Selalu Ada Kanak-kanak Dalam Setiap Kita

Usia mereka pastinya tidak muda lagi. Enam puluh sampai 70-an aku rasa. Siapapun yang melihat mereka setidaknya akan menduga seperti itu. Namun sesuatu membuat mereka tampak muda, bahkan seakan lebih muda dari beberapa pemuda yang seringnya mengisi shaf kedua (dan masbuq pula). Semangat yang membuat mereka tampak lebih awet muda.
Mesjid tempatku biasa sholat ini memang tidak terlalu bagus. Meskipun ditengah kota (kalaulah boleh tempat ini disebut kota), masjid yang ‘hampir’ berlantai 2 ini, seperti tidak pernah menemukan kemapanannya. Selalu saja dalam keadaan direnovasi. Bocor sana-sini saat hujan. Setiap pojok masjid diisi oleh tumpukan bahan bangunan, yang entah kenapa, seperti sudah bosan menunggu dipekerjakan tukang-tukang itu. Shaf-nya pun kadang-kadang digeser satu-dua baris kebelakang karena bocor atau saat ada renovasi. Namun, sekali lagi, semua itu juga rasanya tertutupi oleh yang namanya semangat itu.


Aku menemukan sesuatu yang berbeda disana. Masjid ini boleh dikatakan selalu ramai saat shalat berjamaah 5 waktu. Hanya saja komposisinya persis seperti dihampir sebagian besar masjid dinegeri ini. Ibuk-ibuk lebih banyak dari bapak-bapaknya, dan yang tua-tua mendominasi dibandingkan anak muda. Naaaah, diantara itulah kutemukan sesuatu yang unik. Ejawantahan dari semangat tadi kurasa.


Setiap kali ada jeda antara adzan dan iqamah, selalu ada seorang bapak-bapak yang berjalan bawa bakul sumbangan pembangunan masjid. Petugasnya ini bergantian sepertinya. Tak ada perbedaan, mereka semua bersemangat!! Tak jarang sampai 2-3 putaran mereka menggoyang-goyang bakul itu untuk memancing selembar uang dirogoh dari saku. Bapak-bapak petugas ini pasti mengeluarkan lelucon, kadang-kadang sarkastik, ke bapak-bapak tua yang lain sambil berjalan. Yang paling sering kena celutukan itu yang tidak menyumbang. Bapak-bapak itu biasanya membalas lelucon itu. Mereka tertawa sebentar kadang-kadang. Hahaha. Tak ada emosi disana. Selalu yang tampak adalah keceriaan mereka. Ya, betul, keceriaan. Dan itu diantara adzan dan iqamat.


Selain itu yang sering aku perhatikan, mereka suka usil satu sama lain. Persis anak muda. Kadang bapak no.1 diam-diam nyolek bapak 2. Lalu bapak 1 pura-pura tidak tahu,sambil menahan senyum (yang kadang, mulut ompong mereka tidak sanggup menyembunyikannya. Bapak 2 bingung dan mencari-cari siapa yang nyolek. Masuk bapak 3 nyelutuk dan membongkar kebiadaban bapak 1. Lalu setelah itu mereka tertawa bersama. Ya, mereka seperti anak-anak. Bukan cuma anak muda lagi.


Ada juga yang sibuk menghitung berlembar-lembar uang miliknya, setelah dengan ikhlasnya menyumbangkan selembar diantaranya. Lalu bapak disebelahnya nanyain itu duit buat apa, mending disumbangin. Spontan si bapak menjawab, uang itu buat traktir dia,nanti sepulang shalat, makan siang dirumah makan padang dekat mesjid. Dialog aslinya betul-betul lucu.


Ada beberapa lagi kejadian ‘penuh semangat’ itu. Tapi, cukuplah, itu saja dulu.Aku mau sarapan.

12 Agustus 2010
Di kamar,6.22 pagi,matahari cukup cerah.


Leave a comment