Buya Hamka

Harus saya akui, rasanya terlambat sekali membaca tentang sosok ini. Dulu hanya sebatas tahu saja. Mulai terpapar (lagi) mungkin karena sering mampir di Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru, yang tentunya sangat identik dengan Buya Hamka. Saya baru membaca tentang beliau, namun saya belum pernah rasanya membaca karya beliau. Mungkin nanti.

Buku pertama ada Buya Hamka Ulama Rakyat Teladan Umat-nya Yusuf Maulana, lalu Pribadi dan Martabat Buya Hamka-nya Rusjdi Hamka dan Ayah…-nya Irfan Hamka. Dari 3 buku ini senang sekali bisa mendapatkan gambaran tentang beliau. Bukunya Yusuf Maulana lebih berupa pandangan penulisnya terhadap beliau. Ditulis berdasarkan banyak rujukan juga, termasuk karya-karya beliau. Saya baru tahu ada kisah jenaka Buya Hamka kecil di sekolah Parabek dulu yang berpura-pura menjadi semacam setan atau hantu yang menakut-nakuti orang-orang di lapau, hingga geger orang sekampung. Kemudian tentang kisah ayah beliau, Haji Rasul. Mulai dari perjuangannya selama masa Belanda, pernikahan dan perceraian dengan nenek beliau, kisah Bung Karno yang sudah dianggap anak juga oleh Haji rasul sehingga ‘bersaudara’ dengan Buya Hamka, kisah adik Haji Rasul yang berpindah agama setelah merantau ke amerika dan banyak lagi. Ulasan penulisnya juga mumpuni. Ini buku bagus.

Selanjutnya 2 buku terakhir adalah karangan kedua putra Buya Hamka. Bapak Rusjdi Hamka putra ketiga beliau dan Irfan Hamka putra kelima. Buku mereka berupa kenang-kenangan yang mereka ingat dan catat selama mereka berinteraksi dengan Buya Hamka. Buku Ayah… di-kata pengantar-i oleh Dr. Taufiq Ismail yang juga putra dari Gaffar Ismail, teman sekelas Buya Hamka semasa di Parabek. Buku Pribadi dan Martabat Buya Hamka dikemas dengan bahasa yang unik. Unik karena bpk Rusjdi Hamka seperti bercerita saja. Menyenangkan membaca berbagai kisah yang dipaparkan beliau. Kisah tentang rumah Buya Hamka di Kebayoran yang angker dan dihuni Inyiak Batungkek, kisah perkelahian sewaktu di Maninjau, kisah selama perjalanan haji dengan kapal Mae Abeto, kisah pembangunan dan penamaan masjid agung kebayoran yang sekarang menjadi masjid agung Al-Azhar, kisah Buya Hamka menangkap penjahat yang menyerangnya dengan pisau, kisah detail selama Buya Hamka ditahan rezim pemerintah 2 tahun 4 bulan, termasuk kisah-kisah yang sudah lazim dibaca seperti momen ajudan Bung Karno menyampaikan amanat beliau untuk diimami sholat jenazahnya oleh Buya Hamka meskipun semua tau bagaimana perlakuan Bung Karno terhadap Buya Hamka atau kisah calon mantu Pramudia Ananta Toer yang belajar islam pada Buya Hamka meskipun semua tau bagaimana perlakuannya terhadap Buya Hamka dan banyak lagi. Mungkin jika ada waktu dapat disempatkan membaca sendiri.

Namun yang paling berkesan bagi saya dari buku-buku ini adalah sisi manusiawi dari Buya Hamka. Saya hanya mengetahui tentang Buya Hamka sedikit saja. Tak banyak. Hanya dari artikel-artikel singkat. Sosok yang terbangun tentang beliau adalah ulama besar yang ‘elit’ dan ‘sakral’. Tak ada celah. Namun, akhirnya saya menemukan cara pandang baru terhadap beliau. Tak mengurangi sisi ‘elit’ dan ‘sakral’-nya, namun menambahkan sisi ‘egaliter’ dan ‘manusia’-nya. Maaf, saya tak punya banyak kosakata. Mungkin itu dapat mewakili. Yang jelas, semua itu membuat saya makin mengagumi beliau. Demikian.

AU
1 Juli 2019 17.00 WIB

@KamarJagaDewasaHarkit


Leave a comment