auliarahman.id

  • so dark..

    July 21st, 2021

    Kematian adalah sebuah proses. Bukan akhir. Saya memegang teguh konsep itu. Ketika berbicaratentang kematian, kita berbicara tentang sesuatu yang pasti dan mutlak. Sehingga seharusnya, setiap orang harus paham tentang konsepnya. Wajib paham. Namun apakah kita semua sudah paham?Belum. Apakah saya sudah sepenuhnya paham?Mungkin juga belum. Mengapa berani memegang teguh konsep yang bahkan saya sendiri belum memahaminya?Karena saya tidak ingin terlambat ketika bersikukuh harus paham konsep dulu, baru kemudian memegangnya. Karena mutlaknya kematian adalah salah satu keniscayaan yang paling hakiki.

    Paragraf diatas terlalu berat. Saya sadari itu. Terlalu dark. Mengapa tetiba saya menulis paragraf seperti itu? Ada sejumlah pengalaman dalam beberapa hari terakhir yang membuat kematian menjadi sesuatu yang teramat rumit. Terjadi bukan pada diri saya. Atau orang-orang terdekat. Yang biasanya ini yang membawa sisi melankolis muncul. Kematian ini terjadi disekitar aktifitas pekerjaan saya. Pasien saya, pasien sejawat saya. 

    Ketika seorang dokter menyebutkan istilah 'pasien saya', ada kaidah tanggung jawab besar, tugas mulia, kepercayaan, rasa sayang, dedikasi dan pengorbanan disana. Sekali status 'pasien saya' ini melekat, selamanya ia akan seperti itu. Tidak ada satupun pemutus hubungan ini, dari sisi filosofis. Sekali menjadi 'pasien saya', selamanya akan sepert itu. Tidak juga sembuh, atau kematian. Dua kondisi yang biasanya memisahkan hubungan dokter dan pasien. Selamanya akan tetap eksis hubungan dokter dan pasien. 

    Kematianlah yang lazim kami hadapi dalam hari-hari terakhir kebelakang. Seakan menjadi sesuatu yang runtun. Bagi jiwa-jiwa yang kembali bertemu dengan Sang Pencipta-nya, itu adalah sebuah proses baru yang akan dihadapinya. Bagi kami yang masih berada di dunia dan menyaksikan kematian tersebut, juga sebuah proses. Bagi kami itu adalah sebuah pengingat bahwa hidup kami hanyalah bagian dari proses persiapan menuju proses selanjutnya, Lalu ujungnya apa? Sampai dimana proses tersebut? Saya tidak sampai membahas itu disini. Lebih berat lagi bahasannya.

    Kematian yang semasif itu, membuat saya berpikir. Apakah saya sudah mengambil sesuatu dari semua itu? hikmah misalnya? Seringnya, ketika menyaksikan atau malah sedang berjibaku dengan pasien sakaratul maut, saya merasa di detik beikutnya saya berjanji pada diri pribadi akan menjadi lebih baik, lebih gigih, lebih disiplin, lebih alim.lebih apapun. Namun seringnya, tak berapa lama, seperti tak pernah terjadi apa-apa. Hilang semua. Tumpul. 

    Saya takutnya ya begitu. Hati jadi tumpul. Macam tak ada sesuatu. Biasa saja jadinya. Padahal runtun-beruntun datang kehadapan saya kematian itu. Konsep ideal yang saya pahami adalah setiap kematian itu hendaknya jadi pembelajaran. Menjadi sesuatu yang membuat kita mempersiapkan kematian kita lebih baik. Bagi kita yang ditinggal hidup, mestinya satu saja kematian yang dihadapi, menjadi booster untuk menjadi lebih baik. Tapi, ternyata tidak selalu se-ideal itu.

    Masalah mungkin saja tak berhenti disitu. Jika ini hanya menjadi perkara satu orang, perkara saya, maka tak mengapa. Namun bagaimana jika ini ternyata menjadi masalah banyak orang. Semua orang menjadi tumpul dengan angka-angka kematian tadi. Kematian karena pandemi saja sampai hari ini sampai 76 ribu. Angka ini setara dengan pesawat Boeing 737 full penumpang jatuh tiap hari selama 1,5 tahun. Tiap hari. Tak terbayang saya. 

    Kembali lagi, pertanyaannya, angka sebesar itu apakah membuat kebanyakan kita sudah tertohok, dan mencoba mengambil hikmah dibaliknya?Atau itu hanya menjadi sekelebat data saja. Wallahu'alam.

    Masih tak tertegun?
  • Lady’s Hand

    June 24th, 2021

    Apakah dokter bedah yang hebat itu adalah dokter bedah yang tangannya cepat, atau yang bisa menyelesaikan operasi dalam waktu singkat? Oke. Mari ngopi sejenak.

