auliarahman.id

  • The Duty of Doctor is to Cure Sometimes, to Relieve Often and to Comfort Always

    June 6th, 2020

    The duty of doctor is to cure sometimes,to relieve often and to comfort always.
    Itu kutipan dari Bruce Salter.

    Betul juga. Dokter tidak akan pernah bisa mengobati seluruh penyakit. Bahkan dokter pun tidak bisa mengenali seluruh penyakit yang ada. Saya yakin sekali. Jika kita berpikiran tugas dokter adalah menyembuhkan penyakit, maka bersiaplah untuk terjebak dalam pragmatisme ilmu pengetahuan yang sebenarnya terbatas. Jika kita melulu memutar otak bagaimana menjadi seorang dokter jenius dengan tingkat pengetahuan yang memukau, yang mampu menjelaskan sejak dari definisi sampai ujungnya prognosa sebuah penyakit, maka bersiagalah untuk menjadi seekor hamster yang berpikir kincirnya akan berhenti berputar saat dia berjalan didalamnya. Jangan sampai terjebak sejawat. Kita bisa gila!

    Berpikir untuk dapat menyembuhkan semua penyakit yang kita hadapi adalah sikap naif. Tapi berusaha untuk dapat memberikan kenyamanan bagi pasien adalah sebuah tindakan bijak. Kalau menurut saya, melakukan itu jauh lebih mudah daripada berusaha mengetahui seluruh kode-kode klasifikasi penyakit atau menghafal merk obat paten produk baru buah kerjasama dengan med rep.(Ups!)

    Memberikan kenyamanan bagi pasien dalam praktiknya memang banyak sekali dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Suasana hati, kondisi ruangan praktek, umpan balik pasien, kemampuan komunikasi interpersonal dokter sendiri, kendala bahasa, banyak sedikit pasien dan lainnya, ukuran tingkat kenyamanan pun berbeda-beda untuk setiap pasien. Namun yang terpenting adalah usaha kita untuk selalu berupaya memberikan kenyamanan bagi pasien. Adalah manusiawi jika sesekali tak mampu memberikan kenyamanan itu. Tapi jika selalu seperti itu,tanyakan pada diri sendiri, apakah saya layak menyandang gelar Dokter ini??

    (Duri, ba’da magrib menjelang isya…)

    18 Mei 2010

  • Juara Piala Dunia : Suatu Hari Nanti

    June 6th, 2020

    Yap.
    Menang, tapi tak juara. Siapa yang tak sedih. Pastilah semuanya sedih. Ekspektasi yang luarbiasa tinggi tak berujung sebagaimana yang diharapkan. Tapi tak perlu kecewa. Sedih boleh, kecewa jangan. Karena kecewa punya energi negatif yang merusak. Tak baik.

    Di catatan sebelumnya saya pernah katakan, untuk sekarang, tak terlalu penting Timnas juara AFF atau tidak. Apa yang telah diberikan Timnas dan segala efeknya sangat luarbiasa. Juara AFF itu bisa jadi bonus saja. Bangsa hebat ini sudah dapat hiburan dan tambahan semangat yang betul-betul hebat. Beroleh sebuah common issue yang bisa bikin semuanya bersatu.

    Coba perhatikan, dalam sebulan saja. Semua orang jadi bisa melupakan sejenak berbagai borok negeri ini. Semua kita jadi sadar bahwa negeri ini punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Tak melulu berita negatif membosankan yang muncul di media. Berharap pemimpin-pemimpin kita bisa memelihara eskalasi semangat yang hebat ini dan menyalurkannya menjadi produktifitas disegala lini.

    Sedikit mengulas tentang sepakbola Indonesia, khususnya Timnas. Tak perlu malu belajar dari Malaysia yang sukses fokus pada pembinaan usia muda. Mereka mungkin tak bisa berharap banyak pada Liga lokal yang kualitasnya masih dibawah Indonesia. Sehingga mereka menekankan pada pembentukan sebuah tim nasional masa depan yang dirintis dari awal semenjak pemain-pemainnya berusia belasan tahun. Kita sedikit berbeda. Punya kompetisi sepakbola yang lumayan, tapi tak punya sistem pembinaan usia muda yang konsisten. Memang betul ada tim nasional muda yang sedang berlatih di Uruguay. Tapi masih terkesan parsial.

