auliarahman.id

  • Buku Tebal

    December 28th, 2020

    Saya lupa kapan terakhir menuntaskan sebuah buku fiksi tebal. Yang jelas ada dalam daftar itu yang saya ingat adalah Lord of The Ring-nya J.R.R Tolkien dan Harry Potter-nya J. K Rowling sewaktu SMA. Kesemua buku Andrea Hirata yang sudah saya lalap, mungkin tidak terlalu tebal. Ada beberapa buku fiksi lain, namun saya tidak ingat. Catatan saya untuk ini tidak terlalu bagus.

    Tiga hari terakhir dimasa libur panjang akhir tahun ini saya menuntaskan membaca sebuah buku karangan Salim A. Fillah, Sang Pangeran dan Jannisary Terakhir. Cukup tebal, 631 halaman. Bagi saya yang biasanya sulit menuntaskan sebuah buku tebal hanya dalam beberapa hari, ini adalah sebuah kebanggaan. Sepertinya saya memang perlu menambah porsi bacaan fiksi untuk menjaga kontinuitas dan kecepatan membaca. Selama ini memang lebih sering buku-buku non-fiksi. Kepala sedikit lebih panas jika dibandingkan membaca buku fiksi.

    Saya tetap beranggapan buku ini mengagumkan. Beberapa kisah dalam buku ini mungkin akan saya anggap sebagai asupan baru tentang bagaimana sejarah yang sebenarnya terjadi dalam rentang waktu tersebut. Anggapan ini juga membuat saya menjadi lebih penasaran dengan literatur-literatur sejarah lain pada rentang waktu yang sama namun dari sudut pandang yang berbeda. Misalnya saja tentang kisah bahwa penjajahan eropa terhadap kawasan nusantara, terkait dengan langkah Sultan menutup Pasar Rempah di Konstantinopel. Sehingga muncul rasa utang secara tidak lansung untuk membantu kerajaan-kerajan di nusantara untuk melawan penjajahan dengan rencana mengirim bantuan pasukan khusus Jannisary. Namun rencana tersebut tidak pernah kesampaian. Kemudian tentang penyebab terjadinya Perang Jawa, atau yang lazim dikenal sebagai Perang Diponegoro. Dulu sewaktu sekolah, saya tahunya itu soal tanah yang dipatok-patok oleh Belanda dan sekutu pribuminya. Dari buku ini dikisahkan tidak hanya sebatas masalah tanah-tanah begitu. Persoalannya lebih rumit daripada itu.

    Selain itu, saya jadi tertarik bagaimana perjuangan melawan penjajahan dalam rentang waktu yang sama di daerah lain. Sedikit disebut-sebut tentang perjuangan di tanah Sumatra. Namun tidak banyak. Wajar saja, kan memang bukan buku yang membahas itu.Terus terang sumber bacaan sejarah yang saya punya hanya dari buku-buku pelajaran sekolah dan sedikit artikel-artikel lepas di internet. Mungkin perlu menambah wawasan untuk menjadi lebih membuka cakrwala berpikir.

  • Deep Work

    December 14th, 2020

    Saya membaca beberapa buku 1-2 minggu terakhir. Salah satunya Deep Work-nya Cal Newport. Sebelumnya saya pernah membaca buku ini versi Kindle, namun hanya seperempat, lalu kemudian skip dan pindah membaca bukunya Sidharta Mukherjee yang Cancer itu. Buku yang ini versi terjemahan. Jujur saya katakan, terjemahannya buruk sekali. Saya harus membaca berulang pada sebagian besar paragraf untuk mendapatkan pesan yang ingin disampaikan. Kualitas terjemahannya seperti Google Translate yang belum diedit. Parah.