    Kecepatan menyelesaikan operasi memang memberikan banyak keuntungan. Bagi pasien paparan bius dan damage operasi beresiko lebih sedikit. Bagi tenaga medis tentu menjadi sebuah kepuasan dapat membantu pasien lebih cepat menjalani proses operasinya. Kecepatan operasi memang berkorelasi linear dengan kecepatan tangan seorang ahli bedah. Namun, darimana kecepatan seorang ahli bedah itu berasal? Yang jelas, semakin ahli seorang dokter bedah melalukan sebuah prosedur, tentunya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan prosedur tersebut lebih efisien. Semakin besar volume kasus yang ditanganinya, maka pengalamannya menjadi lebih banyak dan membuat efisiensinya semakin meningkat. Namun ada satu kunci ‘kecepatan’ dokter bedah yaitu ‘kerjakan setiap gerakan atau manuver itu satu kali’

    Saya selalu ingat yang diajarkan oleh guru saya ketika masih menjalani pendidikan bedah dasar ‘tidak perlu cepat-cepat, yang penting kamu kerjakan semuanya dalam satu gerakan, jangan berulang, selalu melangkah ke gerakan selanjutnya’. Ketika masih banyak mundur atau kembali ke gerakan sebelumnya, atau mengoreksi gerakan yang sudah dikerjakan, kita akan menghabiskan waktu. Akumulasi dari pengulangan gerakan atau flow manuver tangan yang tidak halus itu adalah berlipatnya jumlah waktu total operasi. Akibatnya tanpa disadari operasi menjadi lebih lama. Tentunya gerakan yang efisien itu tidak begitu saja bisa dimiliki oleh seorang dokter bedah. Dibutuhkan pengetahuan yang utuh mengenai prosedur yang akan dikerjakan, struktur anatomi pada organ yang menjadi objek operasi serta berbagai kondisi yang menyertai proses operasi tersebut. Misalnya kondisi metabolik pasien, korelasi dengan pembiusan atau misalnya kemampuan asisten yang membantu operasi.

    Pengulangan gerakan yang dilakukan oleh seorang dokter bedah terhadap gerakan sebelumnya yang belum sempurna, memberikan tambahan waktu sepersekian detik terhadap total durasi operasi. Cukup jumlahkan saja. Durasi operasi akan terlihat lebih lama secara kuantitatif, meskipun mungkin ‘terasa’ sama saja. Koreksi gerakan juga seperti itu. Jarum yang jatuh, posisi pegangan jarum yang kurang pas, arah tusukan yang tidak perpendikular, simpul yang tidak kuat dan berbagai kondisi yang membuat dokter bedah mengoreksi gerakannya yang pada akhirnya akan berkontribusi terhadap kecepatan operasi.

    Gerakan tangan yang efisien juga menjadi acuan dari berbagai pengembang teknologi bedah. Robotic Surgery saat ini merupakan salah satu bidang yang sangat berkembang dalam bidang pembedahan. Da Vinci, Zeus atau RobIn Heart contohnya. Teknologi pembedahan yang dimiliki ketiga robot tersebut sangat mengacu pada referensi gerakan tangan dokter bedah terlatih. Dan terus diperbaharui dalam kurun waktu tertentu.

    Balik ke awal, jadi dokter bedah yang tangannya cepat adalah dokter bedah yang hebat?Hmmmmm…sabar, nanti saja dijawab. Biar makin banyak bahan tulisan selanjutnya.

    Buat saya, tentu akan balik menilai diri. Apakah sudah sebagus itu? apakah sudah memiliki ‘kecepatan’ yang diinginkan dalam operasi?Belum. Sangat belum. Masih perlu banyak belajar. Ada saatnya nanti dapat menilai diri, bahwa saya sudah sampai pada fase seperti yang guru-guru saya dulu ajarkan.

    -AU-

  • Si Babi Hutan

    June 18th, 2021

    Satu buku Tere Liye lagi selesai saya baca. Berarti total sudah 3 buku yang tuntas. Cukup produktif untuk ukuran saya. Standar jumlah bacaan saya tidak terlalu tinggi. tiga buku tersebut rasanya sudah cukup baik. 

    Buku terakhir yang saya baca judulnya Pulang. Jika membaca kutipan resensinya, saya pikir ini buku cerita harian yang ringan. Semisal seseorang yang sedang pergi lama atau merantau, lalu rindu ingin pulang kampung. Dengan sekelumit bumbu kisah asmara. Teryata berbeda sekali dengan imajinasi saya. Alur kisahnya menarik. Plotnya juga bolak-balik dari masa sekarang dan masa lalu. Selalu melompat dalam sejumlah segmen. Jika sering menonton film laga dengan tokoh sentral yang sempurna – pintar, kuat, kaya dan berkuasa- buku ini kurang lebih meceritakan tokoh yang seperti itu. Ditambah dengan tokoh pendamping yang unit namun degan level kemampuan yang nyaris sama dan unik, namun tetap dalam kuasa sang toko sentral. Lengkap.

    Bumbu kisahnya memang menawan. Cerita yang dihadirkan seperti skenario sebuah kisah aksi dan laga. Narasi adegan dan deskripsi ruang dari lokasi kisah tersebut, berjalan sangat mengalir dan cukup realistis. Setting tempatnya Jakarta dan beberapa kota di dunia. Walopun terkesan absurd juga. tapi ya okelah.