    Pembinaan usia muda mencakup keseluruhan regulasi yang terkait dengan kompetisi berjenjang sejak dini, pembinaan usia muda di klub dan pengelolaan tim nasional junior. Jika berkaca ke eropa, mereka sudah mapan. Setiap minggu ada kompetisi kelompok usia tertentu. Klub-klub sepakbola mereka punya Football Academy terbaik didunia dan tim nasional junior mereka tangguh. Ketiga elemen ini sudah kokoh sejak lama. Jepang pun begitu. Bahkan mereka punya kompetisi tingkat SMU yang kualitasnya diakui dunia. Pada akhirnya mereka bisa melahirkan tim nasional yang berprestasi.


    Orang Indonesia sudah kadung cinta dengan olahraga yang satu ini dan punya mimpi besar disini. Mimpi besar itu jangan sampai dirusak oleh orang-orang bodoh yang punya kepentingan sesaat dengan memanfaatkan popularitas olahraga ini. Orang Indonesia ingin lihat Timnasnya juara Piala Dunia.

    Ya, Piala Dunia!!

    Itu mimpi,dan mimpi hari ini selalu jadi kenyataan esok hari. Lihat saja…

  • Garuda di Dadaku

    June 6th, 2020

    Hari-hari sekarang semua orang lantang bernyanyi
    “garuda didadaku..
    garuda kebanggaannku..
    ku yakin hari pasti menang..”

    Dimana-mana semua orang tiba-tiba jadi fans beratnya Timnas. Semua ngomongin timnas. Setiap detail timnas dibahas di semua saluran TV. Siaran berita pagi, siang, petang dan malam diisi pemberitaan tentang Timnas, lebih dari setengah porsi waktunya. Gayus dan Ariel mungkin ngiri kenapa tiba-tiba rating berita mereka turun (hahaha…). Pemain-pemain Timnas juga tinggal menunggu waktu saja diundang ke acara-acara macam Bukan Empat Mata atau diundang buat dikerjain Sule dkk di OVJ. Betul-betul fenomenal. Oya, anggota dewan juga bisa sedikit beristirahat,karena tingkah mereka –untuk sementara- bisa luput dari pemberitaan media.


    Ini boleh dibilang sangat positif. Semua orang di negeri ini memang rindu dengan sebuah kebanggaan nasional. Fenomena Timnas boleh jadi datang disaat yang tepat. Memang betul Timnas belum juara, tapi rangkaian kemenangan itu bikin semua orang kembali punya rasa percaya bahwa negeri ini punya sesuatu yang menyenangkan. Bahwa tak melulu bangsa ini dipenuhi kabar-kabar sedih dan tak bermoral. Bahwa tak selalu tanah air ini mengeluarkan isu-isu tak bermutu. Bahwa Indonesia punya tim sepakbola yang luarbiasa!! Semua orang jadi bersemangat. Setiap orang jadi percaya diri.

    Efeknya kemana-mana. Pedagang baju jadi dapat rejeki nomplok. Pesanan melimpah. Tukang bordir jadi kebanjiran order. Abang –abang yang jualan digerobak sekitar GBK juga pastinya dapat keuntungan lebih. Pengusaha asesoris juga jadi punya ide buat naikin penjualan mereka. Ibu-ibu pengusaha jadi punya ide-ide untuk nama nama makanan dan kue-kue mereka. Traffic internet dan pageview berbagai situs-situs lokal juga pastinya naik signifikan. Artinya? iklan masuk, fulus masuk. Keluarga, karib kerabat dan yang merasa kenal dengan pemain-pemain timnas juga tiba-tiba terkenal dan masuk TV !! Bahkan calo tiket pun kebagian rejeki (tak halal tentunya!!). Semua untung, semua senang.

    Buatku pribadi, sekarang sudah jadi tak penting lagi timnas juara AFF atau tidak. Suasana sekarang sudah lebih dari cukup. Timnas buatku sudah memberikan lebih dari status juara buat negeri ini.

    Dukung Timnas!

    Pagi, 24 Des 2010—saat 2 hari menjelang final leg 1 dan kangen setengah mati main futsal!!

  • Cobalah Sesekali Kawan

    June 6th, 2020

    Mumpung kopiku masih ada. Setidaknya sepertiga gelas lagi. Tak termasuk ampasnya. Ada sedikit cerita untukmu kawan.

    Aku dulu punya aktifitas kecil yang sekarang-sekarang ini amat rindu ingin kembali dijajal. Sebelumnya, aku tekankan, tak sedikitpun ada maksud ingin pamer atau disanjung. Tak ada secuilpun. Hanya ingin bercerita dan semoga ada manfaat.