    Terlepas dari itu, pesan yang disampaikan oleh buku ini dalam sekali. Berbicara tentang Deep Work -diterjemahan sebagai Kesungguhan Kerja oleh penerjemahnya- , penulisnya memberikan semacam pengalaman pribadinya dalam bentuk buku. Bergelar profesor teknologi informasi di Georgetown University di usia muda dan sama sekali tidak pernah memiliki akun sosial media, adalah jaminan bagi saya bahwa tulisan yang dibuatnya betul-betul adalah sesuatu yang dia sudah tuntas mengerjakannya. Artinya penulis membuat buku berdasarkan pengalamannya. Sesuatu yang sudah dijalani dan dibuktikan sendiri hasilnya. Saya respect pada jenis tulisan seperti ini.

    Saya memahami Deep Work ini sebagai sebuah fase dimana aktifitas dikerjakan dalam periode yang tanpa gangguan, betul-betul fokus dan memberikan hasil yang jelas dan sesuai dengan apa yang diharapkan. Bentuk aktifitas seperti membutuhkan usaha dan latihan yang berat. Apalagi di zaman sekarang yang penuh distraksi. Distraksi yang paling besar adalah kehadiran internet. Lebih spesifik lagi, sosial media. Cal Newport membuat sebuah bab khusus yang membahas tentang bagaimana berhenti dari sosial media. Tentu saja saya menjadi sangat relate dengan kondisi ini.

    Deep Work betul-betul menjadi aktifitas yang sulit menurut saya. Saat ini, untuk fokus mengerjakan sesuatu selama 1 jam saja sudah cukup berat. Bahkan di menit ke 30 saja, distraksi-distraksi mulai muncul. Tentu berbeda kondisi ketika operasi. Tidak mungkin saya mengerjakan hal lain. Hal ini juga memberikan penguatan bagi saya, bahwa kondisi kerja dan lingkungan kerja membuat Deep Work ini sebenarnya sangat realistis. Ketika operasi tidak mungkin lagi saya menyentuh handphone. Mestinya hal ini bisa diterapkan ketika mengerjakan hal lain. Ketika operasi saya tentu harus punya rencana yang jelas apa yang akan dikerjakan dan berbagai skenario lain sebagai back-up. Dan yang pasti operasi harus selesai. Ini menjadi sebuah pola yang mestinya bisa diterapkan diluar meja operasi.

    Saya coba terus belajar untuk ini.

  • Setelah 3 Bulan

    December 4th, 2020

    Apa yang terjadi setelah 3 bulan tidak menyentuh sosial media? Jawabannya adalah saya merasa nyaman.

    Saya rasa tahapan ini bukan lagi detoksifikasi. Racun-racunnya sudah habis. Tahap sekarang seharusnya adalah membuat kebiasaan ini menjadi permanen. Namun pertanyaannya, apakah harus seperti itu? Apakah tidak ada peluang sedikitpun bagi sosial media untuk kembali menjadi bagian dalam aktifitas harian saya?

    Saya melihat manfaat yang cukup nyata selama 3 bulan belakangan ini. Tidak ada lagi paparan tentang berbagai macam pencapaian orang lain yang hanya membuat iri, tidak ada lagi berita-berita sepakbola yang membuat saya tidak bisa menikmati highlight pertandingan dengan rasa penasaran yang sama ketika menonton live, tidak ada lagi informasi-informasi sampah yang hanya menyita perhatian namun tidak memberikan manfaat, tidak ada lagi pembanding yang hanya membuat saya secara bawah sadar harus membuat komparasi dengan hal tersebut dan terkadang membuat depresif, tidak ada lagi penawaran-penawaran produk yang ternyata diam-diam menggerogoti keuangan saya.

    Itu hal yang dinihilkan dengan tidak menyentuh sosial media. Lalu apa hal baik yang muncul? Pikiran saya memang lebih lega. Saya jadi merasa memiliki ruang lebih untuk lebih berfokus pada diri sendiri. Komparasi yang berlebihan akibat sosial media membuat banyak ruang pikiran terisi penuh. Beberapa kali istri saya memperlihatkan postingan ‘pencapaian’ atau ‘aktifitas’ sejumlah influencer, namun saya jawab : ‘i dont care’ sambil tertawa (mungkin saya terlalu ektrim ya). Tapi rasanya memang lega sih. Tidak ada perasaan inferiotitas atau percikan keinginan ingin seperti itu, ingin punya itu.

