Candu media sosial bagi sebagian orang dapat dirasakan sebagai sebuah masalah serius. Namun bagi sebagian lain mungkin menganggap hal tersebut perkara biasa. Saya masuk kelompok yang pertama.
Candu media sosial mulai saya rasakan mengganggu adalah ketika timbul rasa tidak nyaman, perasaan gelisah, menghabiskan waktu scroll up–scroll down tanpa manfaat apapun, tekanan sosial, kadang rasa iri, dengki, kadang marah atau bingung.
‘Aktifitas’ di media sosial membuat saya kehilangan kesempatan untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Mungkin hanya 10-15 menit, namun jika diakumulasikan, bisa mencapai 2-3 jam sehari. Mungkin lebih. Informasi yang saya peroleh juga sepertinya tidak terlalu signifikan bagi kehidupan saya. Seputar sepakbola, olahraga lari, tentang BTKV, parenting, dan tentunya cerita tentang kehidupan orang lain yang saya saya follow.
Ketika beraktifitas di media sosial seperti instagram, facebook dan twitter, setiap hari saya menyaksikan beragam gambaran kehidupan orang lain. Cerita bahagia, kelahiran, kematian, pencapaian gelar dan pendidikan, kemenangan. Begitu juga dengan kisah pilu seperti sakit, kematian, bencana, kemalangan, kehilangan atau kegetiran. Kadang diselingi cerita ceria, kegiatan kreatif dan ‘kreatif’. Mengapa dalam tanda kutip? Karena terkadang dalam sudut pandang berbeda, aksi kreatif yang dimaksud hanyalah aksi bodoh dan merugikan orang lain.
Imbas dari semua itu adalah saya terpapar informasi yang terlalu banyak, yang bahkan saya tidak tahu apakah saya membutuhkannya atau tidak. Sedikit banyak menjadi beban pikiran juga. Ruang pikiran yang mestinya diisi dengan kegiatan yang memberi manfaat nyata, dipenuhi oleh informasi-informasi yang tidak berguna. Suasana mental dan hati kadang juga terpengaruh. Kadang enak, kadang tidak.
Media sosial memang dirancang untuk menjadi adiksi. Teknologi mereka memang membuat penggunanya dapat sampai pada tahap ketergantungan. Sehingga ketika mencoba untuk lepas, akan terasa sulit.
Saya melihatnya dari sudut pandang, apakah saya betul-betul rugi jika tidak menggunakan media sosial? Apakah akan berdampak lansung bagi kehidupan sosial ekonomi saya sehari-hari? Apakah saya akan tercampak dari pergaulan jika saya tidak menggunakan media sosial? Apakah saya akan ketinggalan informasi jika tidak menggunakan media sosial?
Saya juga perlu melihat apakah dengan meninggalkan media sosial, waktu yang tersedia akan terasa lebih bermanfaat? Lebih bisa saya gunakan untuk kegiatan yang lebih terasa manfaatnya?
Entahlah. Saya masih akan mencoba rehat media sosial. Ini hari ke-14.


