Mumpung kopiku masih ada. Setidaknya sepertiga gelas lagi. Tak termasuk ampasnya. Ada sedikit cerita untukmu kawan.
Aku dulu punya aktifitas kecil yang sekarang-sekarang ini amat rindu ingin kembali dijajal. Sebelumnya, aku tekankan, tak sedikitpun ada maksud ingin pamer atau disanjung. Tak ada secuilpun. Hanya ingin bercerita dan semoga ada manfaat.
Tak istimewa memang. Dulu aku sering curi-curi waktu berjalan tak tentu arah. Vagabondase kata orang Jiwa. Hahaha. Tak persis seperti itu sepertinya, karena masih ada tempat tujuannya. Tujuan utamaku : Pasar. Pasar tradisional, bukan pasar elit macam plaza atau mall. Pasar rakyat, pasar becek atau apapunlah namanya. Yang paling sering itu dulu Pasar Raya Padang atau Pasar Bawah Bukittinggi. Ada beberapa yang lain dibeberapa daerah. Itu tak penting. Aktifitas disana yang perlu aku ceritakan.
Masuk pasar, modal tas ransel pasang didepan (karena takut kecopetan atau disilet tasnya), dompet dan hape masuk tas. Lalu berputar-putarlah aku dipasar itu. Melihat, melihat, kadang mengamati. Kadang juga berhenti makan disalah satu kedai makan. Kadang ada juga beli-beli, tapi tak sering. Tak ada cerita foto-foto.
Saat-saat itulah yang paling hebat sensasinya. Di tempat macam itulah aku mendapat banyak pelajaran, cerita, visualisasi, rasa dan kadang bau. Semua indraku campur aduk mendapat stimulus-stimulus berharga.
Kawan, disana aku lihat manusia-manusia luar biasa yang banting tulang berkoar-koar menjual dagangannya. Bervariasi, mulai harga ratusan rupiah sampai puluhan ribu…(belum pernah aku dengar,yang harga diatas seratusan ribu jualannya teriak-teriak..haha!). Berpakaian lengkap sampai ada yang telanjang dada. Tak lelah mereka sepanjang hari seperti itu. Mungkin ada yang sejak subuh sudah mulai. Uang kertas ribuan itu kadang berserak saja ditempat dagangan mereka, atau diremas dan masuk kantong plastik. Recehan juga banyak. Mereka mengumpulkan semua itu.
Ada lagi orang macam kuli angkut, tukang gerobak dan gelandangan pengemis. Miris kadang melihat yang macam begini. Dapat seribu senang, tak dapat kadang melenguh . Kadang ya, bersyukur juga. Macam-macamlah gaya mereka. Tapi, setidaknya guratan semangat untuk terus menyambung hidup itu ada di wajah mereka.
Lalu berikutnya ya para pembeli. Orang yang bawa uangnya ke pasar. Harapan para penyambung hidup disana. Sebagian besar ibuk-ibuk. Ibu muda, setengah baya, tua dan calon ibu. Bawa anak juga banyak. Mulai dari yang dandanannya menor sampai yang tak sempat bermake-up. Kegiatan tawar menawar itu yang paling seru. Ada yang pintar nawar sampai aku saja sedih mendengarnya. Maksudku kasihan penjualnya, yang kadang-kadang mau tidak mau terpaksa melepas dengan harga segitu. ”Daripado ndak bajuabali..”, begitu alasannya. Entah dapat untung mereka, entah tidak. Aku pun tak tahu. Sebegitu butuhnya mereka dapat duit. Untuk anak istrinya pasti.
Lalu, apa hebatnya? Begini kawan, saat berputar-putar disana, saat itulah salah satu momen kontemplasi diri yang paling hebat menurutku. Begitu membekas. Aku yang rasanya jauh lebih beruntung dari mereka, kadang jadi malu sendiri, kenapa sering lupa untuk bersyukur. Aku yang tak perlu bersusah payah banting tulang cari duit, karena disubsidi orang tua, masih sering merasa kurang dengan apa yang didapat. Sekolah bisa tinggi-tinggi, tapi masih juga belum merasa puas, masih juga mengira diberikan yang tak enak sama Tuhan. Jadi tahu bahwa banyak orang yang bernasib jauh lebih buruk dariku. Jadi tahu bahwa orang tua susah-susah cari uang, kita malah seenaknya hambur-hamburkan. Belanja ini belanja itu, tak tentu arah. Jadi tahu bahwa begitu banyak macam orang disekitarku. Berbagai macam karakter. Merasa kecil aku disana. Belum ada yang istimewa yang sudah aku lakukan hidup sepertinya. Orang-orang itu jauh lebih luarbiasa! Tak tersebut nama mereka,tapi,sekali lagi,mereka luar biasa.
Sumpah!berharga sekali momen itu! Lebih hebat mungkin daripada saat baru selesai menjalani training motivasi indoor.
Sekarang ini, jarang sekali pergi kesana. Sangat ingin merasakan lagi. Kawan yang berkesempatan, cobalah sekali-sekali.
Tapi, aku yakin, masing-masing kita punya cara sendiri-sendiri untuk berkontemplasi. Silakan, jika mau berbagi. Moga bisa jadi inspirasi untuk yang lain.
Kopiku habis. Tinggal ampasnya.
Maret 2011