    Nilai-nilai kehidupan juga banyak ditampilkan dalam ceritanya. Tere Liye sudah pasti tidak akan menodai karya-nya dengan kisah vulgar. Atau beringas tanpa ampun. Sisi religi juga sangat baik ditampilkan. Dengan cara yang elegan menurut saya. 

    Apa ada plot twist? Ada. Namun ya cukup gampang tertebak. Tidak terlalu surprise.

    Overall. Baguslah ya.

  • Tere Liye

    May 28th, 2021

    Akhirnya saya mulai baca novel karya Tere Liye. Mungkin terlambat untuk mulai, karena karyanya sudah sangat banyak. Gramedia seperti menyediakan satu area display khusus hanya untuk buku-buku Tere Liye. Display dinding, tumpukan, deket kasir. Pojokan  Gramedia itu sudah seperti gudangnya Tere Liye.

    Pertama kali mengenal nama Tere Liye ini mungkin dari judul Hafalan Shalat Delisha. Saya ingat buku itu pernah diangkat ke layar lebar, tapi saya belum pernah nonton. Tidak pernah baca juga. Seperti kebanyakan orang juga, saya pikir awalnya Tere Liye itu perempuan. Belakangan ini saja saya baru tau dia laki-laki. Opini-opininya dulu di sosial media juga cukup sering saya baca. Meskipun jarang yang tuntas. 

    Lalu pernah juga seorang sejawat yang bicara tentang pengalamannya baca sejumlah novel Tere Liye, dan menyarankan saya membaca. Saya tolak waktu itu. Sejujurnya karena takut ketagihan. Saya tahu kalo penulis dengan oplah sebanyak itu dan seproduktif itu, pasti kualitas bukunya tidak main-main. saya tahu diri, jika sudah klik dengan satu penulis, bisa bikin saya boros.

    Akhirnya luluh juga. Karena mulai sering lagi ke Gramedia, jadi sering terpapar dengan display buku-buku Tere Liye. Saya coba beli satu. Mulai dari mana? Saya coba google dan Quora, “Negeri Para Bedebah” berada diurutan teratas. Segera saya ambil judul itu. 

    Negeri Para Bedebah saya selesaikan dalam 2 hari kalo tidak salah. Novel yang keren. Bagus sekali. Saya bukan pembaca novel dengan genre sejenis sebenarnya. Tapi saya bisa mengimajinasikan ceritanya melalui referensi-referensi film yang pernah saya tonton. Saya rasa jadi lebih hidup karakternya jiak diimajinasikan dengan cara itu. Betul-betul menarik. 

    Saya bersiap untuk judul berikutnya. Tentang Kamu. Baru beberapa halaman. Namun, saya yakin ini juga akan keren sekali.

    Selamat Tere Liye, anda mendapatkan penggemar baru.

  • Keyboard

    May 28th, 2021

    Saya baru melihat barang baru di Youtube. Mechanical keyboard. Lebih spesifik mereknya Keychron. Tipe K2. Cukup banyak ternyata ulasan tentang keyboard ini. Sebenarnya tidak jelas apakah saya tertarik karena visualnya atau karena membaca ulasan fungsinya. Atau juga karena bunyi ketikanya. Bisa jadi ketiganya. 

    Bicara tentang kualitas keyboard, favorit saya adalah keyboardnya Thinkpad. Pernah dulu punya Thinkpad T430. Kualitas keyboardnya luarbiasa. Memang sih keyboard-nya Thinkpad sudah diakui yang paling bagus. Ada yang beda pada touch-nya. Gimana ya cara menjelaskannya. Pokoknya beda. Dan akan lansung suka dengan keyboard tersebut. 

    Keyboard Macbook Air jadul yang sekarang saya gunakan memang oke. Jauh lebih baik daripada laptop windows dengan harga diatasnya . Namun jika dibandingkan dengan keyboard Thinkpad,masih kalah. Tidak jauh sih. Tapi ya berbeda. Thinkpad T430 itu kan udah lama ya. Bukan keluaran baru. Tapi tetap saja, feel mengetiknya itu satisfying. Enak aja gitu. Bikin betah mengetik berlama-lama. 

    Nah, entah racun apa yang dimiliki mechanical keyboard itu, saya kok jadi sangat tertarik. Mungkin bunyi klik-klik yang nyaring ketika mengetik itu yang mebuat mechanical keyboard itu jadi racun. 

    Eh, saya belum pernah coba sama sekali memang. Mungkin nanti kalo udah ada rejeki lebih, saya coba beli salah satu. Kita buktikan apakah hanya sekedar sensasi saja, atau memang bisa jadi sebuah ‘mainan’ yang bikin produktif.

←Previous Page
1 … 4 5 6 7 8 … 11
Next Page→

Create a website or blog at WordPress.com

 

Loading Comments...
 

    • Subscribe Subscribed
      • auliarahman.id
      • Join 31 other subscribers
      • Already have a WordPress.com account? Log in now.
      • auliarahman.id
      • Subscribe Subscribed
      • Sign up
      • Log in
      • Report this content
      • View site in Reader
      • Manage subscriptions
      • Collapse this bar