    Tak istimewa memang. Dulu aku sering curi-curi waktu berjalan tak tentu arah. Vagabondase kata orang Jiwa. Hahaha. Tak persis seperti itu sepertinya, karena masih ada tempat tujuannya. Tujuan utamaku : Pasar. Pasar tradisional, bukan pasar elit macam plaza atau mall. Pasar rakyat, pasar becek atau apapunlah namanya. Yang paling sering itu dulu Pasar Raya Padang atau Pasar Bawah Bukittinggi. Ada beberapa yang lain dibeberapa daerah. Itu tak penting. Aktifitas disana yang perlu aku ceritakan.

    Masuk pasar, modal tas ransel pasang didepan (karena takut kecopetan atau disilet tasnya), dompet dan hape masuk tas. Lalu berputar-putarlah aku dipasar itu. Melihat, melihat, kadang mengamati. Kadang juga berhenti makan disalah satu kedai makan. Kadang ada juga beli-beli, tapi tak sering. Tak ada cerita foto-foto.

    Saat-saat itulah yang paling hebat sensasinya. Di tempat macam itulah aku mendapat banyak pelajaran, cerita, visualisasi, rasa dan kadang bau. Semua indraku campur aduk mendapat stimulus-stimulus berharga.

    Kawan, disana aku lihat manusia-manusia luar biasa yang banting tulang berkoar-koar menjual dagangannya. Bervariasi, mulai harga ratusan rupiah sampai puluhan ribu…(belum pernah aku dengar,yang harga diatas seratusan ribu jualannya teriak-teriak..haha!). Berpakaian lengkap sampai ada yang telanjang dada. Tak lelah mereka sepanjang hari seperti itu. Mungkin ada yang sejak subuh sudah mulai. Uang kertas ribuan itu kadang berserak saja ditempat dagangan mereka, atau diremas dan masuk kantong plastik. Recehan juga banyak. Mereka mengumpulkan semua itu.

    Ada lagi orang macam kuli angkut, tukang gerobak dan gelandangan pengemis. Miris kadang melihat yang macam begini. Dapat seribu senang, tak dapat kadang melenguh . Kadang ya, bersyukur juga. Macam-macamlah gaya mereka. Tapi, setidaknya guratan semangat untuk terus menyambung hidup itu ada di wajah mereka.

    Lalu berikutnya ya para pembeli. Orang yang bawa uangnya ke pasar. Harapan para penyambung hidup disana. Sebagian besar ibuk-ibuk. Ibu muda, setengah baya, tua dan calon ibu. Bawa anak juga banyak. Mulai dari yang dandanannya menor sampai yang tak sempat bermake-up. Kegiatan tawar menawar itu yang paling seru. Ada yang pintar nawar sampai aku saja sedih mendengarnya. Maksudku kasihan penjualnya, yang kadang-kadang mau tidak mau terpaksa melepas dengan harga segitu. ”Daripado ndak bajuabali..”, begitu alasannya. Entah dapat untung mereka, entah tidak. Aku pun tak tahu. Sebegitu butuhnya mereka dapat duit. Untuk anak istrinya pasti.

    Lalu, apa hebatnya? Begini kawan, saat berputar-putar disana, saat itulah salah satu momen kontemplasi diri yang paling hebat menurutku. Begitu membekas. Aku yang rasanya jauh lebih beruntung dari mereka, kadang jadi malu sendiri, kenapa sering lupa untuk bersyukur. Aku yang tak perlu bersusah payah banting tulang cari duit, karena disubsidi orang tua, masih sering merasa kurang dengan apa yang didapat. Sekolah bisa tinggi-tinggi, tapi masih juga belum merasa puas, masih juga mengira diberikan yang tak enak sama Tuhan. Jadi tahu bahwa banyak orang yang bernasib jauh lebih buruk dariku. Jadi tahu bahwa orang tua susah-susah cari uang, kita malah seenaknya hambur-hamburkan. Belanja ini belanja itu, tak tentu arah. Jadi tahu bahwa begitu banyak macam orang disekitarku. Berbagai macam karakter. Merasa kecil aku disana. Belum ada yang istimewa yang sudah aku lakukan hidup sepertinya. Orang-orang itu jauh lebih luarbiasa! Tak tersebut nama mereka,tapi,sekali lagi,mereka luar biasa.

    Sumpah!berharga sekali momen itu! Lebih hebat mungkin daripada saat baru selesai menjalani training motivasi indoor.

    Sekarang ini, jarang sekali pergi kesana. Sangat ingin merasakan lagi. Kawan yang berkesempatan, cobalah sekali-sekali.

    Tapi, aku yakin, masing-masing kita punya cara sendiri-sendiri untuk berkontemplasi. Silakan, jika mau berbagi. Moga bisa jadi inspirasi untuk yang lain.

