Pertama kali saya melihat buku ini di Kinokuniya. Harganya 14 dolar US. Mahal.
Kemudian saya coba googling Amazon, versi Kindle-nya lebih murah. Jadi saya putus kan beli yang Kindle saja.
Saya sudah membaca hampir seluruh buku Atul Gawande. Complication, Checklist Manifesto, Being Mortal dan Better. Buku ini awalnya saya pikir mirip dengan itu. Apalagi kedua penulisnya sama-sama dokter bedah. Atul Gawande bedah endokrin dan Paul Kalanithi bedah saraf. Pun keduanya peranakan India. Ternyata berbeda sama sekali.
Buku ini merupakan semacam autobiografi. Ditulis ketika Paul terdiagnosis kanker paru stadium 4. Ketika itu dia masih bestatus chief residen, sekaligus seorang peneliti berprestasi di Stanford. Manuskrip buku ini sebenarnya tidak sepenuhnya selesai. Karena kondisi Paul yang semakin memburuk hingga akhirnya meninggal. Meninggalkan seorang istri, Lucy,– yang menulis epilog dibuku ini- dan putrinya yang masih berusia 8 bulan, Cady. Paul menceritakan berbagai hal. Masa kecilnya di Arizona, kenapa dia tertarik masuk dunia kedokteran, sebagai keputusan akhir dalam usahanya memahami secara jelas tentang hakikat kematian. Proses yang dijalani ketika menjadi seorang mahasiswa kedokteran. Deskripsinya tentang kuliah anatomi dan praktik dengan kadaver sangat luar biasa dengan bahasa yang terkadang kosakatanya harus saya highlight dulu untuk mecari artinya. Ceritanya tentang kegiatan sebagai residen juga mengagumkan. Mungkin karena sedang dalam posisi yang sama, saya lebih mudah memahaminya.
Namun inti dari buku ini adalah bagaimana Paul menghadapi kondisinya yang ‘dianugerahi’ kanker tersebut. Seorang calon dokter bedah saraf dan professor di Stanford,-selain juga ditawari oleh banyak pusat bedah sarah dan neuroscience Lab di US- tetiba dihadapkan pada kondisi yang mencabut semua harapan tesebut. Menjalani hari-hari terakhirnya dengan elegan dan bernilai. Meskipun pada akhirnya kematian juga yang menang. Bagaimana dia dan istrinya bersama melewati kondisi tersebut. Bagaimana dukungan keluarga dan koleganya dalam memberi dukungan. Semua diceritakan dengan bahasa yang menakjubkan
Buku yang sangat indah. Saya merasa impas. Karena membaca buku ini awalnya adalah pelarian saya dari beban penyelesaian tugas akhir tesis yang memusingkan. Tapi saya menganggap ini sepadan. Dan, oh iya, saya jarang menangis. Hanya pada kondisi tertentu. Tapi kali ini, itu terjadi ketika membaca akhir dari tulisan Paul Kalanithi ini. Pesannya sangat kuat. Mohon maaf.
The Emperor of All Maladies : A Biography of Cancer.– Sidharta Mukherjee
Pertama kali melihat buku ini di kosan adik saya Muhamad Arif . Covernya bagus. Warna coklat muda, ada kepitingnya. Gak tau udah dibaca apa belum. Diniatin beli Kindle-an nya aja. Karena yakin ini buku gak mungkin selesai sekali baca dan gak mungkin dibawa-bawa terus. Berat.
Akhirnya beli. Dan ternyata memang berat. Bahasannya tapi.
Kanker dalam buku ini bener-bener dikulik detail. Bukan dengan jabaran rumit, namun dengan penuturan yang menarik. Dari awal sampai ujung. Betul-betul kayak lagi baca biografi. Sesuai dengan tagline “Biography of Cancer”.
Kanker adalah penyakit kuno. Buku ini mencatat pada era 2600 SM, Imhotep di catatan papirusnya sudah mendeskripsikan tentang ” benjolan besar, keras, padat, dan merata dibawah kulit pada payudara”. Ini dianggap sebagai deskripsi tertulis pertama tentang kanker. Dari 48 laporan kasus pada papirus tersebut, hanya kasus ini yang tanpa terapi. Dia hanya menuliskan “Tidak ada obat”. Jadi, kanker pada manusia adalah penyakit sekuno itu.
Topik buku ini memang berat. Namun penulisnya menyajikan dengan bahasa sederhana. Saya jadi paham perjalanan hebat memerangi kanker. Tidak hanya kontekstual medis dan bedah saja. Namun ternyata lebih luas dari itu.
