Kawan, ini kuceritakan salah satu kisah paling dramatis dan menggugah dalam hidupku. Semoga dapat diambil hikmah dan suri tauladan yang baik darinya. Amin. Agak lebay. Ya, aku juga tau. Harap maklum.
Ini zaman dulu kawan. Masa SMA. Zaman saya masih belum tau kerasnya kehidupan. Meskipun, sekarang tak keras-keras betul. Ah, sudahlah.
Waktu itu, selepas sekolah, kulihat ada gerobak jualan baru mangkal. Setelah mendekat sedikit, kubaca tulisannya. Oo, mereknya ternyata BUBUR AYAM. Sedap nih, pikirku. Lansunglah yang terbayang macam mie ayam. Berkuah, gurih, ada potongan ayam yang besar, sayur dan kerupuk. Serius. Begitu bayanganku dulu tentang sosok bubur ayam. Semacam surga dunia makanan bagi anak SMA kere macamku. Begitu.
Jadilah, aku janji pada diriku sendiri, besok pagi sebelum berangkat latihan sepakbola, Aku, musti sarapan disini. Oke sip. Pulanglah aku. Siap-siap untuk kelezatan besok pagi.
Pagi besoknya, setengah jam lebih awal aku berangkat. Lansung mampir di tempat abang jual bubur ayam. Duduk, dan lansung kupesan. ” Bang, bubur ayam satu!”. Sudah tak sabar aku cicipi makanan hebat ini.
Sebentar saja, bubur ayamnya selesai. Ditarok di meja ku. Kuambil sendok garpu. Dan..
Tiba-tiba kuterdiam
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
($&$**)*#$*$_#(#@*)#@) ?*%&(#*&…………………………
… ternyata, bubur ayam itu adalah N.A.S.I L.U.N.A.K !!!!
Asli. Terdiam aku.Tak kusangka sedikitpun kalau bubur ayam itu adalah nasilunak, BUBUR NASI. Makanan yang paling tak kusuka. Bahkan ketika sakit pun takkan mau kumakan. Nasib.
Jaga gengsi terpaksalah kuicip-icip sedikit. Habis juga sepertiga. Tak tahan perutku. Mual dibuatnya. Lansung cabut setelah bayar.”Nih, bang. Makasih bang”. Masih banyak sisanya, kutak peduli. Perutku sudah berulah. Tak mau kompromi dia.
Kukebut ke sekolah. Didepan sekolah. Hoooeeeeeekk!! Aku MUNTAH. Betul, MUNTAH-MUNTAH !!
Keluar semua yang dimakan tadi. Lemes betul aku. Tapi kupaksakan latian bola. Karena jaman itu, latian bola segalanya bagiku. Dengan badan lemas, tetap ku latian.
Ampun.
Sejak kejadian itu, tak pernah lagi kumakan bubur ayam. Tak pernah sekalipun. Catat itu. Sampai sekarang pun begitu. Bahkan dirumah mertua pun kutolak. Hebat kan. Mana ada orang berani nolak makanan dirumah mertua. Begitulah, saking tak sukanya aku.
Demikian kawan, kisah romantis, dramatis dan menggugahku dengan bubur ayam. Bukan bermaksud mendiskreditkan bubur ayam. Bukan pula mengajak kawan-kawan tinggalkan bubur ayam. Apalagi mendemo tukang bubur ayam karena solidaritas kepadaku. Bukan. Akunya saja yang bego, gak tau kalau bubur ayam itu begitu 🙂
Sekian. Terima kasih dan terima kado.