    Kopiku habis. Tinggal ampasnya.

    Maret 2011

  • Buya Hamka

    June 6th, 2020

    Harus saya akui, rasanya terlambat sekali membaca tentang sosok ini. Dulu hanya sebatas tahu saja. Mulai terpapar (lagi) mungkin karena sering mampir di Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru, yang tentunya sangat identik dengan Buya Hamka. Saya baru membaca tentang beliau, namun saya belum pernah rasanya membaca karya beliau. Mungkin nanti.

    Buku pertama ada Buya Hamka Ulama Rakyat Teladan Umat-nya Yusuf Maulana, lalu Pribadi dan Martabat Buya Hamka-nya Rusjdi Hamka dan Ayah…-nya Irfan Hamka. Dari 3 buku ini senang sekali bisa mendapatkan gambaran tentang beliau. Bukunya Yusuf Maulana lebih berupa pandangan penulisnya terhadap beliau. Ditulis berdasarkan banyak rujukan juga, termasuk karya-karya beliau. Saya baru tahu ada kisah jenaka Buya Hamka kecil di sekolah Parabek dulu yang berpura-pura menjadi semacam setan atau hantu yang menakut-nakuti orang-orang di lapau, hingga geger orang sekampung. Kemudian tentang kisah ayah beliau, Haji Rasul. Mulai dari perjuangannya selama masa Belanda, pernikahan dan perceraian dengan nenek beliau, kisah Bung Karno yang sudah dianggap anak juga oleh Haji rasul sehingga ‘bersaudara’ dengan Buya Hamka, kisah adik Haji Rasul yang berpindah agama setelah merantau ke amerika dan banyak lagi. Ulasan penulisnya juga mumpuni. Ini buku bagus.

    Selanjutnya 2 buku terakhir adalah karangan kedua putra Buya Hamka. Bapak Rusjdi Hamka putra ketiga beliau dan Irfan Hamka putra kelima. Buku mereka berupa kenang-kenangan yang mereka ingat dan catat selama mereka berinteraksi dengan Buya Hamka. Buku Ayah… di-kata pengantar-i oleh Dr. Taufiq Ismail yang juga putra dari Gaffar Ismail, teman sekelas Buya Hamka semasa di Parabek. Buku Pribadi dan Martabat Buya Hamka dikemas dengan bahasa yang unik. Unik karena bpk Rusjdi Hamka seperti bercerita saja. Menyenangkan membaca berbagai kisah yang dipaparkan beliau. Kisah tentang rumah Buya Hamka di Kebayoran yang angker dan dihuni Inyiak Batungkek, kisah perkelahian sewaktu di Maninjau, kisah selama perjalanan haji dengan kapal Mae Abeto, kisah pembangunan dan penamaan masjid agung kebayoran yang sekarang menjadi masjid agung Al-Azhar, kisah Buya Hamka menangkap penjahat yang menyerangnya dengan pisau, kisah detail selama Buya Hamka ditahan rezim pemerintah 2 tahun 4 bulan, termasuk kisah-kisah yang sudah lazim dibaca seperti momen ajudan Bung Karno menyampaikan amanat beliau untuk diimami sholat jenazahnya oleh Buya Hamka meskipun semua tau bagaimana perlakuan Bung Karno terhadap Buya Hamka atau kisah calon mantu Pramudia Ananta Toer yang belajar islam pada Buya Hamka meskipun semua tau bagaimana perlakuannya terhadap Buya Hamka dan banyak lagi. Mungkin jika ada waktu dapat disempatkan membaca sendiri.

    Namun yang paling berkesan bagi saya dari buku-buku ini adalah sisi manusiawi dari Buya Hamka. Saya hanya mengetahui tentang Buya Hamka sedikit saja. Tak banyak. Hanya dari artikel-artikel singkat. Sosok yang terbangun tentang beliau adalah ulama besar yang ‘elit’ dan ‘sakral’. Tak ada celah. Namun, akhirnya saya menemukan cara pandang baru terhadap beliau. Tak mengurangi sisi ‘elit’ dan ‘sakral’-nya, namun menambahkan sisi ‘egaliter’ dan ‘manusia’-nya. Maaf, saya tak punya banyak kosakata. Mungkin itu dapat mewakili. Yang jelas, semua itu membuat saya makin mengagumi beliau. Demikian.

    AU
    1 Juli 2019 17.00 WIB

    @KamarJagaDewasaHarkit

←Previous Page
1 … 7 8 9 10 11
Next Page→

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • auliarahman.id
    • Join 31 other subscribers
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • auliarahman.id
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar