ribu. Angka ini setara dengan pesawat Boeing 737 full penumpang jatuh tiap hari selama 1,5 tahun. Tiap hari. Tak terbayang saya.
Kembali lagi, pertanyaannya, angka sebesar itu apakah membuat kebanyakan kita sudah tertohok, dan mencoba mengambil hikmah dibaliknya?Atau itu hanya menjadi sekelebat data saja. Wallahu'alam.