    Apakah sehebat itu? Jujur saya katakan, belum. Karena saya masih memiliki masalah dengan optimalisasi waktu. Saya masih memiliki masalah dengan smartphone, dengan sejumlah aplikasi game dan messenger. Saya juga belum memiliki sebuah pengalihan yang signifikan atas waktu yang ‘kosong’ karena tidak menggunakan sosial media lagi. Buku-buku yang saya baca belum dengan kuantitas yang lebih baik. Tulisan juga begitu.

    Masih banyak yang perlu diperbaiki. Namun keputusan meninggalkan sosial media, sampai saat ini masih saya anggap sebagai keputusan yang brilian. Saya belum menemukan alasan yang cukup kuat untuk kembali bersosial media.

    Begitulah

  • The Social Dilemma

    September 28th, 2020

    Entah kebetulan atau tidak, Netflix baru merilis judul dokumenter baru. The Social Dilemma. Kenapa kebetulan? Karena film ini muncul masih dalam suasana rehat media sosial saya.

    Mari kita bicarakan sedikit tentang film ini. Dirbuat dalam format semi dokumenter. Ada sebuah keluarga yang menjadi cerita. Namun sebagian besar diisi oleh wawancara dengan sejumlah orang, yang dari keterangannya adalah engineer atau eksekutif di perusahaan-perusahaan besar di Silicon Valley. Beberapa adalah penulis buku dan profesor dari universitas ternama di Amerika Serikat. Tema besar dari film ini adalah bagaimana media sosial bekerja. Lebih spesifik lagi, bagaimana media sosial dirancang, apa dampaknya, konsekuensi yang dapat terjadi, apa yang sebenarnya terjadi dalam proses interaksi antara media sosial dan penggunanya, kemana data yang diserap dari pengguna tersebut dikumpulkan dan digunakan. Banyak film sejenis. Namun visualisasi dan gaya cerita film ini lebih baik.

    Facebook dan Google menjadi semacam sentra dalam film ini. Twitter juga disebut beberapa. Namun tidak sehebat yang pertama. Proses bagaimana membuat sebuah instrumen media sosial menjadi begitu adiktif diceritakan melalui berbagai kesaksian dari top engineer dan mantan eksekutif perusahaan tersebut. Saya bahkan baru tahu ada berbagai macam cabang ilmu baru yang unik yang pakarnya diperlukan untuk membuat media sosial menjadi sangat ‘humanis’. Bagaimana media sosial bermain dengan persuasive technology dan behavioural change. Bagaimana likes, thumbs, loves, emojis dan share dapat mempengaruhi pola interaksi pengguna dengan media sosial sehingga manjadi lebih adiktif. Lebih jauh lagi, bagaimana itu semua mempengaruhi kondisi mental pengguna.

    Tidak hanya pada tingkat personal, media sosial dikatakan memiliki dampak pada tingkat komunal dan bahkan negara. Gerakan yang terjadi via media sosial begitu cepat dan masif. Bahkan dapat mengganggu stabilitas sebuah negara.

    Gila.

    Sebegitu gila kah?

    Sebaiknya anda menonton sendiri dan simpulkan.

    Apakah tayangan ini yang membuat saya berhenti sementara menggunakan media sosial? Sepertinya bukan. Terlalu dangkal. Toh fil ini muncul setelah saya memulai rehat tesebut. Namun jelas tayangan ini membuat saya lebih punya argumen tentang bagaimana perlunya ‘detoksifikasi’ media sosial. Apakah ini hanya bentuk persaingan usaha? Hahahaha. Entahlah. Yang sebagian besar dari diri saya cukup yakin dengan fakta yang disajikan.

    Hari ke-27

  • Skral-skrol ga jelas..

