Matinya Kepakaran

Resensi buku Matinya Kepakaran (The Death of Expertise). Penulisnya adalah Tom Nichols, seorang profesor di US Naval Colleege War dan Harvard Extension School Tom Nichols.

Saya pernah melihat bahasan buku ini di sebuah laman rekan di facebook. Kemudian saya beli versi Kindle-nya. Belum sempat dibaca. Ketika melihat versi cetaknya, baru buku ini tuntas.

Jika ada tingkatan ekspresi setelah baca buku, saya ada dikelompok ” i felt so relieved after reading this book“. Buku yang luar biasa.

Sangat menarik. Kalimatnya banyak yang menohok. Saya sebelumnya belum pernah membaca tulisan Tom Nichols. Jadi tidak terlalu mengenal gaya penulisannya, yang ternyata keras dan tajam sekali. Sesekali diselipkan joke cerdas.

Dijabarkan di buku ini bahwa sekarang terlalu banyak dari kita yang bertingkah seolah-olah menjadi pakar atas segala sesuatu. Apakah penyebabnya internet? Buku ini menjawab, bisa saja. Namun tidak bisa menyalahkan sepenuhnya internet. Banyak faktor dan kondisi lain yang terlibat. Banyak orang merasa ahlihanya dengan melihat atau membaca beberapa artikel antah-berantah . Kemudian mulai berargumentasi tak tentu arah. Bahkan terkadang menyalahkan seorang pakar yang telah bertahun-tahun mendalami bidang tesebut.

Dalam buku ini juga dijelaskan tentang pengaruh kebiasaan penggunaan mesin pencari seperti Google dan Yahoo! yang juga menjadi tantangan besar dalam masalah kepakaran. Setiap orang seakan merasa cukup ilmu untuk mematahkan argumentasi dari seorang pakar hanya bermodalkan satu dua klik info dari mesin pencari. Dan terlalu banyak informasi yang beredar. Bahkan tidak tau lagi mana informasi yang benar dan salah

Satu hal lagi yang menarik adalah buku ini juga membahas dengan Teori Konspirasi. Teori konspirasi adalah sebuah kegiatan ‘intelektual’ yang menantang. Dibutuhkan orang yang cukup pintar untuk membuat sebuah teori kospirasi yang baik. Setiap jawaban dan sanggahan terhadap sebuah teori konspirasi hanya akan menghasilkan teori yang semakin rumit. Ketiadaan bukti yang diajukan sebagai konfrontasi terhadap sebuah teori konspirasi akan diarahkan menjadi penekanan bahwa teori konspirasi itu semakin meyakinkan. Aneh memang.

Satu alasan banyak orang menyukai teori konspirasi adalah karena hal tersebut memuaskan hasrat heroik kita. Dengan mengiyakan teori-teori tersebut, seakan kita yang kecil ini sedang melawan sebuah hegemoni raksasa. Teori konspirasi ini sangat menarik bagi orang-orang yang kesulitan memahami dunia yang rumit dan tidak memiliki kesabaran untuk sebuah penjelasan yang tidak dramatis. Teori konspirasi juga menarik bagi orang-orang yang lebih memilih percaya pada omong kosong dari pada menerima fakta bahwa ada hal-hal yang berada diluar pengetahuannya. Berdebat panjang dengan penganut teori konspirasi bukan hanya tidak bermanfaat, melainkan juga kadang berbahaya. Hanya akan membuat lelah. Bahkan bagi seorang pakar sekalipun.

Ada kutipan menarik pada bab-bab akhir buku ini. “Bahkan ketika semua pakar sepakat (tentang suatu hal), mereka masih mungkin salah”, sebuah kutipan dari Bertrand Russel. Banyak sekali contoh kasus dimana pakar salah. Kasus runtuhnya Uni Soviet, penyatuan Jerman Barat dan Jerman Timur, perkara Thalidomide, masalah telur yang pernah disebut makanan berbahaya dan sebagainya. Mengapa bisa salah? Bukannya pakar adalah ahli dalam hal yang dipakarinya? Buku ini menjelaskan bahwa pakar tidak mungkin tidak bisa salah. Bahkan sangat mungkin. Pakar sebenarnya juga tidak dalam posisi untuk memprediksi segala hal. Pakar bekerja dengan sains. Dan tugas sains adalah menjelaskan, bukan memprediksi. Namun yang paling penting kesalahan yang dibuat itu tidak serta merta menghilangkan kepakarannya. Dan tidak serta merta pula kita -masyarakat awam – tetiba menganggap sejajar atau bahkan lebih pintar dari pakar, karena hanya karena satu dua kesalahan tersebut.

Terkait kebijakan publik yang tidak populer atau gagal juga dijelaskan oleh penulis. Pakar tidak lansung menjadi eksekutor atas pandangan atau sarannya terhadap sebuah kebijakan. Pengambil keputusanlah yang mengeksekusi. Sebut saja namanya pemerintah atau eksekutif atau apalah. Namun terkadang kenyataan lapangan berbeda, atau pengambil keputusan tidak menjalankan seperti apa yang disarankan oleh para pakar. Pada akhirnya kepercayaan masyarakat terhadap pakarlah yang dikorbankan. Tentu sangat disayangkan.

Matinya kepakaran adalah ancaman berat bagi kehidupan. Kita tidak bisa hidup tanpa para pakar. Kita juga mungkin saja adalah pakar dalam bidang kita. Namun ketika bertindak sebagai awam, kita tidak bisa membiarkan ancaman terhadap kepakaran berlansung didepan mata. Kita harus lebih rendah hati, variatif, mengurasi sinisme dan lebih selektif. Pakar tentunya lebih mampu memperbaiki satu dua kesalahan yang dibuat. Mungkin saja dengan menjadi lebih rendah hati untuk berkata tidak, jika tidak tau atau tidak serta merta tergiur memberikan argumen diluar kepakaran kita.

ah, bagus sekali buku ini. Baca sendiri ya.


Leave a comment