Saya lupa kapan terakhir menuntaskan sebuah buku fiksi tebal. Yang jelas ada dalam daftar itu yang saya ingat adalah Lord of The Ring-nya J.R.R Tolkien dan Harry Potter-nya J. K Rowling sewaktu SMA. Kesemua buku Andrea Hirata yang sudah saya lalap, mungkin tidak terlalu tebal. Ada beberapa buku fiksi lain, namun saya tidak ingat. Catatan saya untuk ini tidak terlalu bagus.
Tiga hari terakhir dimasa libur panjang akhir tahun ini saya menuntaskan membaca sebuah buku karangan Salim A. Fillah, Sang Pangeran dan Jannisary Terakhir. Cukup tebal, 631 halaman. Bagi saya yang biasanya sulit menuntaskan sebuah buku tebal hanya dalam beberapa hari, ini adalah sebuah kebanggaan. Sepertinya saya memang perlu menambah porsi bacaan fiksi untuk menjaga kontinuitas dan kecepatan membaca. Selama ini memang lebih sering buku-buku non-fiksi. Kepala sedikit lebih panas jika dibandingkan membaca buku fiksi.
Saya tetap beranggapan buku ini mengagumkan. Beberapa kisah dalam buku ini mungkin akan saya anggap sebagai asupan baru tentang bagaimana sejarah yang sebenarnya terjadi dalam rentang waktu tersebut. Anggapan ini juga membuat saya menjadi lebih penasaran dengan literatur-literatur sejarah lain pada rentang waktu yang sama namun dari sudut pandang yang berbeda. Misalnya saja tentang kisah bahwa penjajahan eropa terhadap kawasan nusantara, terkait dengan langkah Sultan menutup Pasar Rempah di Konstantinopel. Sehingga muncul rasa utang secara tidak lansung untuk membantu kerajaan-kerajan di nusantara untuk melawan penjajahan dengan rencana mengirim bantuan pasukan khusus Jannisary. Namun rencana tersebut tidak pernah kesampaian. Kemudian tentang penyebab terjadinya Perang Jawa, atau yang lazim dikenal sebagai Perang Diponegoro. Dulu sewaktu sekolah, saya tahunya itu soal tanah yang dipatok-patok oleh Belanda dan sekutu pribuminya. Dari buku ini dikisahkan tidak hanya sebatas masalah tanah-tanah begitu. Persoalannya lebih rumit daripada itu.
Selain itu, saya jadi tertarik bagaimana perjuangan melawan penjajahan dalam rentang waktu yang sama di daerah lain. Sedikit disebut-sebut tentang perjuangan di tanah Sumatra. Namun tidak banyak. Wajar saja, kan memang bukan buku yang membahas itu.Terus terang sumber bacaan sejarah yang saya punya hanya dari buku-buku pelajaran sekolah dan sedikit artikel-artikel lepas di internet. Mungkin perlu menambah wawasan untuk menjadi lebih membuka cakrwala berpikir.