    September 22nd, 2020

    Rehat media sosial masih berlanjut. Sejauh ini berjalan baik. Tanpa Facebook, Instagram, Twitter dan Pinterest di handphone dan laptop. Seperti apa rasanya?


    Awalnya memang terasa seperti ada yang hilang begitu. Ada yang kosong. Biasanya saya selalu tahu tentang berbagai informasi seputar sepakbola. Misal saga transfer Lionel Messi. Rumor kemana Messi akan berlabuh di musim ini, klub yang menginginkannya, informasi terbaru dari Si Master transfer Fabrizio Romano yang selalu bikin kaget dan banyak lainnya. Atau berbagai informasi dari akun-akun medis yang saya ikuti terkait Covid-19. Namun sekarang seperti jauh dari informasi tersebut. Seperti ada yang hilang. Biasanya saya akan lanjut berpikir : ‘Apakah ketiadaan informasi tersebut berimbas serius terhadap kehidupan saya?’. Selalu jawabannya adalah, “Tidak”. Tidak ada implikasi yang negatif dan serius atas ketiadaan hal tadi. Tidak ada buruknya bagi saya untuk tidak tahu bagaimana nasib Lione Messi musim ini. Saya juga masih mengikuti perkembangan tentang Covid dari keseharian saya di rumah sakit.

    Sensasi lainnya adalah ketika misalnya menemukan momen-momen tertentu -yang terkadang biasa-biasa saja klo dipikir- lalu muncul keinginan untuk unggah di medsos, semisal IG Story atau status facebook. Kuliner tertentu, tingkah polah anak yang unik, capaian operasi atau baru saja operasi susah dan berhasil, melihat sesuatu yang aneh di jalanan, menemukan barang-barang lama atau apa sajalah. Hal-hal seperti ini biasanya menimbulkan keinginan untuk kemudian membuka handphone dan membuka aplikasi medsos, lalu kemudian mengunggahnya. Tapi sekarang hal tersebut mesti ditahan. Rasanya memang seperti ada yang mengganjal dan aneh, namun lama kelamaan, terasa biasa saja. Beberapa momen saya alihkan dengan mengambil foto saja, tanpa mengunggahnya. Hanya tersimpan di drive atau terunggah ke cloud. Hanya itu.

    Jika rentang waktu yang sebelumnya habis dipakai untuk menggunakan media sosial, apakah sekarang durasi tersebut sudah diisi oleh hal lain yang lebih bermanfaat? Nah ini. Jujur saya jawab, belum.

    Kenapa?

    Saya rasa jawabannya karena ketergantungan saya terhadap handphone sendiri juga masih menjadi masalah. Setiap hari tidak bisa lepas dari gawai ini. Saya masih rutin skral-skrol chat whatsapp atau menonton video di Youtube (ironisnya itu juga adalah video tentang social media detox). Refreshing screen gmail juga masih sering, meskipun tidak ada email baru yang masuk. Atau bahkan hanya sekedar membolak-balik handphone.

    Durasi waktu yang telah disisakan oleh absensi penggunaan media sosial, mestinya harus saya gunakan untuk sesuatu yang lebih positif dan terasa manfaatnya. Awalnya saya berpikir bahwa jika medsos ini bisa ditinggalkan, otomatis durasi saya membaca buku atau menulis menjadi lebih banyak. Namun sepertinya hal itu belum bisa diwujudkan. Saya harus lebih agresif, teratur dan konsisten untuk hal ini. Tenang, semuanya masih bisa diwujudkan. Masih banyak waktu. Saya masih optimis ini berada pada jalur yang benar.

    Hari ke- 20.

←Previous Page
1 … 5 6 7 8 9 … 11
Next Page→

Create a website or blog at WordPress.com

 

Loading Comments...
 

    • Subscribe Subscribed
      • auliarahman.id
      • Join 31 other subscribers
      • Already have a WordPress.com account? Log in now.
      • auliarahman.id
      • Subscribe Subscribed
      • Sign up
      • Log in
      • Report this content
      • View site in Reader
      • Manage subscriptions
      • Collapse this bar