Banyak juga fakta-fakta unik yang saya juga baru tau dari buku ini. Galen dimasa Yunani kuno telah menuliskan tentang “black bile’ yang mereferensi pada penyakit yang pada masa sekarang merujuk pada kanker darah. Sir William Halsted, yang dianggap sebagai Bapak Ilmu Bedah Modern, dimasa-masa awal operasi kanker payudara benar-benar dianggap ‘dewa’ meskipun operasinya betul-betul radikal berdasarkan sudut pandang masa sekarang. Bagaimana perjalanan Sydney Farber, si Bapak Kemoterapi, memulai terapi pada leukemia dengan antifolat pertama PAA tahun 1947 dengan sebuah trial yang dramatik. Bagaimana perjalanan konsep karsinogenik yang dulu dianggap tidak mungkin. Rokok juga dulunya tidak dianggap berbahaya. Bahkan rokok dibagikan secara gratis di pertemuan dokter tahunan AMA -semacam IDI-nya Amerika- tahun 50-an saking biasanya. Panjang antrian booth-nya. Bagaimana perjuangan melawan kanker dari berbagai cabang ilmu kedokteran. Paru, urologi, kulit, getah bening, otak, payudara, endokrin, darah dan lainnya. Kisah perang dengan kanker juga disajikan dari berbagai aspek kehidupan. Sosial, budaya, ekonom, politik dan geografis. Luas sekali.
Buku ini benar-benar menarik. Bagi teman-teman yang berkecimpung dalam dunia medis, bahkan yang setiap hari spesifik berhadapan dengan kasus kanker sekalipun akan menemukan nuansa baru atau paling tidak menemukan perspektif yang berbeda dalam melihat kanker.
Pengen nulis banyak. Tapi udahlah ya. Baca aja.
Oya, ini buku Peraih Pulitzer 2011 kategori Nonfiksi. Jadi, yaa, TOPlah.
Ini mungkin sebuah resensi singkat. Tapi dapat juga hanya sebuah narasi pendek.
Ini tentang buku ‘Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam’ karangan Graham E. Fuller. Terjemahan dari buku aslinya A World Without Islam yang dirilis tahun 2010. Di indonesia buku ini diterbitkan Mizan. Cukup tebal, 403 halaman termasuk kata pengantar dan index.
Untuk sebuah buku pemikiran, buku ini unik. Membahas tentang semacam hipotesis bagaimana jika Islam tidak pernah ada. Apakah kondisi dunia akan sama seperti sekarang? Penulisnya mencoba membahas celah itu. Sekilas terlihat sebagai buku yang tendensius. Namun jika dibaca, logikanya masuk dan rasional. Tendensius? Ternyata tidak. Cukup berimbang saya rasa.
Jadi apa yang dibicarakan oleh buku ini? Dari awal buku ini membahas semacam review sejarah benturan Timur dan Barat sejak masa-masa awal. Bentuk konflik Timur dan Barat sudah jauh sebelum islam hadir. Siapa Barat? Yang saya tangkap Barat itu adalah Roma Latin dan Timur itu Konstantinopel. Lainnya menyebutkan Barat itu Katolik Roma dan Timur itu Kristen Ortodoks. Kedua entitas ini selalu berbenturan. Lima ratus tahun kemudian Islam muncul dan masuk menjadi kompetitor. Lalu kemudian berbagai peristiwa sejarah silih berganti dan menempatkan islam pada posisi yang selalu unik. Bagaimana sebenarnya Perang Salib terjadi dan apakah akan tetap ada “perang salib” jika Islam tidak ada? Kemudian hubungan Islam dengan Rusia, Cina dan India. Buku ini menempatkan bahwa konflik yang terjadi dengan 3 negara adidaya itu lebih bersifat entnik. Maksudnya jikapun islam tidak ada, konflik tersebut tetap akan terjadi.
Buku yang rumit sih. Memandang sebagian besar topiknya dari sisi yang benar-benar general. Tapi bagi saya ini semacam refreshing dari buku-buku textbook.
Resensi buku Matinya Kepakaran (The Death of Expertise). Penulisnya adalah Tom Nichols, seorang profesor di US Naval Colleege War dan Harvard Extension School Tom Nichols.
Saya pernah melihat bahasan buku ini di sebuah laman rekan di facebook. Kemudian saya beli versi Kindle-nya. Belum sempat dibaca. Ketika melihat versi cetaknya, baru buku ini tuntas.
Jika ada tingkatan ekspresi setelah baca buku, saya ada dikelompok ” i felt so relieved after reading this book“. Buku yang luar biasa.
Sangat menarik. Kalimatnya banyak yang menohok. Saya sebelumnya belum pernah membaca tulisan Tom Nichols. Jadi tidak terlalu mengenal gaya penulisannya, yang ternyata keras dan tajam sekali. Sesekali diselipkan joke cerdas.
