The duty of doctor is to cure sometimes,to relieve often and to comfort always.
Itu kutipan dari Bruce Salter.
Betul juga. Dokter tidak akan pernah bisa mengobati seluruh penyakit. Bahkan dokter pun tidak bisa mengenali seluruh penyakit yang ada. Saya yakin sekali. Jika kita berpikiran tugas dokter adalah menyembuhkan penyakit, maka bersiaplah untuk terjebak dalam pragmatisme ilmu pengetahuan yang sebenarnya terbatas. Jika kita melulu memutar otak bagaimana menjadi seorang dokter jenius dengan tingkat pengetahuan yang memukau, yang mampu menjelaskan sejak dari definisi sampai ujungnya prognosa sebuah penyakit, maka bersiagalah untuk menjadi seekor hamster yang berpikir kincirnya akan berhenti berputar saat dia berjalan didalamnya. Jangan sampai terjebak sejawat. Kita bisa gila!
Berpikir untuk dapat menyembuhkan semua penyakit yang kita hadapi adalah sikap naif. Tapi berusaha untuk dapat memberikan kenyamanan bagi pasien adalah sebuah tindakan bijak. Kalau menurut saya, melakukan itu jauh lebih mudah daripada berusaha mengetahui seluruh kode-kode klasifikasi penyakit atau menghafal merk obat paten produk baru buah kerjasama dengan med rep.(Ups!)
Memberikan kenyamanan bagi pasien dalam praktiknya memang banyak sekali dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Suasana hati, kondisi ruangan praktek, umpan balik pasien, kemampuan komunikasi interpersonal dokter sendiri, kendala bahasa, banyak sedikit pasien dan lainnya, ukuran tingkat kenyamanan pun berbeda-beda untuk setiap pasien. Namun yang terpenting adalah usaha kita untuk selalu berupaya memberikan kenyamanan bagi pasien. Adalah manusiawi jika sesekali tak mampu memberikan kenyamanan itu. Tapi jika selalu seperti itu,tanyakan pada diri sendiri, apakah saya layak menyandang gelar Dokter ini??
(Duri, ba’da magrib menjelang isya…)
18 Mei 2010