Dijabarkan di buku ini bahwa sekarang terlalu banyak dari kita yang bertingkah seolah-olah menjadi pakar atas segala sesuatu. Apakah penyebabnya internet? Buku ini menjawab, bisa saja. Namun tidak bisa menyalahkan sepenuhnya internet. Banyak faktor dan kondisi lain yang terlibat. Banyak orang merasa ahlihanya dengan melihat atau membaca beberapa artikel antah-berantah . Kemudian mulai berargumentasi tak tentu arah. Bahkan terkadang menyalahkan seorang pakar yang telah bertahun-tahun mendalami bidang tesebut.
Dalam buku ini juga dijelaskan tentang pengaruh kebiasaan penggunaan mesin pencari seperti Google dan Yahoo! yang juga menjadi tantangan besar dalam masalah kepakaran. Setiap orang seakan merasa cukup ilmu untuk mematahkan argumentasi dari seorang pakar hanya bermodalkan satu dua klik info dari mesin pencari. Dan terlalu banyak informasi yang beredar. Bahkan tidak tau lagi mana informasi yang benar dan salah
Satu hal lagi yang menarik adalah buku ini juga membahas dengan Teori Konspirasi. Teori konspirasi adalah sebuah kegiatan ‘intelektual’ yang menantang. Dibutuhkan orang yang cukup pintar untuk membuat sebuah teori kospirasi yang baik. Setiap jawaban dan sanggahan terhadap sebuah teori konspirasi hanya akan menghasilkan teori yang semakin rumit. Ketiadaan bukti yang diajukan sebagai konfrontasi terhadap sebuah teori konspirasi akan diarahkan menjadi penekanan bahwa teori konspirasi itu semakin meyakinkan. Aneh memang.
Satu alasan banyak orang menyukai teori konspirasi adalah karena hal tersebut memuaskan hasrat heroik kita. Dengan mengiyakan teori-teori tersebut, seakan kita yang kecil ini sedang melawan sebuah hegemoni raksasa. Teori konspirasi ini sangat menarik bagi orang-orang yang kesulitan memahami dunia yang rumit dan tidak memiliki kesabaran untuk sebuah penjelasan yang tidak dramatis. Teori konspirasi juga menarik bagi orang-orang yang lebih memilih percaya pada omong kosong dari pada menerima fakta bahwa ada hal-hal yang berada diluar pengetahuannya. Berdebat panjang dengan penganut teori konspirasi bukan hanya tidak bermanfaat, melainkan juga kadang berbahaya. Hanya akan membuat lelah. Bahkan bagi seorang pakar sekalipun.
Ada kutipan menarik pada bab-bab akhir buku ini. “Bahkan ketika semua pakar sepakat (tentang suatu hal), mereka masih mungkin salah”, sebuah kutipan dari Bertrand Russel. Banyak sekali contoh kasus dimana pakar salah. Kasus runtuhnya Uni Soviet, penyatuan Jerman Barat dan Jerman Timur, perkara Thalidomide, masalah telur yang pernah disebut makanan berbahaya dan sebagainya. Mengapa bisa salah? Bukannya pakar adalah ahli dalam hal yang dipakarinya? Buku ini menjelaskan bahwa pakar tidak mungkin tidak bisa salah. Bahkan sangat mungkin. Pakar sebenarnya juga tidak dalam posisi untuk memprediksi segala hal. Pakar bekerja dengan sains. Dan tugas sains adalah menjelaskan, bukan memprediksi. Namun yang paling penting kesalahan yang dibuat itu tidak serta merta menghilangkan kepakarannya. Dan tidak serta merta pula kita -masyarakat awam – tetiba menganggap sejajar atau bahkan lebih pintar dari pakar, karena hanya karena satu dua kesalahan tersebut.
Terkait kebijakan publik yang tidak populer atau gagal juga dijelaskan oleh penulis. Pakar tidak lansung menjadi eksekutor atas pandangan atau sarannya terhadap sebuah kebijakan. Pengambil keputusanlah yang mengeksekusi. Sebut saja namanya pemerintah atau eksekutif atau apalah. Namun terkadang kenyataan lapangan berbeda, atau pengambil keputusan tidak menjalankan seperti apa yang disarankan oleh para pakar. Pada akhirnya kepercayaan masyarakat terhadap pakarlah yang dikorbankan. Tentu sangat disayangkan.
Matinya kepakaran adalah ancaman berat bagi kehidupan. Kita tidak bisa hidup tanpa para pakar. Kita juga mungkin saja adalah pakar dalam bidang kita. Namun ketika bertindak sebagai awam, kita tidak bisa membiarkan ancaman terhadap kepakaran berlansung didepan mata. Kita harus lebih rendah hati, variatif, mengurasi sinisme dan lebih selektif. Pakar tentunya lebih mampu memperbaiki satu dua kesalahan yang dibuat. Mungkin saja dengan menjadi lebih rendah hati untuk berkata tidak, jika tidak tau atau tidak serta merta tergiur memberikan argumen diluar kepakaran kita.